Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#20


__ADS_3

"Haish! Kampret!" Ina masih mengutuk kejadian menyedihkan yang baru saja ia alami, tatapan setajam pedang Excalibur milik Kirito ia layangkan pada sang adik yang kini sedang cengengesan bersama kakak paling menyebalkan sedunia. Ingin sekali gadis itu menyumpal mulut kedua saudaranya dengan sambal seblak level 7 buatan Ceu Enoh di MM. Apalah daya saat yang bisa ia lakukan hanyalah mengurut pinggang yang terasa remuk redam bak habis tertimpa sebongkah beton.


"Puas banget ya kalian bikin aku sakit gini!" omelnya sambil mendudukkan diri di atas sofa empuk yang baru dibeli sang ayah dua tahun lalu. "Ganggu mimpi indah aku aja," lanjutnya semakin kesal.


Ani masih cekikikan, tapi segera berjalan mendekat sambil menggendong Ana di tangan kanan kala menyadari adik yang baru merasakan cinta pertama itu tidak berniat untuk membalas dendam. Namun, walau melihat raut kesakitan gadis berseragam cokelat yang sekarang sudah awut-awutan karena digunakan untuk tidur itu sekalipun, ia tidak merasa bersalah. Karena memang sudah terbiasa menjahili adik yang hanya terpaut tiga tahun lebih muda darinya.


"Mimpi apa memang kamu?" tanyanya sembari ikut duduk di samping Ina, juga mendudukkan Ana di sampingnya. "Aku tebak kamu enggak mimpi yang mantap-mantap, kan?" tanyanya iseng.

__ADS_1


Ya, siapa tahu aja kan adiknya itu habis bermimpi makan malam romantis di pinggir pantai dengan bercahayakan api dari lilin yang dibentuk menyerupai hati, bukankah itu sangat mantap? Walau Ani yakin itu tidak mungkin.


Ina mengerutkan kening, mencoba mengingat apa ia memang mimpi indah barusan? Tapi tidak ada satu pun bayangan indah yang tergambar jelas dalam benaknya. Padahal tadi pas baru bangun ia ingat, tapi sekarang malah lupa. Sudahlah, masa bodoh. Gadis itu menggelengkan kepala tidak peduli, ia hanya peduli pada tulang-tulangnya yang terasa teramat sakit. Setelah tadi berpanas-panas ria di lapangan, sekarang ia malah harus berpegal-pegal ria karena pinggangnya diditindih Ana berkali-kali. Sungguh sial.


"Teteh tumben hari Sabtu jam segini udah pulang," tanya Ina basa-basi. Ia sudah tahu jawabannya, paling karena tetehnya itu kabur dan membiarkan cowok yang menyukainya untuk membereskan bagiannya.


Ani memang sejahat itu! Padahal sudah punya pacar ganteng, tapi tidak pernah melewatkan memanfaatkan orang yang jatuh hati padanya. Awas aja kalau kena karma, Ina bakal ketawa puas sambil bilang, "Syukurin!"

__ADS_1


Dasar kmvrt!


Mengingat pacarnya, Ina jadi ingat dia belum melepaskan blokirannya pada Azam. Segera saja gadis itu mencari letak tas yang ternyata teronggok cantik di atas meja. Tanpa babibu lagi ia segera mengambil ponsel pintarnya, lalu mengutak-atiknya sebentar, menghapus nomor Azam dari daftar hitamnya.


Setelah terhapus, ia lekas mengirim pesan untuk mengabari sang pacar. Mengabaikan tetehnya yang saat ini sedang menatapnya intens. Ha! Pasti keponya kumat!


"Siapa tuh yang kamu hubungi? Semangat banget," ujar Ani sambil mencoba mengintip layar persegi milik sang adik.

__ADS_1


Ina segera menjauhkan ponselnya, menyembunyikan benda berwarna hitam itu di belakang tubuhnya yang kini menghadap sang teteh. "Kepo banget, sih, Teh!"


Ani nyengir lebar, memamerkan deretan gigi putih terawat hasil sikat gigi tiga kali sehari menggunakan pasta gigi merek Confident, membuatnya benar-benar cocok menjadi seorang bintang iklan. Lalu sebuah kalimat menyebalkan meluncur mulus tanpa saringan KPI dari bibir cherry-nya. "Gak kepo gak idup!"


__ADS_2