CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#24


__ADS_3

"Wow." kagum Pricillia melihat pahatan tubuh Rebecca.


"Sumpah becca lo sexy banget." lanjutnya.


"Apaan sih lo kayak gak pernah lihat gw aja, udah ayo sini cepat bantuin." balas Rebecca meminta agar Pricillia cepat membantunya.


"Lagian ini siapa sih yang pilih gaunnya, gak muat gini di tubuh Lo." Pricillia berusaha membantu Rebecca untuk menarik resleting gaunnya ke atas.


"Gak tahu, pokoknya tadi ada paket ya udah gw terima dan gak banyak tanya." balas Rebecca.


"Aduh woy s**u gw kegencet." teriak Rebecca saat merasa dadanya tertekan.


"Ya maaf, kalau gak gini gak bakalan bisa naik resletingnya. Udah lo tahan aja tinggal dikit lagi." Pricillia pun terus berusaha menaikkan resleting gaun itu hingga akhirnya bisa naik sempurna.


"Akhirnya bisa juga." lega Pricillia karena sudah berhasil membantu Rebecca.


"Pric coba liat deh." ucap Rebecca menyuruh Pricillia agar melihat penampakannya dari depan.


"Kenapa sih?" seketika mata Pricillia melotot melihat apa yang ada di hadapannya.


"Gilak, lo sexy banget. Gw aja yang cewek suka banget lihatnya, apalagi yang cowok." kagum Pricillia melihat penampilan Rebecca.


Gaun merah yang Rebecca kenakan sangat terlihat melekat pas di tubuh sexy Rebecca, sedangkan di bagian atasnya karena memang dada Rebecca yang berukuran besar membuat gaun itu jadi tak muat menumpangnya, jadi terlihat seperti mau keluar dada Rebecca dari dalam gaun merah yang berbentuk kemben yang dia kenakan.


"Sexy sih sexy, tapi lo pikir lah masak iya gw datang ke acara makan malam dengan penampilan kayak gini, nanti malahan gw bikin malu tuan Stefan lah." omel Rebecca yang tidak mau bikin malu Stefan.


"Ya elah pasti nanti tuan Stefan malah bangga lah, udah lo pakai ini aja ayo sini gw rapikan rambut lo lagi." Pricillia langsung menarik tangan Rebecca karena dia tak ingin kalau sampai Rebecca berubah pikiran dan ingin berganti dengan gaun yang lainnya.

__ADS_1


Pricillia sangat teliti memperbaiki penampilan Rebecca hingga terlihat perfek. Sedangkan Rebecca dia hanya fokus mengamati penampilannya dari dalam cermin.


"Pric gw pakai outer aja ya, sumpah gw gak nyaman kalau begini." ucap Rebecca yang merasa tidak nyaman dengan gaun yang dia pakai.


"Haduh ngapain sih, udah lo itu cantik banget pakai ini, lagian katanya lo mau godain tuh tuan muda." balas Pricillia tak setuju dengan apa yang Rebecca inginkan.


"Tapi gw gak nyaman pakai ini." kekeh Rebecca.


"Udah pokoknya lo pa...."


Tok tok tok.


Mata Rebecca dan Pricillia melotot mendengar ada yang mengetuk pintu kontrakan Rebecca.


"Biar gw yang buka, lo siap siap aja." ucap Pricillia dan langsung berlalu pergi hendak membuka pintu kontrakan Rebecca.


"Selamat malam tuan," sapa Pricilla sok kenal kepada Stefan yang sudah berdiri di depan pintu kontrakan Rebecca.


"Hmm, apakah Rebecca nya ada?" tanya Stefan melirik ke arah dalam kontrakan Rebecca.


"Ada dong, itu dia lagi ambil tas." jawab Pricillia.


Pandangan Pricillia sedari tadi tak pernah lepas dari Stefan, bagi Pricillia Stefan ini sangat sempurna.


"Maaf membuat anda menunggu lama." ucap Rebecca yang baru keluar dari dalam kontrakannya.


"Loh, lo kok pakai...."

__ADS_1


"Pric gw pergi dulu ya, titip kontrakan nanti gw pasti balik kok." potong Rebecca sebelum Pricillia membicarakan jaket yang dia kenakan.


Ya, tadi setelah Pricillia keluar, Rebecca memutuskan untuk mengambil jaket untuk menutupi tubuh bagian atasnya agar tidak terlihat dadanya yang menonjol.


"Eh iya hati hati." balas Pricillia menatap kepergian Rebecca.


"Gw kecolongan deh." gumam Pricillia dan setelah itu dia kembali masuk ke dalam kontrakan Rebecca untuk merapikan alat makeup mereka tadi.


Sementara itu Rebecca sudah masuk ke dalam mobil Stefan, ternyata di dalam mobil hanya ada mereka berdua, tidak ada sopir dan juga tidak ada Briel di sana.


"Kenapa kamu pakai jaket, apa gaun yang Julian belikan jelek?" tanya Stefan setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Ooh jadi ini yang pilih asisten Julian." batin Rebecca.


"Hei, saya bertanya sama kamu, malah bengong." tegur Stefan.


"Eh iya tuan kenapa?" cengoh Rebecca.


"Ah udahlah, nanti kalau sampai sana saya minta kamu lepaskan jaket yang kamu pakai itu." ucap Stefan mutlak gak bisa di tolak.


"Ta...."


"Kamu di sini saya bayar." potong Stefan membuat Rebecca langsung diam."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam yang tidak begitu ramai, mereka berdua saling diam tidak ada yang mengajak ngobrol satu sama lain.


...***...

__ADS_1


__ADS_2