Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Ngeselin


__ADS_3

Aku mengejar Azam dengan cukup mudah, jangan remehkan kemampuanku dalam berlari. Sebagai anggota ekskul voli, tentu aku sering melakukan lari untuk pemanasan. Jadi aku bisa mengejar Azam dalam waktu singkat.


"Kita gak pemanasan dulu, nih?" tanyaku sambil menatap ke arah kiri. Di sana ada tembok besar dengan gambar-gambar lucu di atasnya. Semacam grafiti, mungkin? Setahuku di sepanjang tembok itu sering di jadikan spot foto untuk orang-orang yang datang ke sini.


"Hm," balas Azam singkat, padat, dan tidak jelas. Apa maksudya coba? Dia membenarkan atau tidak? Jadi kami akan lanjut lari begini tanpa pemanasan atau bagaimana? Ih, gak jelas banget, sih!


Untung sayang, kalau enggak udah aku getok kepalanya. Kenapa dia harus bersikap semenyebalkan ini di kencan pertama kami, sih? Rasanya aku pengen nangis sambil guling-guling di jalan.


Aku pun hanya diam dan mengikuti gerakannya, mencoba untuk terus berada di sisinya. Kalau ini cerita novel, Azam seharusnya sudah melambatkan lari, menikmati jogging ini bersama sambil sesekali bercanda bersamaku. Karena di novel, orang yang disebut dingin kayak kutub es pun bisa bertingkah manis dan romantis pada pacarnya.

__ADS_1


Aku melirik ke samping, wajah Azam terlihat semakin menawan dari jarak sedekat ini. Raut mukanya yang serius menatap ke depan, bulir-bulir keringat yang jatuh dari dahinya. Aw, seksi. Aku jadi pengen ngelap keringatnya!


Aku menggelengkan kepala, astaghfirullah. Apa yang kamu pikirkan, Ina? Bukan muhrim!


Tapi, ini Azam beneran gak niat buat ngajak aku ngobrol gitu? Masa pacarnya didiemin terus begini? Aku berasa lagi jogging bareng patung!


Kalau dia beneran ngajak kencan, seharusnya jangan bikin aku kesel kayak gini. Lagipula kita kan sedang jogging santai, bukan pemanasan buat voli. Tahu gini, aku mending lari sendirian aja. Apa bedanya coba aku pergi sendiri sama bareng Azam? Sama-sama berasa jomblo, kok! Cih!


Kok aku ditinggal lagi, sih?! Pacar macam apa dia? Kenapa dia gak tenggelam di laut Antartika aja, sih?

__ADS_1


Akhirnya, setelah berlari lima keliling, aku memutuskan untuk berhenti saja. Capek! Lagipula Azam tidak berlari bersamaku, aku sudah berusaha mengejar, tapi dia entah ada di mana. Membuatku kesal saja. Kalau tahu akan begini, mending gak usah kencan aja sekalian.


Aku menyelonjorkan kaki, menikmati semilir angin. Untunglah aku berhenti di sini, tempatnya cukup sepi, walau terkadang ada beberapa orang yang lewat sambil berlari. Ya, sekarang sudah siang. Jadi banyak yang sudah datang.


Setelah lima belas menit berdiam diri menikmati suasana, aku mengeluarkan ponsel dan memutuskan untuk berselfie ria saja. Aku ingin menyuruh Ayu ke sini daripada gabut harus sendirian. Lagian Azam juga kayak gak niat kencan gitu. Bikin males.


Aku berselfie dengan berbagai gaya, mengangkat dua jari, tiga jari, empat jari, lima jari, dan satu jari. Aku juga memakai berbagai ekspresi, so imut, senyum manis manja, nyengir, sampai ekspresi jelek. Setelah selesai, aku melihat-lihat hasil jepretanku tadi.


Hm, fotonya banyak sekali, tapi yang bagus cuma beberapa. Cewek mah gitu, ngambil fotonya bisa ratusan, yang kepake paling cuma sepuluh foto doang. Mana kadang kalau di upload ke internet, dijadikan snap misalnya, wajahnya ditutupi pakai stiker pula. Biar apa coba? Mending gak usah diupload aja, lah.

__ADS_1


Belum selesai aku memilih foto, seseorang datang dan menyerahkan satu botol air mineral ke depan mataku. Ah, mengagetkan saja. Alih-alih mengambilnya, aku lebih memilih untuk melihat siapa pemberinya.


Seketika jantungku berjoget alay, duh malu-maluin banget ini. Ternyata Azam masih peduli juga toh sama aku. Dia masih ingat kalau sedang jalan bersama pacarnya. Cih, ke mana saja dia tadi? Kenapa dia gak mati kelindes gerobak cilok aja sekalian? Ngeselin!


__ADS_2