
"Nyari siapa?" tanya gadis itu terdengar tidak terlalu bersahabat saat sudah sampai di hadapan Azam. Wajahnya juga tidak menampilkan senyum. Jelas karena kekesalannya belum menghilang sedikit pun. Ditambah saat melihat wajah Azam yang terlihat baik-baik saja dan seperti tidak mempunyai masalah membuat emosi Ina kembali membuncah.
Azam hanya menggerakan dagu untuk menunjuk Ina, lalu diam untuk mengamati sang pacar yang sudah beberapa hari tidak berkomunikasi dengannya. Entah ini hanya perasaanya saja atau bagaimana, tapi Ina terlihat lebih manis dari saat terakhir ia melihatnya. Kemarin.
Mengerti maksud gerakan Azam, Ina mengernyitkan dahi heran. Cowok itu menghampirinya sungguh kejadian tidak biasa, mana di tempat umum pula. "Kenapa?"
Azam menatap sekelilingnya sebentar, mereka jadi pusat perhatian dan Azam tidak suka suasana seperti ini. "Pindah," ujarnya ambigu.
Ina kembali mengernyitkan kening. "Kamu mau pindah? Pindah sekolah maksudnya? Emang bisa? Bentar lagi kan UN, mana ada sekolah yang mau nerima."
Azam ingin mencubit pipi Ina gemas, pikiran gadis itu melantur terlalu jauh. Sadar ini karena kesalahannya sendiri, Azam hanya mambalikkan badan dan memberi Ina kode untuk mengikutinya.
Ina yang masih bingung dengan berita kepindahan Azam hanya mengekori cowok itu tanpa banyak bertanya. Apa Azam akan mengungkapkan salam perpisahan? Kenapa pula cowok itu mau pindah di pertengahan semester seperti sekarang? Lalu bagaimana nasib hubungan mereka? Apa Azam akan memutuskannya?
__ADS_1
Ina menggigit bibir bawahnya gelisah, dia belum melakukan apa-apa bersama Azam masa sudah mau putus aja, sih? Ia masih ingin mengukir kenangan romantis bersama cinta pertamanya.
Ina menghentikan langkah saat menyadari ada banyak suara langkah kaki di belakangnya, gadis itu membalikkan badan demi melihat hampir semua teman-teman sekelasnya mengikutinya. Apa-apaan?!
"Heh, ngapain kalian? Sana balik latihan!" usir Ina kesal.
Soni segera angkat suara, "Dih, kita itu cuma mau memastikan kalau kalian enggak ngelakuin hal-hal aneh tahu!"
Leli segera menimpali, "Iya, Na, kamu kan tahu sendiri kalau ada cewek sama cowok berduaan yang ketiganya itu setan."
"Kampret!" Teman-teman Ina mulai mendumel tidak jelas. Mereka menatap gadis itu sebal.
"Ina mau mojok untuk pertama kalinya jadi sombong banget, ya!"
__ADS_1
"Iya, padahal maksud kita kan baik."
"Pecat aja dia dari kelas XI MIA 1!"
Ina jadi bertambah kesal mendengar celotehan teman-teman sekelasnya yang susah sekali untuk menyenangkan orang. Memangnya sebodoh apa ia sampai bisa tidak mengetahui maksud mereka? Paling juga cuma kepo sama yang Ina dan Azam bicarakan, lalu menyebarkannya menjadi gosip keesokan harinya. Memang dasar kurang kerjaan!
"Son, kamu kan ketua kelas, jangan malah ikut-ikutan, deh! Sana latihan lagi, lihat tuh anak OSIS udah pada mulai kesel." Ina mencoba menjelaskan dengan lebih lembut, mencoba mengusir teman-temannya secara halus.
Tapi memang dasar bebal, Soni malah menjawab enteng, "Biarin ajalah, kalau perlu kita ajak juga mereka buat ngikutin kamu."
Ina menghentakkan kaki kesal, ia yakin jika para pengurus OSIS itu diajak pasti langsung pada setuju. Lihat saja wajah-wajah penasaran mereka, berita Azam menghampirinya pasti akan mereka gosipkan dengan teman-teman terdekat. Lalu teman itu akan menggosipkannya lagi pada teman dekatnya yang lain. Begitu terus sampai berita ini menyebar ke seluruh sekolah.
"Udah ah sana! Emang kalian mau kalau lagi mojok diganggu juga?" sentak Ina terlanjur kesal.
__ADS_1
Teman-teman sekelas Ina saling berpandangan, lalu memutuskan untuk kembali berlatih. Bukan karena takut akan diganggu Ina jika sedang kencan, tapi karena mereka punya firasat jika Ina dan Azam memang sedang ada masalah dan perlu didiskusikan.