Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#34


__ADS_3

Hari Minggu tapi Azam ada di sekolah bersama Akbar dan beberapa teman lain. Mereka berencana untuk bermain bola voli, kegiatan ini memang rutin diadakan oleh anggota klub voli. Tapi biasanya memang hanya anak laki-laki yang datang, karena cowok itu sendiri bahkan tidak yakin yang lain tahu.


Mereka biasanya hanya bermain santai saja, hanya sekadar menghabiskan waktu karena tidak punya kegiatan lain. Terutama Azam, pada hari Minggu memang tidak banyak yang bisa ia lakukan. Jadi bermain voli ini bisa dibilang sebagai cara untuk menghilangkan kegabutan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan ketika mereka datang, di sana sudah ada beberapa orang yang sedang pemanasan dan berlatih passing. Mereka berdua segera mendekat dan mulai melakukan pemanasan juga.


"Weh, sekarang udah mulai sepi, ya. Dulu zaman kita masih kelas X setiap hari Minggu rame banget." Salah satu teman mereka datang menghampiri, ikut melakukan pemanasan di samping kiri Akbar.


"Setuju. Kita hari ini cuma seginian, nih? Kagak seru, dong! Panggil aja yang lain, adik kelas gitu. Biar gak ilang tradisi para jomlo di hari Minggu ini." Akbar mengeluarkan sifat aslinya, lebay dan tukang gosip.


"Apaan tradisi jomlo, Kampret. Aku gak jomlo, cuma gak punya pacar aja, kok." Si cowok tadi membalas sambil tertawa ngakak.


Akbar menggelengkan kepala, maklum, temannya yang satu ini otaknya memang rada geser sejak masuk SMA. Katanya sih dia keracunan rumus Fisika, efek sampingnya ya gitu, suka halu gak jelas.

__ADS_1


"Aku juga gak jomlo," ujar Azam mengagetkan si cowok tadi. Akbar juga kaget karena meskipun tahu temannya itu tidak jomlo, tapi biasanya dia diam-diam aja, enggak pamer kayak kebanyakan orang, atau mungkin lebih tepat jika dikatakan dia tidak terlalu peduli orang lain tahu atau enggak. Baru kali ini Azam secara tegas mengaku kalau dia punya pacar.


"Wah! Seriusan? Kok bisa?" Cowok tadi langsung heboh, demi kerang ajaib, cowok yang paling banyak diincar di sekolah sudah punya pawang, bagaimana dia bisa tenang aja? Besok pasti satu sekolahan geger.


"Ya bisalah, emang kamu kira aku apaan."


"Ya siapa tahu aja kan belok, bro, dari kelas X banyak yang deketin tapi cuek aja. Kirain sukanya sama yang batangan."


Tanpa tedeng aling-aling Azam menempeleng kepala cowok itu, dasar bocah lier. Enak saja ngira dia belok, dia normal senormal-normalnya orang normal.


"Jadi berita yang waktu itu beneran? Kamu pacaran sama adik kelas, siapa itu namanya? Lupa lagi."


Cowok ini memang tidak terlalu memperhatikan Ina walau bisa dibilang kemampuannya cukup bagus. Dia hanya fokus bermain dan hanya bergabung bersama anak cowok. Kalau sama cewek paling cuma godain teman seangkatannya doang. Apalagi Ina memang sepertinya tidak terlalu menonjolkan diri.

__ADS_1


"Iya."


Ucapan Azam tentu saja membuat si cowok langsung histeris! Ternyata!


"Anju, woy, si Azam udah punya pacar!" teriaknya menarik perhatian beberapa orang untuk mendekat.


"Weh, seriusan? Akhirnya laku juga, bro!"


"Siapa cewek yang nasibnya sial banget itu?"


"Ada fotonya, gak? Sini biar aku Yasinin."


"Kasihan banget itu cewek harus punya pacar kayak kamu, Zam! Semoga dia bisa tenang di alam sana."

__ADS_1


"Dari sekolah mana dia? Kita kenal gak? Mau aku suruh nyari yang lain aja."


"Woy!" Azam tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Ini cowok-cowok mulutnya emang pada lemes banget. Bikin naik darah saja. Entah huru hara apa yang akan mereka buat ketika tahu bahwa pacarnya adalah seorang Ina Fitriani.


__ADS_2