
"Minta dicekik, ya?!"
Argh! Ina benar-benar tidak tahan dengan kelakuan Azam. Menjawab singkat menyebalkan, tetapi ternyata menjawab panjang lebar cowok itu malah lebih menyebalkan. Ingin rasanya Ina membongkar otak Azam dan melihat apa yang ada di sana. Kok bisa itu cowok ngeselinnya sampai tingkatan eksosfer begitu?
"Lah, kenapa kamu malah mau KDRT? Kita belum sah, loh."
"BODO AMAT!"
Apa kepala Azam terjedot sesuatu? Kenapa kelakuannya berbeda sekali dari biasanya? Ina jadi curiga yang membalas pesannya bukan Azam, tapi orang lain. Atau apa mungkin cowok itu kerasukan? Tapi makhluk macam apa yang jalan-jalan di Sore Sabtu seperti sekarang? Jin jomlo? Atau jin kurang belaian? Ih, amit-amit. Kok serem, sih?!
Kelakuan Azam memang terlalu luar biasa, tentu saja dalam hal lebih buruk. Membuat orang lain darah tinggi saja.
__ADS_1
"Ini siapa? Pasti bukan Azam, kan? Jangan nge-prank, deh! Gak lucu!"
Ina mulai marah-marah, pada Azam saja ia sudah berkomitmen untuk mengungkapkan semua hal yang ia rasakan, apalagi pada orang lain, lebih baik ia ledakkan saja seluruh lava dalam hatinya. Lumayan bisa mengurangi tingkat esmosi yang semakin tidak stabil setelah gadis yang mengaku cantik padahal sebenarnya imut itu memutuskan untuk memacari cinta pertamanya hanya karena terpengaruh novel yang ia baca, berpacaran dengan cowok cool boy yang bucin akut pangkat sepuluh.
"Kamu pikir aku siapa, masa sama pacar sendiri enggak kenal?"
Emosi Ina memuncak menjadi level maksimal. Siapa sih orang yang sedang membajak ponsel pacarnya ini? Masih zaman main bajak-bajakan? Sawah kali ah dibajak.
"Plis, ya. Aku kenal Azam, dia gak mungkin ngechatt panjang lebar begini, paling juga cuma O atau Y doang. Walau nyebelin, tapi kamu lebih nyebelin. Siapa sih, kamu? A Akbar? Temennya Azam yang lain? Tunggu, emang dia punya? Aku gak yakin. Saudaranya Azam? Sepupu? Paman? Bapak? Atau kakeknya? Ah, sebodo amat! Intinya balikin hp Azam ke pemiliknya! Jangan bikin aku tambah sensi!"
Ina melempar ponsel pintarnya ke sofa sembarangan, wajahnya memerah menahan amarah. Tangan ia lipat di depan dada, bibirnya maju lima senti, dan jika ini di film kartun, mungkin sudah tumbuh dua tanduk di kepalanya, serta banyak asap keluar dari hidung mini dan telinganya.
__ADS_1
"Kenapa kamu? Udah badan bau asem, sekarang juga wajah asem banget. Sana mandi, biar segar!"
Ina melayangkan tatapan tajam pada sang kakak yang ia harap bisa membuatnya bisa sedikit merasa terintimidasi. Namun, tentu saja gagal. Mana ada Ani merasa terintimidasi oleh tatapan yang sudah ia lihat selama 17 tahun adiknya hidup tersebut.
Memang salah siapa ia jadi harus menunggu lama untuk giliran mandi? Kakaknya ini menambah beban emosi saja.
Akhirnya sambil mengentakkan kaki beberapa kali ke lantai, gadis yang sekarang duduk di kelas XI itu mengalah. Mengambil tas dan beranjak menuju kamar.
Setelah membawa handuk dan baju ganti, Ina kembali berpapasan dengan kakaknya yang entah habis melakukan apa di toilet. Mungkin ada barangnya yang ketinggalan? Ina mengangkat bahu tidak peduli. Ia sudah terlanjur bad mood karen pesan dari nomor Azam, gadis itu tidak ingin menambah puyeng kepala dengan mengurusi kelakuan Ani.
"Mandi yang bersih," perintah Ani seraya menepuk pundah Ina keras, ekspresi wajahnya penuh dengan keprihatinan yang membuat sang adik semakin naik darah.
__ADS_1
"BODO AMAT!" teriak Ina sebelum masuk ke dalam toilet dan membanting pintunya keras.