
"Briel duduk di sini dulu ya, Tante mau nyari abah Ramli dulu." ucap Rebecca mendudukkan Briel di sebuah salah satu pondok yang ada di sana.
"Abah Ramli itu siapa?" tanya Briel.
"Abah Ramli itu orang yang punya tempat ini." jawab Rebecca sambil mengelus rambut Briel hingga Briel bisa merasa sangat nyaman.
"Ooh gitu, ya udah Briel tunggu di sini." balas Briel.
Rebecca pun segera pergi mencari Abah Ramli karena dia sudah sangat kangen dengan beliau.
"Abah.." teriak Rebecca saat melihat punggung Abah Ramli yang tengah memandikan ayam jago miliknya.
Abah Ramli pun segera menoleh ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya.
"Becca, ya ampun kamu kemana saja, Abah kangen banget sama kamu." ucap Abah Ramli berdiri menyambut Rebecca.
"Becca juga kangen banget sama Abah." balas Rebecca sambil memeluk Abah Ramli.
"Ayuk masuk ke dalam, kita bicara di dalam." ajak abah Ramli memasuki rumahnya.
Rebecca pun menyambutnya dengan tersenyum hangat dan berjalan masuk ke dalam rumah Abah Ramli.
-
Sementara Briel, dia adalah salah satu dari sekian anak yang sangat aktif dan tak bisa diam pun merasa bosan.
"Bliel bosan." gumam Briel menatap sekitar.
"Bliel ke sana ahh." Briel pun berjalan menuju anak anak yang latihan tadi untuk melihatnya secara dekat.
Tapi saat dia melewati jalanan gang kecil, telinganya menangkap sebuah auman yang tak asing baginya.
"Aarrww...." suara itu terdengar lagi di telinga Briel.
"Itu kok kayak suara singa ya." gumam Briel.
Kaki Briel pun melangkahkan dengan sendirinya tanpa di suruh menuju arah di mana suara itu berasal. Briel terus berjalan mengikuti jalan setapak yang menuju belakang padepokan ini.
"Wahh ada singa beneran..." seru Briel saat melihat ada seekor singa yang besar di dalam kandang yang di batasi besi.
Dengan antusias, Briel berlari ke arah singa itu.
"Halo singa..." sapa Briel ramah, seperti pada temen sesama manusianya.
__ADS_1
"Aarrww..." singa itu mengaum sebagai balasan sapaan Briel.
"Wah singa yang pintal." puji Briel.
Dengan tidak ada rasa takut, Briel membelai lembut kepala singa hingga membuat singa itu merasa nyaman.
"Kamu pasti lapar ya di sini." Briel mengajak singa itu berbicara.
"Bliel gak bawa makanan, maaf ya soalnya tadi Bliel gak tahu kalau kamu ada di sini." ucap Briel lagi masih dengan mengelus kepala singa itu dan seperti mengerti apa yang Briel ucapkan, singa itu mengganguk.
"Nanti kalau Bliel ke sini lagi, pasti Bliel bawain daging yang banyak buat singa."
"Kamu pasti bosan ya di sini, gimana ya cara keluarin kamu." ide gila Briel.
Bisa bubar nanti anak anak yang sedang latihan kalau sampai singa itu terlepas dari kandangnya.
"Eemmm..." Briel berfikir mencari cari di sekitar kandang itu, dia mencari di mana pintu masuk buat ke kandang itu.
"Nah itu dia." seru Briel dan segera menghampiri pintu itu.
"Tapi ini gimana cara bukain nya?"
Briel berfikir dengan keras di mana dia dapat menemukan kunci gembok pintu kandang singa. Hingga pandangannya jatuh ke sebuah gubuk yang dekat dengan kandang singa, di sana dia melihat ada rantai panjang yang sepertinya di gunakan untuk merantai singa.
"Yes dapat." senang Briel saat mendapati sebuah kunci yang tergantung tak jauh dari tempat rantai tadi.
Briel segera membuka gembok yang mengunci kandang singa sambil tangannya kesusahan membawa rantai yang lumayan berat.
"Sabar ya singa, habis ini kita jalan jalan supaya kamu tidak bosan." ucap Briel sambil berusaha membuka gembok itu, dia kira tadi bakalan mudah, ehh taunya susah.
Ceklek.
"Yes bisa."
Dengan membuka pintu sedikit, Briel menyelinap masuk ke dalam kandang dan menghampiri singa yang berdiri menghampiri Briel.
"Kamu pakai ini dulu ya, nanti kita jalan jalan." ucap Briel, dan si singa pun patuh patuh saja pada Briel tanpa berontak.
Briel memasangkan rantai tadi ke leher singa.
"Dah selesai, yuk kita berangkat." ajak Briel menuntun singa keluar dari kandangnya.
Dengan santai Briel membawa singa ke lapangan tempat anak anak latihan silat.
__ADS_1
"Aarrww..." auman singa saat sampai di lapangan yang membuat semua anak anak menatap ke arah Briel.
"SINGA..." teriak anak anak heboh dan segera berlari ke berbagai arah untuk bersembunyi.
"Aarrww..." singa yang melihat kepanikan itu pun agak berontak dari cekalan Briel.
"Singa yang baik, kamu tenang ya, kan ada Briel jadi singa gak usah takut." ucap Briel menengkan singa agar tetap tenang dengan mengelus kepala singa.
"Aarrww...."
"Singa lari, ada singa lepas lari...." panik semua anak anak yang membuat Briel mengernyit heran.
"Mereka kenapa?" heran Briel.
"Yuk singa kita jalan jalan di sana." ajak Briel pada singa.
Briel mengajak singa itu menuju sebuah pohon yang rindang, Briel ingin bersantai di sana menikmati sejuknya pepohonan bersama singa. Dan untuk menuju pohon itu harus melewati beberapa anak anak yang masih diam tidak panik. Tapi saat Briel mendekat membawa singa, mereka pun panik.
"Lari...ada singa...lari."
"Singa, mereka kenapa sih?" tanya Briel pada singa, yang sudah pasti tidak akan mendapatkan jawaban.
-
Sementara Rebecca yang tengah asik berbincang dengan Abah Ramli pun mendengar jeritan anak anak dari lapangan.
"Abah, abah dengar itu gak?" tanya Briel.
"Iya abah dengar."
"Mereka kenapa ya, kok jerit jerit kayak gitu." Heran Rebecca.
"Abah juga tidak tahu."
"Lari...ada singa...lari.."
"Abah..."
Rebecca dan Abah pun segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi sehingga membuat anak anak berteriak histeris.
"Briel..."
...***...
__ADS_1