
Ina mengambil eskrim dari kulkas, kemudian bergabung bersama sepupu-sepupunya yang besok juga akan menjadi pagar ayu. Mereka sedang asyik membicarakan tentang pernikahan impian mereka.
"Aku jadi inget, dulu pas SMP sama SMA pasti selalu punya obrolan siapa yang bakal nikah duluan di antara kami, terus abis itu kita bahas impian pernikahan kita. Gimana pernikahan impian kalian?"
Ina hanya duduk sambil makan eskrim tanpa berniat bergabung dalam percakapan Rini dan Anis. Ia menganggap dirinya transparan dan tidak akan diajak masuk dalam percakapan dengan level tinggi itu.
"Aku dulu pengen banget punya pernikahan yang meriah, di stadion sepak bola kek, atau di gedung sate sekalian." Anis menjawab sambil tertawa geli. Sepertinya ia sadar impiannya itu konyol.
"Gila di stadion." Rini tertawa ngakak. "Apa juga itu gedung sate, bukannya itu gedung pemerintahan? Mana mungkin dipinjemin buat acara nikahan."
Anis menutup wajahnya dengan tangan, malu. "Ih, itu kan dulu waktu masih ****. Sekarang udah enggak."
"Terus sekarang gimana?"
"Setelah kena teror kapan nikah terus, aku berubah dari yang pengen pernikahan mewah ke sederhana aja. Akad di KUA, terus syukuran di rumah. Gak usah pakai undangan segala, yang penting semua tetangga tahu biar gak nyinyir terus."
Rini mengangguk mengerti. Ia juga tahu dan menyadari jika mulut tetangga memang benar-benar lebih tajam dari silet.
"Kenapa tetangga suka banget ngurusin hidup orang lain, sih? Aku dulu pas lulus sekolah juga yang tanyain bukan nilai UN berapa, tapi kapan nikah."
"Kalau udah nikah, yang ditanyain berubah jadi kapan punya anak. Lah, dikira bikin anak bisa semau kita, itu kan Tuhan yang ngatur." Lina, adik mama Ina yang paling kecil ikut nimbrung.
Ina hanya mengangguk setuju sambil menjilati es krimnya. Meskipun suasana mulai memanas, ia tidak peduli karena mulutnya cukup dingin untuk berbicara.
"Omongan tetangga emang gak ada matinya. Heran deh, gak bisa apa nanya hal-hal yang lebih berfaedah dikit." Rini merutuk sebal, ia jadi agak emosi karena sampai sekarang belum pernah punya pacar. Dirinya terlalu sibuk untuk bekerja sampai-sampai tidak punya waktu untuk nongkrong dan mencari gebetan.
"Tapi aku enggak setuju kalau pernikahan sesederhana itu, Nis. Seenggaknya, kita semua pasti berharap nikah itu cuma sekali. Jadi aku rasa merayakannya cukup bagus. Enggak usah terlalu mewah macam pernikahan artis, cukup kayak Ani gini aja." Lina menasihati sambil tangannya sibuk menyuapi anaknya yang rewel.
Anis cengengesan, kemudian mengganti sasaran pembicaraan pada Ina yang berlagak seolah menjadi patung pemakan es krim. Gadis itu benar-benar hanya numpang duduk, makan es krim, dan bernapas di sana. Tidak bersuara sama sekali.
"Na, gimana pernikahan impian kamu?"
Ina yang sedang fokus menjilati es krim berhenti seketika. Ia menatap Anis kaget sekaligus tidak mengerti, kenapa ia dimasukan dalam pembicaraan yang masih sangat jauh dari levelnya?
Ina menjauhkan es krim dari mulutnya, kemudian menjawab seolah semuanya sudah jelas. "Aku bahkan belum tujuh belas tahun, kenapa harus sibuk mikirin pernikahan?"
Rini tersenyum lebar, tangannya sibuk menepuk-nepuk kepala Ina.
"Bagus, lebih baik kamu belajar aja dulu yang bener."
Ina mengangguk saja, kemudian kembali sibuk menjilati es krimnya. Tapi Anis dan Lina tidak menyetujui pemikirannya.
"Seenggaknya, setiap cewek pasti pernah bahas masalah ginian sama temannya di sekolah. Masa kamu belum pernah mikirin hal ini sekali pun, sih? Apalagi, kudengar kamu udah punya pacar sekarang. Kamu gak pernah berandai-andai gimana jadinya kalau nikah sama dia gitu?"
Ina menggelengkan kepala polos. Ia belum pernah memikirkannya. Kepalanya sibuk memikirkan tugas yang datang silih berganti dan tukang seblak mana yang rasanya paling enak dengan teman-temannya. Dan soal Azam, ia benar-benar tidak ingin memikirkannya. Seingatnya, kepalanya berdenyut sakit ketika membayangkan kehidupan dengan Azam yang dulu masih irit ngobrol. Kalau sekarang dia benar-benar berubah menjadi menyebalkan. Apa ini karena stresnya menumpuk memikirkan ujian akhir yang semakin dekat? Masa bodoh, yang pasti ia tidak ingin memikirkannya.
Dalam hubungan mereka saja, Ina yang harus nembak duluan. Apa ia juga yang harus melamarnya nanti? Ina benar-benar tidak memikirkan keadaan di mana dirinya akan dilamar secara romantis oleh Azam.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal pacar kamu, Na, aku penasaran sama wajahnya. Kamu punya fotonya gak? Pengen lihat!"
