
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa Ina sudah hampir tiga bulan berpacaran dengan Azam. Semuanya terasa seperti gado-gado, rasa senang, sedih, marah, dan terutama jengkel sudah Ina rasakan.
Sekarang, berkat didikan Ani beberapa minggu yang lalu, Ina sudah tidak malu-malu lagi dalam meminta sesuatu pada Azam. Ia juga sudah bisa bersikap tenang dan enggak sebucin awal mereka jadian. Terima kasih pada Ani atas bimbingannya. Ina sudah menjadi lebih berani dan enggak mudah merasa kesal lagi. Walau tentu saja perubahannya tidak sederastis itu, ia masih sering merasa tidak enak dan hanya berani meminta hal-hal kecil saja.
Dulu Ina selalu membayangkan kalau sudah punya pacar bakal ada yang ngucapin selamat pagi setiap hari. Biar enggak kelihatan ngenes banget dengan sengaja masuk ke minimarket cuma buat dapet sapaan selamat pagi. Tapi setelah berpacaran dengan Azam, Ina tidak berharap lagi. Semua bayangan indah akan pacaran romantis sudah sirna. Cowoknya itu sama sekali enggak romantis, enggak peka, dan bisanya hanya membuat Ina gigit jari saja saking kesalnya.
Seperti saat ini, Ina sedang rebahan di sofa ruang tamu. Keluarganya yang lain sedang keluar, ia tidak ikut karena malas dan terutama belum mengerjakan tugas. Tapi sekarang tugasnya sudah selesai, ia jadi kesepian. Jam di dinding baru menujukkan pukul enam sore, masih lama untuk keluarganya kembali.
Ina mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, jarinya dengan lincah segera membuka aplikasi WhatsApp. Tidak ada pesan baru dari Azam, tapi ternyata cowok itu sedang online.
Azam lagi ngapain, ya? Apa jangan-jangan lagi berkirim pesan sama cewek lain?
Tidak, tidak. Ina menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh berburuk sangka. Daripada penasaran lebih baik ia tanyakan saja.
"Lagi apa?"
Tak berselang lama pesan Ina pun dibalas.
"Lagi main bareng temen, tapi mereka pada asyik sendiri."
__ADS_1
Ina menautkan alis, padahal ia berharap jawaban cowok itu adalah sedang memikirkannya. Tapi ia sadar diri Azam tidak mungkin mengatakan hal semanis itu.
"Oke kalo gitu, selamat bersenang-senang. Jangan lupa sholat."
Ina jadi ingin menelpon Azam, rasanya selama berpacaran mereka belum pernah telponan. Sungguh ngenes sekali nasib Ina. Tapi ia tahu sekarang bukan saatnya teleponan, terutama ketika Azam sedang bersama teman-temannya. Yang ada nanti cowoknya itu bakal jadi bahan ledekan habis-habisan.
"Oke, kamu mau ke mana memang? Sibuk?"
Ina kembali menautkan alis karena tidak mengerti isi pesan Azam. Ia kembali membaca pesan yang ia kirim, tapi masih tidak mengerti apa maksud cowoknya itu.
"Enggak, aku lagi rebahan, gak ada orang di rumah soalnya."
Ina mengerjap sebentar setelah pesan itu terkirim, kenapa ia seperti sedang memberi kode pada Azam supaya datang ke rumahnya? Apa cowok itu bakal peka dan salah sangka?
Oy, oy, oy. Ina ingin menjerit, apa maksudnya ini? Alih-alih peka, cowok itu malah menakut-nakutinya. Ia jadi penasaran apa isi kepala Azam, sepertinya sangat jauh berbeda dengan isi kepala orang normal.
Kruyuk.
Ina memegang perutnya sembari meringis, ia baru ingat belum makan dari siang. Tapi Ina malas keluar untuk beli, di rumahnya tidak ada makanan apa-apa.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Ina ingat ajaran Teh Ani, dulu tetehnya itu sering memberi kode pada pacarnya. Saat zaman masih pakai BBM, kalau lagi ingin sesuatu Teh Ani akan menulisnya. Misal ia ingin martabak, Teh Ani bakal bilang begini:
Duh, martabak malem-malem gini kayaknya enak, ya.
Gitu doang, tapi pacarnya bakal datang setengah jam kemudian sambil menenteng martabak. Ina jadi ingin merasakannya juga, dibeliin sesuatu sama pacar.
Ina ingin memberi kode pada Azam, tapi cukup Azam aja yang tahu, jadi dia mengubah privasi status di WhatsAppnya menjadi hanya Azam.
Laper, tapi males beli. Andai ada pintu doraemon 😣😣😣
Ina menunggu, terus berharap Azam akan membacanya, tapi sampai setengah jam kemudian, cowoknya itu belum membaca statusnya. Padahal mereka terus berkirim pesan.
Terlanjur lapar, Ina memilih bangkit dan mencari makan saja. Ia tidak ingin mati kelaparan ketika mamanya pulang nanti.
Ina memilih pergi ke warung nasi pinggir jalan milik Mang Odo, selain enak, di sana porsinya juga banyak, Ina pasti kenyang. Terlebih nasi TO-nya yang sangat lezat, membuat Ina ingin segera sampai dan memesan.
Setalah Ina memesan satu piring nasi TO, barulah Azam melihat statusnya, cowok itu juga membalas.
"Buruan makan, nanti sakit. Kalau sakit gak bisa sekolah, nanti kita ga ketemu, dong."
__ADS_1
Ina segera mematikan datanya, lalu menyimpan ponsel ke saku celana.
"Bodo amat, Zam, terserah kamu aja. Dasar gak peka!"