Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
(Bukan) Mojok


__ADS_3

"Aku kembali ke kelas dulu, terima kasih sudah membawakan obat titipan Ayu." Aku tersenyum walau dia tidak melihatnya. Biarlah, aku tidak peduli. Aku sudah cukup senang dengan kenyataan sakit perutku sudah berkurang. Jadi tidak perlu bolak-balik ke toilet lagi.


Lebih baik tidak usah pedulikan cowok kampret semacam pacar menyebalkanku ini, dia hanya akan membuat suasana hati jelek. Saat sudah melangkah tiga langkah, cowok itu bersuara.


"Sudah mendingan?" tanyanya datar. Entah karena peduli atau hanya sekadar basa basi.


Aku mengedik, menjawab santai, "Sudah. Aku ke kelas dulu, duluan."


Aku tidak membalikkan badan sama sekali, tidak meliriknya lagi. Walau hati ingin tetap di sana, menikmati waktu berdua yang sangat langka, tapi sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi. Aku yakin Azam tidak akan suka jika ada yang memergoki kami berduaan di sana. Lagipula dia sudah membuatku kesal. Aku malas berdekatan dengannya. Masa bodoh dengan mojok di sekolah.

__ADS_1


Aku sering dengar kata mojok di sekolah, tapi aku enggak tahu kalau mojok itu ngapain aja? Aku yakin bukan yang seperti aku dan Azam lakukan. Kami hanya saling diam dan asik dengan pikiran masing-masing. Aku juga tidak ingin menyebutnya mojok, karena apa? Tidak elit sekali mojok di depan toilet. Iwyuh.


"Balas pesan." Suaranya kembali terdengar kala aku hendak berbelok ke koridor, aku berhenti sebentar, lalu lanjut berjalan. Otakku bertanya-tanya, apa yang dia maksud dengan pesan? Apa dia mengirimiku pesan? Aku jadi penasaran.


Karena penasaran, aku mempercepat langkah, ingin segera kembali ke kelas untuk mengambil ponsel. Apa sebenarnya yang dia kirim? Aku sama sekali tidak ada bayangan. Menanyakan tentang aku yang terkena diare? Kami kan sudah bertemu. Mengajak kencan? Kan aku yang ngajak.


***


Ayu dan teman-teman yang lain sibuk membahas tugas yang tadi diberikan. Membuatku kesal karena mereka sengaja meledekku secara tidak langsung. Membiarkanku seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa dalam pembicaran orang dewasa.

__ADS_1


Kami duduk melingkar, memakan nasi yang dibawa Leli bersama-sama. Begitulah, yang membawa nasi siapa yang makan siapa. Biasanya yang enggak bawa nasi kebagian beli temannya nasi dari kantin. Boleh gorengan, mendoan, kerupuk, atau apapun yang enak dimakan bareng nasi.


Kali ini aku tidak ikut makan, selain karena tidak terlalu berselera karena tidak enak perut, aku juga masih cukup kenyang dengan roti yang tadi dibawa Azam. Ah, berbicara tentang roti, aku harus segera berterima kasih pada Ayu sebelum lupa.


"Yu," panggilku membuat bukan hanya yang dipanggil yang menoleh, tapi semua yang sedang makan. Menyebalkan sekali mereka, aku diacuhkan sedari tadi.


"Kenapa, Na? Eh, kamu udah mendingan?" tanyanya seakan baru ingat aku ada di sini dan sedang sakit.


"Lumayan," balasku sambil mengangguk. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih, gadis itu sudah mulai menyerocos, membuatku hanya bisa meringis karena dia tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

__ADS_1


__ADS_2