__ADS_1
Ina kembali sibuk menjilati es krim, wajahnya berubah merah ketika ingat ia ketahuan saat ingin memotret Azam diam-diam. Ia pun memasukkan seluruh sisa es krim ke dalam mulutnya, kemudian membuang stiknya ke tong sampah. Mulutnya terasa sangat dingin, tapi ia tidak peduli.
Ina mengambil ponsel dari nakas, kemudian mulai mengirim pesan pada Azam.
"Besok jadi datang?"
Balasan datang tak lama kemudian.
"Jadi kayaknya, kenapa memang?"
"Enggak, padahal gak datang juga gak apa-apa. Bukannya kamu sibuk belajar?"
"Kenapa kamu gak pengen banget aku datang?"
"Soalnya kalau kamu datang pasti bakal diinterogasi sama sepupu-sepupu aku."
"Oh."
Ina membalikkan badan dan menatap Anis, Rini, dan Lina yang sedang memelototinya penuh penasaran sambil tersenyum.
"Katanya dia datang besok, jadi lihat saja wajah aslinya besok."
Anis mengerang. "Ah, padahal aku pengen lihat wajahnya."
Ina mengangkat bahu tidak peduli. "Aku gak punya fotonya, lagian dia lebih ganteng aslinya kok."
Anis, Rini, dan Lina saling memandang. Kemudian mereka menatap Ina heran.
"Kamu udah gede ya sekarang, Na. Enggak malu-malu muji pacar ganteng di depan umum." Ucapan Rini membuat Ina sadar dia sudah mengucapkan hal yang memalukan. Ia menunduk dengan wajah memerah. Ketika melihat layar ponsel, watanya membola saat membaca pesan baru dari Azam.
"Santai aja, mereka juga bakal jadi sepupuku nanti."
Ina terlalu kaget sampai-sampai ponselnya terlepas dari tangan dan menghantam lantai hingga batrainya terlepas.
"Kenapa, Na?" tanya Lina cemas.
Saat kesadarannya mulai kembali, Ina mulai mengutuk dengan keras. "Ah, sial! Ponselku!"
Ina mulai memungut satu per satu bagian ponselnya yang tercerai berai dengan linangan air mata. Hatinya terus berdoa agar ponsel itu tetap hidup. Jika tidak, alamat dia harus hidup tanpa ponsel nanti. Gimana cara dia menghubungi Azam kalau begitu.
Ina baru bisa menghela napas lega ketika ponselnya hidup kembali. Ia pun mulai mengirim pesan protes kepada Azam karena sudah membuatnya kaget.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
EXTRA
"Bar, temenin beli kado." Akbar yang sedang menonton tv kedatangan tamu tidak diundang.
"Kado buat siapa? Buat si Ina?"
__ADS_1
"Bukan. Tapi buat tetehnya."
Seolah baru ingat, Akbar hanya beroh ria.
"Oke, ayo. Aku juga mau beli."
"Kamu beneran datang juga ke pernikahan tetehnya Ina!"
"Iya, lumayan bisa makan makanan enak gratis."
Azam hanya mengangguk tidak peduli, ia sudah menduga alasan cowok itu datang pasti karena makanan.
Sesampainya di jalan HZ, mereka bingung mau beli apa.
"Bar, biasanya kalau yang nikah itu dikasih apa?"
Akbar mengerutkan kening, kemudian menjawab seolah sudah alami. "Bed cover."
Azam memutar bola mata malas. "Kemahalan. Yang lebih umum dan lebih murah?"
Akbar kembali berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jari saat ia ingat. "Mangkuk atau figura buat foto. Itu isi kado yang paling lumrah di sini. Aku ingat pas tetehku nikah, kebanyakan isi kadonya itu."
Azam mengerutkan kening seolah tidak setuju. Bukankah itu terlalu sederhana?
Mereka pun memutuskan untuk berkeliling di sepanjang jalan HZ untuk memcari isi kado yang menurut mereka sesuai. Dan setelah berjalan selama kurang lebih satu setengah jam, Azam memilih kerudung sebagai kado. Sementara Akbar membeli kaus kaki lucu yang harganya sepuluh ribu dapat tiga sebagai kado.
Akbar mengerutkan kening ketika sadar Azam membeli tempat air minum bergambar tikus.
"Ngapain beli itu? Bukannya kamu gak pernah bawa air minum ke sekolah?"
Azam menatap gambar tikus dengan saksama.
"Bukankah gambar ini ngingetin kamu sama Ina?"
"Hah?" Akbar hanya mampu menatap Azam tidak mengerti. Bagian mana dari Ina yang mirip tikus? Meskipun gambar tikus di sana lucu, tapi tetap saja itu gambar tikus!
"Dia kalau deket aku sering banget kabur, tapi kerjaannya mencuri tiap hari."
"Hah? Nyuri apaan si Ina? Dia kelihatan kayak anak baik, kok."
"Hati," jawab Azam sambil lalu. Cowok itu mulai melangkah untuk meninggalkan area HZ.
"Hati? Hati siapa yang dia curi?"
Hanya angin yang menjawab pertanyaan Akbar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note:
__ADS_1
Halo semua, masih adakah yang baca cerita ini? Maafin aku karena baru up setelah dua bulan, aku kehilangan inspirasi huaaaaa. Maaf juga kalau chapter ini kurang greget, aku masih berusaha buat balikin feel aku. Semoga kamu tetap bakal setia baca yaaaa.
Sampai jumpa di chapter berikutnya yang akan aku posting tanggal 1 Juli. Pernikahan Ani, yeay.