
Ina merasa bosan, sudah tiga hari ia tidak masuk sekolah. Sekarang demamnya sudah turun, pusingnya pun sudah berkurang. Besok sepertinya ia sudah bisa masuk ke sekolah.
Selama sakit, Ina tidur di kamar Teh Ani karena kedua adiknya pasti berisik. Kamar Ani berlatar biru muda dengan sebagaian besar perabotannya berwarna putih. Katanya sih, Ani mengambil tema lautan di siang hari. Ina tidak terlalu peduli karena baginya kamar hanya sebuah tempat untuk tidur.
Ina bangkit, berjalan melewati lemari besar berisi pakaian Ani serta berbagai foto berukuran 1 R yang dijepit pada lampu tumbler di dinding di sampingnya menuju pintu kayu dengan beberapa baju menggantung di sana. Ia bosan dan berniat untuk menonton televisi, berharap ada tontonan yang menarik selain ftv atau acara gosip. Tapi jika tidak menemukan channel yang pas, ia berniat membongkar koleksi kaset berisi film yang sangat jarang ia tonton. Terutama film barat kesukaan Ani yang katanya sangat seru untuk ditonton sambil ngemil popcorn.
Sebelum keluar kamar, Ina mengambil ponselnya yang sudah di-charger sejak pagi. Ia ingin menonton sambil berkirim pesan dengan Azam. Hubungan keduanya memang mulai berjalan seperti pacaran normal setelah Ina sakit. Pipi gadis itu sedikit merona tak kala ingat kejadian tiga hari yang lalu saat Azam bertemu dengan mamanya.
"Ina? Kenapa di sini? Kok udah pulang?"
"Assalamu'alaikum, Bu, Ina sedang demam dan tidak kuat mengikuti pelajaran. Jadi dia diantar pulang."
__ADS_1
Mama Ina segera mengecek suhu anaknya, matanya menyiratkan khawatir. Ketika merasakan betapa panasnya tubuh Ina, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomel.
"Makanya, kan udah dibilangin, jangan main hujan-hujanan, dasar bocah. Demam begini kan tahu rasa."
Ina yang sedang pening hanya pasrah menerima omelan mamanya. Ia tidak terlalu peduli, yang ia inginkan sekarang hanya tidur untuk mengurangi pening di kepala.
"Ya udah, ayo masuk." Mama Ina mengalihkan perhatian pada Azam. "Eh, iya. Lupa. Waalaikumsalam. Kamu teman sekelasnya Ina? Ayo masuk dulu, biar saya siapin minum."
"Ah, terima kasih, Bu. Tidak usah repot-repot, saya akan kembali ke sekolah saja." Azam memasang senyum teduh yang mampu melemahkan pertahanan bukan hanya Ina, tapi juga mamanya. Tapi Ina sedikit tidak puas karena Azam menghindari menjawab siapa dirinya. Gadis itu pun kembali memejamkan mata dan bersikap seolah tidak peduli.
"Oh? Kok buru-buru sekali?"
__ADS_1
"Saya kelas XII, Bu. Takut tertinggal pelajaran."
"XII? Kamu bukan teman sekelasnya Ina?" Mama Ina mengernyitkan dahi bingung.
"Oh, bukan, Bu. Saya Pacarnya Ina. Nama saya Khairul Azam, biasanya dipangil Azam. Salam kenal, Bu."
Mama Ina menatap Ina yang sekarang malah pura-pura tidur, lalu kembali memperhatikan pemuda di hadapannya. Dalam hati ia memuji Ina karena berhasil mendapatkan cowok ganteng sebagai pacar, tingkahnya juga sopan. Padahal ia pikir Ina tidak akan berpacaran dulu karena selama ini gadis itu hanya akan guling-guling di kasur tanpa terlihat tertarik pada lawan jenis sedikit pun. Sekarang ia malah mengagetkannya dengan pulang diantar oleh cowok ganteng yang mengaku sebagai pacarnya.
Setelah membuat Mamanya Ina kaget, Azam pamit kembali ke sekolah tanpa merasa bersalah. Cowok itu tidak tahu saja kalau setelahnya Mama Ina bukannya merawat anak gadisnya yang sedang demam, tapi malah menginterogasinya habis-habisan.
Ina duduk di ruang tengah dengan berbekal satu toples berisi kue nastar. Ia menyalakan televisi, kemudian mengecek hapenya untuk melihat pesan dari Azam. Setelahnya, Ina malah fokus berbalas pesan dengan Azam dan melupakan tujuan awalnya untuk menonton film.
__ADS_1