CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#60


__ADS_3

Hari pun berlalu, semenjak kejadian kemarin Rebecca terus bersikap acuh kepada Briel, apalagi pada Stefan Rebecca malah tidak peduli sama sekali kepada dia.


Briel merasa sangat tersiksa karena mommy nya menjauh dari dia, dan ini semua terjadi akibat ulah papi nya, maka jangan salahkan Briel kalau Briel akan membenci papinya.


"Ini semua gara gara papi mommy jadi menjauhi Briel, papi jahat, Briel gak suka sama papi," ucap Briel yang tengah di bantu bibi untuk memasang sepatu miliknya.


Briel memang sudah siap dengan seragam sekolah lengkapnya, tapi ada yang kurang dengan penampilan Briel kali ini.


Rambut Briel masih acak-acakan, dia tidak mau rambutnya di kunci oleh pembantu, dia hanya ingin Rebecca yang membantu Briel merapikan rambutnya.


Tapi Rebecca malah menghindari Briel, sehingga membuat Briel menjadi sedih dan tak mau di bantu merapikan rambutnya oleh bibi.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, dan menampilkan Stefan yang sudah mengenakan setelan jas rapi untuk berangkat ke kantor.


"Selamat pagi anak kesayangan papi," ucap Stefan menyapa Briel.

__ADS_1


Briel diam, dia tidak menghiraukan papinya karena dia masih kesal dengan apa yang papinya lakukan.


"Loh sayangnya papi kok diam aja sih, apa Briel menginginkan sesuatu? Kalau iya bilang sama papi biar nanti bisa papi belikan," ucap Stefan memasuki kamar anaknya.


Diam, Briel tidak menyahuti omongan Stefan sama sekali, dia masih marah pada Stefan sampai nanti saat Rebecca sudah tidak mendiaminya lagi.


"Anak papi, kenapa diam saja hmm, bilang sama papi?" tanya Stefan yang merasa sedikit aneh dengan sikap Briel yang mendiami dirinya.


"Ini semua gara gara papi, gara gara papi mommy jadi pergi meninggalkan Bliel," ucap Briel menggebu gebu.


"Sayang, dia itu memang bukan wanita yang baik, jadi mulai sekarang Briel harus bisa jauhin mommy, biar mommy gak semakin semena semena sama kamu," balas Stefan yang malah meminta anaknya untuk menjauhi Rebecca.


"Tapi sayang, mommy itu gak baik, buktinya kemaren dia meninggalkan kamu di kandang singa sendirian, kalau sampai kamu kenapa kenapa bagiamana," balas Stefan.


"Itu gak mungkin pi, mommy itu wanita yang baik, yang bisa menyayangi Briel dengan tulus tanpa ada uang dari papi," balas Briel yang terus terusan membela Rebecca.


"Shi* ternyata wanita sialan itu sudah mencuci otak anak ku," batin Stefan yang merasa Briel membenci dirinya itu karena otak dari Rebecca.

__ADS_1


"Kok kamu belum sisiran sih, sini papi bantu," ucap Stefan mengalihkan pembicaraan agar Briel tidak terus terusan menyalahkan dirinya akibat dari Rebecca yang menjauhi Briel.


"Gak mau, Briel mau nya mommy yang sisirin rambut Bliel, bukan orang lain," balas Briel marah.


"Sayang, mommy nya lagi gak ada, jadi sama papi aja ya sisiran nya," balas Stefan merayu anaknya agar mau sisiran.


"Kalau Briel bilang gak mau ya gak mau, papi jahat," marah Briel dan berlari keluar dari kamarnya entah kemana.


"Briel, Briel tungguin papi sayang, papi minta maaf," teriak Stefan memanggil manggil nama Briel tapi tak Briel hiraukan.


Briel turun menuju dapur, dan di sana dia melihat Rebecca tengah memasak di sana.


"Mommy," teriak Briel dan langsung berlari menghampiri Rebecca.


Bruk.


...***...

__ADS_1


"


__ADS_2