CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#68


__ADS_3

Rebecca memasuki mansion yang sudah sepi, dia berjalan mengendap-endap menuju kamarnya yang berada di belakang mansion, tapi saat dia baru memasuki ruang tamu dirinya sudah di kagetkan dengan keberadaan Stefan di sana.


"Astaga," kaget Rebecca karena tiba tiba Stefan berdiri di hadapannya.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Stefan dengan nada dingin.


"Habis kerja," jawab Rebecca jujur.


"Kerja apa yang perginya pagi pulang malam malam begini, kerja godain Om om?" balas Stefan.


Rebecca tersenyum getir mendengar apa yang Stefan tuduhkan kepadanya, dia capek dan tidak ingin bertengkar, apalagi ini sudah larut malam.


"Kenapa diam saja, benarkan apa yang saya bilang?" lanjut Stefan.


"Ya benar," balas Rebecca singkat.


"Cih, dasar murahan," hina Stefan menatap Rebecca dengan tatapan yang merendahkan.


"Udah kan, saya capek mau tidur," balas Rebecca dan tanpa menunggu balasan dari Stefan dia berlalu pergi meninggalkan Stefan.

__ADS_1


"Ternyata kamu memang benar seperti itu, bodohnya aku yang tadi sempat terkecoh dengan apa yang Briel katakan," gumam Stefan menatap Rebecca dari belakang.


Stefan pun pergi menuju kamarnya, dia sangatlah lelah dengan apa yang sudah terjadi, mungkin kalau tidak ada Briel di hidupnya Stefan sudah menyerah dari lama.


...**...


Rebecca sampai di dalam kamarnya, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lantai yang ada di kamarnya.


"Hufft... capeknya," gumam Rebecca yang merasa capek setelah seharian bekerja.


"Aku akan menulikan telinga ku dari hinaan hinaan yang kamu lontarkan mas, aku sudah tidak peduli, sekarang yang penting aku harus mendapatkan uang untuk membantu anak anak panti," ucap Rebecca menatap langit langit kamarnya.


Rebecca tahu bagaimana rasanya jadi mereka, maka dari itu di saat dia sudah mampu seperti ini dia akan berusaha untuk membahagiakan mereka, agar mereka tidak merasa apa yang dia rasakan dulu.


"Semangat Rebecca, kamu pasti bisa melewati ini semua, percayalah nanti pasti akan ada waktunya kamu akan hidup bahagia dengan orang yang mencintai dan menyayangi kamu," lanjut Rebecca.


Lama Rebecca berbaring dan setelah itu dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor.


...**...

__ADS_1


Keesokkan harinya, Rebecca bangun pagi dan sudah ada di dapur untuk memasak menu sarapan buat Briel dan juga Stefan.


Di bantu beberapa asisten rumah tangga membuat dia jadi lebih cepat menyelesaikan masakannya, dan setelah itu dia menyajikannya di meja makan.


"Bi tolong panggil mas Stefan sama Briel ya, saya mau siap siap dulu," ucap Rebecca menyuruh pelayan untuk memanggil Stefan dan juga anaknya.


"Baik nyah," balas pelayan.


Rebecca pun pergi kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan juga berganti pakaian kerja, dan setelah itu dia kembali ke meja makan untuk melakukan sarapan pagi.


"Loh mas Stefan sama Briel belum turun bi?" tanya Rebecca saat kembali ke meja makan tapi tidak mendapati adanya Stefan dan juga Briel.


"Nona Briel rewel nyah, dia tidak mau di mandikan sama susternya," jawab pelayan yang Rebecca tanya.


"Terus sekarang gimana?" tanya Rebecca khawatir dengan Briel.


"Saya kurang tahu nyah, karena tadi saya buru buru pergi ke bawah untuk mematikan kompor," jawab pelayan itu.


"Ya sudah biar aku coba lihat." Rebecca pun pergi menuju kamar Briel untuk melihat keadaan Briel di sana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2