
"Gimana, bisa kan?"
"Oh atau kamu tetap mau pilih potong gaji saja?" lanjut Stefan karena Rebecca malah diam bukannya menjawab ucapannya.
"Mana ada begitu tuan, emang gak ada yang permintaan yang lain tuan, seperti menjadi pembantu anda gitu?" Rebecca berusaha untuk bernegosiasi dengan Stefan agar dia tidak di ajak pergi ke acara makan malam keluarga.
Rebecca terlalu malu kalau harus bertemu dengan keluarga Stefan, yang pastinya nanti berisi orang orang yang kaya raya, sedangkan dirinya hanyalah kaum remahan saja.
"Pembantu, emang kamu bisa apa, pembantu saya di rumah sudah banyak. Kamu tenang saja karena saya lagi berbaik hati nanti saya bakal kasih kamu bonus."
"Benarkah tuan, berapa bonusnya." mendengar ada bonus Rebecca langsung semangat, karena bagaimanapun juga dia manusia biasa yang membutuhkan uang.
"Tergantung bagaimana kamu nanti, kalau kamu menjalankan perintah saya dengan baik, maka saya juga akan dengan senang hati memberikan bonus yang besar untuk kamu, bahkan mungkin lebih besar dari gaji kamu satu bulan di perusahaan ini." balas Stefan membuat Rebecca jadi sangat tertarik.
"Baik tuan saya mau, hanya menemani anda makan malam kan, tidak ada yang lainnya kan?"
"Tentu, emang kamu pikir apa lagi?"
__ADS_1
"Tidak ada tuan, emm... tapi bagaimana dengan pakaianku nanti?" tanya Rebecca yang tiba tiba kepikiran kalau pakaian yang dia punya mungkin tidak ada yang cocok untuk pergi ke makan malam di keluarga Stefan nanti.
"Kamu tidak usah khawatir, karena nanti akan saya siapkan." jawab Stefan.
"Sudah sana kamu kembali kerja, ingat nanti pulang dari kerja kamu harus langsung siap siap dan dandan yang rapi, jam tujuh malam saya jemput kamu sama Briel." lanjut Stefan mengusir Rebecca.
"Baik tuan, saya nanti akan make up sebaik mungkin." balas Rebecca dan langsung nyelonong pergi dari ruangan Stefan tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Berani banget dia gak pamit sama saya, awas aja nanti." gumam Stefan yang melihat Rebecca sudah keluar dari ruangannya.
Setelah itu Stefan pun kembali fokus dengan pekerjaannya, dia memerintahkan asisten Julian untuk memesankan gaun di butik langganannya untuk mengirimkan gaun yang cocok untuk Rebecca kenakan ke makan malam keluarganya nanti.
Hari pun sudah sore, Rebecca sedang sibuk di depan cermin meja riasnya di bantu Pricillia. Rebecca tengah melakukan make up agar nanti penampilannya tidak membuat Stefan malu.
"Gaunnya seperti apa sih becca, nanti lo dandan cantik cantik gini ehh malah gaunnya biasa aja lagi." ucap Pricillia yang tengah membantu Rebecca mengikat rambut Rebecca agar terlihat lebih cantik dengan sentuhan sentuhan manja.
"Entah aku tidak tahu modelnya seperti apa, tadi aku buka cuma lihat warnanya aja sama nama brandnya." Jawab Rebecca.
__ADS_1
"Ehh lo tahu gak, kalau gaun yang Stefan kirimkan buat gw itu dari butik ternama loh, dan gw yakin banget kalau harga gaun itu sangatlah mahal." lanjut Rebecca.
"Seriusan, ah gw jadi penasaran, ayo cepat lo ganti ini juga rambutnya udah selesai nanti tinggal di rapikan lagi." penasaran Pricillia.
"Oke bentar, gw pakai dulu." Rebecca pun langsung bangkit dan mengambil kotak yang di dalamnya ada gaun yang sudah Stefan siapkan untuknya.
Rebecca masuk ke dalam toilet sambil membawa kotak itu, di dalam sana dia tengah mencoba untuk memakai gaun warna merah maroon yang warnanya sangatlah Rebecca sukai.
"Lah ini aku gimana pakainya." bingung Rebecca karena gaun yang dia pakai itu di bagian dadanya tidak muat untuk dirinya karena resleting yang ada di punggungnya tidak muat di tarik ke atas.
"Becca udah belum, lama banget sih gw penasaran tauk." teriak Pricillia dari luar kamar mandi Rebecca.
"Lo masuk aja, tolong bantuin gw ini gw kesusahan makainya." balas Rebecca menyuruh agar Pricillia segera masuk ke dalam kamar mandi membantu dirinya.
"Oke gw masuk ya."
Ceklek.
__ADS_1
"Wow."
...***...