
Stefan saat ini tengah menggantarkan Rebecca pulang ke rumahnya setelah tadi mereka mengantar Briel pergi ke sekolah.
"Tuan bisa berangkat duluan, tidak perlu menunggu saya lagi." ucap Rebecca sebelum turun dari mobil setelah mobil Stefan berhenti di depan kontrakan miliknya.
"Tidak, say akan tetap menunggu kamu di sini." balas Stefan.
"Tapi tuan nanti bisa telat."
"Apakah saya peduli, siapa yang berani memarahi saya hmm?" balas Stefan acuh.
"Tapi tu...."
"Sudahlah cepat sana ganti baju, kamu malah bikin waktuku terbuang banyak." potong Stefan yang tak ingin di bantah.
"Huh baiklah." Rebecca dengan berat hati pun membiarkan Stefan untuk tetap menunggunya di sana.
Setelah kepergian Rebecca, Stefan mulai memikirkan hukuman apa yang pantas buat Rebecca karena sudah berani meninggalkan dirinya tidur di atas ranjang miliknya.
"Aku harus membuatnya jera." gumam Stefan sambil berfikir.
"Ah, aku tahu." seru Stefan saat sudah menemukan ide yang cocok untuk memberikan hukuman buat Rebecca.
__ADS_1
...**...
Sementara itu, di tempat ibu Brigitta dia tengah bersantai bersama Ica di dalam ruang santai sambil menonton televisi.
"Ma, kayaknya aku percaya deh kalau Rebecca itu emang pacarnya kak Stef, soalnya tuh mereka kayak deket banget gitu. Terus juga semalam waktu kita suruh tidur berdua mereka sepertinya gak ada ribut ribut gitu." ucap Ica yang sudah mulai yakin kalau Rebecca dan Stefan adalah pasangan sungguhan.
"Mama juga beranggapan seperti itu, terlebih lagi Briel sepertinya manja banget sama Rebecca. Kamu tahu sendirikan bagiamana keponakan kamu itu yang sangat sulit dekat dengan orang baru." setuju mama Brigitta.
"Iya ma bener, jadi rencana mama selanjutnya apa?" tanya Ica penasaran dengan rencana mama Brigitta selanjutnya.
"Mama ingin mereka berdua cepat cepat menikah, biar Stefan gak sendirian lagi, dan yang pasti Briel jadi punya orang tua lengkap." jawab mama Brigitta menjelaskan apa keinginannya.
"Jangan ngawur kamu, cepat sih cepat, tapi tidak hari ini juga Ica." mama Brigitta menonyor kepala Ica, anaknya.
"Kenapa tidak ma, jaman sekarang itu semua bisa di lakukan dengan uang." balas Ica sambil membenarkan rambutnya yang berantakan akibat dari perbuatan mama Brigitta.
"Oh iya mama kok bisa lupa ya, tapi gimana caranya biar mereka mau nikah cepat?" bingung mama Brigitta.
"Eemm... gimana ya." Ica ikutan memikirkan rencana apa agar Stefan dan Rebecca mau menikah cepat dalam waktu dekat ini.
"Gimana, kamu ada ide gak?" tanya mama Brigitta.
__ADS_1
"Aha, aku ada ide." seru Ica yang menemukan ide di otaknya.
"Apa, apa ide kamu?" tanya mama Brigitta antusias.
"Sini Ica bisikin."
Mama Brigitta pun mendekatkan telinganya dan Ica pun mulai membisikkan sesuatu di depan telinga mama Brigitta.
"Ngaco kamu, gak ah mama gak mau." tak setuju mama Brigitta dengan ide yang Ica berikan.
"Oh ayolah ma, lagian juga kan cuma pura pura aja, entar biar Ica deh yang urus, mama tinggal akting saja."
"Kata mama, mama pengen liat mereka berdua cepat cepat nikah." lanjut Ica merayu ibu Brigitta agar mau mengikuti rencananya.
"Eemm... ya udah deh mama mau." putus mama Brigitta, setuju dengan ide Ica.
"Nah gitu dong, ya sudah sekarang Ica mau menyiapkan semuanya dulu." balas Ica dan langsung beranjak pergi untuk menyiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan nanti.
...***...
Kira kira apa ya rencana mereka berdua?
__ADS_1