
Azam memandang malas teman-teman sekelasnya, sejak satu minggu yang lalu mereka enggak pernah bosan membicarakan ia dan Ina. Topik ini menjadi favorit mereka, bahkan mereka sampai taruhan hal apa lagi yang akan mereka lakukan supaya Ina bisa putus darinya. Memang hanya bercandaan, tapi lama-lama Azam kesal juga.
"Gimana kalau kita kasih dia martabak? Aku berani bertaruh, Si Azam pasti belum pernah ngasih pacarnya martabak."
"Yah, lihat saja wajahnya, dia gak ada kelihatan sebagai cowok romantis sedikit pun."
"Tunggu, apa martabak gak terlalu murah? Nanti kalau si Azam niru ide kita dan malah makin dekat sama Ina gimana?"
Diskusi pun berlanjut dengan seru seolah orang yang mereka bicarakan tidak ada di sana. Azam hanya mendengkus, ia tidak tahu teman-temannya itu sedang ghibah, menyindir, bercanda, atau menyuruhnya melakukan hal yang mereka bicarakan? Ia tidak mengerti dan terlalu malas untuk mengerti.
__ADS_1
Biasanya di saat seperti ini, ia lebih memilih untuk berkirim pesan dengan Ina. Biarkan teman-temannya berkicau, toh ia yakin Ina enggak akan pernah berpaling darinya. Terlalu percaya diri? Azam rasa tidak, ia tahu gadis itu sudah mengejarnya sejak kelas X, ia juga tahu gadis itu seringkali mencoba untuk move on, tapi lihat saja hasilnya, sekarang dia masih tetap dengan rasanya. Mungkin hal ini yang membuat hati Azam mencair walau hanya secuil.
Iya, walau sudah ia umumkan, bukan berarti ia cinta juga dengan Ina bukan? Laki-laki memilih berpacaran bukan hanya karena cinta, bisa saja karena ego mereka. Ego untuk memiliki pacar cantik, ego untuk memiliki pacar seorang gadis populer, dan dalam kasus Azam, dia berpacaran dengan Ina untuk memuaskan egonya yang merasa bosan akan kehidupan. Gadis itu berhasil membuat hari-hari membosankannya jadi lebih berwarna.
"Apaan? Di dunia ini gak ada yang lebih enak dari bakso! Bakso is the best! Makanan no. 1 di dunia!"
Azam tersenyum kecil saat membaca balasan Ina, mereka sedang membahas makanan kesukaan mereka. Azam dengan sengaja merendahkan selera Ina untuk membuatnya kesal.
Azam membayangkan gadis itu pasti sedang manyun atau mencubit lengan teman-temannya. Tanpa sadar ia mulai tersenyum lebih lebar.
__ADS_1
"Itu, itu, lihat! Fenomena alam! Si Azam senyum! Pegang dia, sepertinya dia kesurupan. Ayo cepat, biar aku ruqyah!"
Teman-teman Azam segera memegang kedua tangannya, tidak membiarkan ia kabur. Azam hanya bisa memaki mereka dalam hati karena selalu bercanda setiap ada kesempatan.
Cowok itu berlari ke dalam kelas, Azam yakin dia mengambil satu bungkus garam bekas praktikum Plasmolisis kelas sebelah untuk dihambur-hamburkan.
Benar saja, cowok tadi keluar kelas sambil membawa satu bungkus garam, dan entah dari mana dia mendapat topi berwarna pink ngejreng yang sekarang nangkring di kepalanya. Cowok itu menuangkan garam ke genggaman tangannya, lalu mulai mendekati Azam. Ia berkomat-kamit entah mengucapkan apa, tapi beberapa saat kemudia ia melempar garam sedikit demi sedikit ke arah Azam.
Kurang asem!
__ADS_1
Awas saja nanti, Azam akan balas dendam!
Azam harus rela dikerjai teman-temannya selama kurang lebih lima menit. Ia hanya bisa pasrah karena dikawal oleh dua temannya yang punya kekuatan luar biasa. Tetapi ia jadi berpikir, ia benar-benar rindu bisa bercanda bersama teman-temannya seperti ini. Ternyata memang tidak ada yang lebih menyenangkan dari punya teman-teman yang gila. Ia jadi kangen pada teman-teman SMP-nya dulu.