Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#24


__ADS_3

Wajah Ina kembali segar setelah ia selesai membersihkan badan, seluruh bau ketek dan keringatnya sudah mengucapkan salam perpisahan tadi ketika di toilet. Mereka memilih untuk pergi bersama busa-busa putih dan meninggalkan Ina sendiri.


Emosi gadis itu juga sudah lebih tenang. Sekarang ia siap untuk berleha-leha ria meluruskan punggung kembali di atas sofa. Oh, sungguh cara menghabiskan waktu yang menyenangkan di sore hari. Sungguh damai.


Tetapi bumi tidak pernah berputar sesuai keinginannya, ataupun berputar berpusat padanya daripada kepada matahari. Ia saja numpang hidup di bumi, songong banget sampai berharap membuat bumi bergerak sesuai kemauannya. Ia tidak seserakah itu, juga sangat amat tidak tertarik. Sekarang ia hanya ingin menikmati sore yang damai ini dengan rebahan dan membaca novel online.


Ya, keberuntungan Ina memang tidak cukup baik, alam seolah berkonspirasi, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang bagaikan petir menyambar pohon yang sudah hidup tenang selama ribuan tahun dan menghanguskannya. Sungguh tragis.


"Ina, sini bantuin Teteh masak! Kamu harus belajar masak!"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Ina segera membalas berteriak, "Ogah! Aku udah cantik gini habis mandi, masa harus ngacak-ngacak dapur, sih! Kurang kerjaan banget!"


Terdengar suara decakan kesal dari arah dapur, lalu penampakan seorang gadis yang tingginya hanya beberapa senti meter dari Ina muncul. Matanya melotot galak seolah akan keluar dari tempatnya, tangannya berkacak pinggang penuh arogansi.


Sialnya, Ina tidak bisa bergerak. Ia benar-benar terintimidasi oleh tatapan sang kakak. Ani kalau sedang marah benar-benar menakutkan!


Dengan langkah gontai penuh tekanan Ina berjalan menuju dapur, mau tidak mau harus mengikuti keinginan tetehnya. Kalau tidak, dijamin kupingnya bisa panas sampai besok malam mendengar omelan Ani.


"Cuci kangkungnya, terus nanti petikin daunnya," perintah Ani yang sudah mulai sibuk memotong-motong bawang merah.

__ADS_1


Ina segera melaksanakan perintah nona muda Ani, mencuci kangkung di wastafel dan memisahkan daun dan batangnya. Ia juga membuang daun-daun jelek yang terdapat bekas gigitan ulat. Ogah banget makan bekas hewan yang selalu berhasil membuatnya gatal-gatal setiap bertemu itu.


Sebenarnya kemampuan memasak Ina tidak sepayah cewek-cewek dalam novel yang bahkan enggak tahu mana bawang merah, sering dipaksa membantu memasak oleh Ani tentu membuat pengetahuannya mengalami kemajuan.


Ia tahu sebagian besar nama bumbu yang ada di dapur, seperti berbagai jenis bawang, ketumbar, merica, dan lain-lain. Ia juga tahu beberapa resep seperti menggoreng tahu dan tempe, cara membuat tumis kangkung, membuat sayur bening, dan beberapa resep lainnya.


Masalahnya, gadis itu sangat amat tidak pandai dalam menakar seberapa banyak garam, micin, atau penyedap rasa lainnya yang harus dimasukkan ke dalam masakan. Jadilah hasil masakannya seringkali tidak layak makan.


Kadang keasinan, terlalu manis, dan seringkali bumbu yang seharusnya menjadi penyedap malah berakhir gosong dan menghasilkan rasa yang sangat unik. Karena itu, kalau tidak didampingi oleh mamanya atau Ani, Ina jarang mau pergi ke dapur. Kecuali sangat mepet, lapar dan tidak ada makanan di rumah. Hal itu jarang terjadi, karena pasti minimal selalu ada satu bakul nasi dan satu jenis lauk di bawah tudung saji.

__ADS_1


__ADS_2