
Seperti dugaan Ina, teman-teman cowok satu kelasnya benar-benar sengaja datang telat. Tetap saja anak-anak cewek yang jadi korban. Mereka sibuk membagi tugas, Ina mencari aman dengan memilih menjadi pembaca Undang-Undang. Beberapa sisanya meminta pengurus OSIS untuk menutupi kekurangan orang.
Meskipun orang di kelas mereka lebih dari dua puluh, anak ceweknya enggak semua bertanggung jawab juga. Terlihat dari hanya beberapa saja yang mau jadi petugas upacara. Sisanya pada ngumpet di barisan paduan suara.
Entah apa yang ada di otak mereka, kenapa segitu enggak maunya cuma jadi petugas upacara? Padahal gak bakal ada yang gigit ini.
"Na, kamu jadi pengibar bendera, ya! Pengurus OSIS cuma mau bantu beberapa aja. Katanya pengibar bendera harus sama anggota kelasnya."
Ina menegang sejenak, kemudian mengangguk pasrah. Ia tidak ingin ada perdebatan lagi di beberapa menit sebelum upacara di mulai. Toh ia sudah sering menjadi pengibar bendera sejak SD.
Ina dan teman-temannya datang cukup siang, mereka tadinya berniat bersantai karena hanya bertugas menjadi paduan suara, siapa sangka anak-anak cowok itu minta ditendang bokongnya. Mereka serempak datang terlambat. Bagian begini saja mereka kompaknya kebangetan. Dasar pengkhianat!
Apa sebegitu takutnya mereka jadi petugas upacara? Heran.
__ADS_1
Ina segera memberikan bacaan Undang-Undang Dasar 1945 kepada salah satu pengurus OSIS, lalu segera menghampiri Ayu dan Sopa yang juga bertugas menjadi pengibar bendera.
"Kamu mau di sebelah mana?" tanya Sopa tanpa menoleh, dia dan Ayu sedang fokus melipat bendera merah putih.
"Di mana aja deh, kalian sebelah mana?"
"Aku di tengah aja deh," ujar Ayu yang tumben pagi ini cukup kalem.
"Aku di kiri kalau begitu."
Karena keterbatasan waktu, mereka hanya latihan satu kali. Itu pun guru-guru sudah pada melotot karena terlalu ngaret. Gadis itu sendiri tidak akan heran jika upacara bendera hari Senin sekarang tidak akan terlalu bagus. Persiapannya benar-benar kurang.
Entah kenapa Ina merasa tidak nyaman. Bukan karena gugup atau apa. Tapi perasaan lain. Seperti ada banyak pasang mata yang melotot tajam ke arahnya. Tapi gadis itu tidak merasa melakukan apa-apa yang bisa menarik perhatian. Seminggu kemarin dia hanya fokus membaca novel online karena marah pada Azam. Hari Minggu kemarin apalagi, dia tidur hampir seharian. Berkirim pesan bersama sang pacar pun hanya sebentar semalam karena terus direcoki permintaan maaf dari tetehnya, Ani.
__ADS_1
"Yu, ini cuma perasaanku aja atau emang banyak orang yang merhatiin aku?"
Ayu mengedarkan pandang, gadis itu bisa melihat memang ada cukup banyak yang memperhatikan Ina, terutama anak-anak cowok kelas XII yang berkerumun di dekat Azam.
"Hm, mungkin mereka heran kenapa ada anak tuyul macam kamu jadi petugas upacara."
"Woy!" Ina sudah bersiap untuk mengamuk, tapi ia tahan karena protokol sudah mulai membuka upacara.
Gadis itu hanya berharap semoga hari ini bisa berjalan dengan tenang dan tatapan tajam yang menghujaninya hanya sekadar ilusi. Ia ingin menyimpan tenaga untuk memarahi anak-anak cowok yang dengan seenak udelnya berkhianat. Mereka benar-benar perlu diberi pelajaran. Apa satu pukulan di kepala cukup untuk mengajari mereka? Atau ia harus memberikan lebih banyak?
Ina mendengkus kesal. Ia mengedarkan pandang, berharap bisa menemukan salah satu dari anak cowok di kelasnya yang siapa tahu saja bersembunyi di barisan angkatan lain. Tapi nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang tertangkap matanya. Alih-alih ia malah bertatapan dengan Azam yang tumben hari ini berdiri di barisan depan.
Ina hampir terserang jantung ketika melihat cowok itu mengangkat sudut mulutnya menyapa.
__ADS_1
Demi apa Azam tersenyum padanya di depan umum? Ini pasti mimpi! Ina hanya mampu bergidik ngeri ketika bulu kuduknya hampir berdiri semua karena merasa tatapan yang menghujaninya semakin tajam dan banyak.
Ada apa sebenarnya?