CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#47


__ADS_3

Rebecca kembali ke kontrakannya setelah puas berada di panti, sebenarnya dia masih kangen sama ibu dan adik adik panti, tapi dia juga harus segera mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya lagi setelah di pecat dari perusahaan.


"Becca lo tahu gak tadi, suami lu nyariin lu ke sini," heboh Pricilla bercerita saat Rebecca sudah kembali ke kontrakan.


"Hah lu serius, jangan becanda deh, ngapain juga dia nyariin gue," balas Rebecca tidak percaya dengan apa yang di katakan Pricilla.


"Ya elah gue serius Bambang, kalau lu gak percaya tanya aja sama tetangga tetangga yang lain, tadi dia sempat bikin heboh di sini kok," balas Pricilla.


"Bikin heboh? Maksud lu gimana?" tanya Rebecca penasaran.


"Iya tadi tuh dia gedor gedor pintu kontrakan lu waktu jam jam orang istirahat, ya gue yang tidurnya keganggu gak terima lah, gue samperin dia," jelas Pricilla.


"Trus trus?" penasaran Rebecca.


Pricilla pun menceritakan kejadian yang tadi kepada Rebecca, dan Rebecca yang mendengarnya pun hampir saja tertawa kalau dia tidak ingat sesuatu.


"Tunggu tunggu." Rebecca langsung mencari handphonenya di dalam tas dan langsung mengaktifkannya.


Seketika matanya melotot saat dia melihat ada banyak panggilan telepon tak terjawab dan beberapa pesan dari Stefan.

__ADS_1


"Mampus gue lupa kalau tadi gue janji mau jemput Briel di sekolah, pasti mas Stefan bakal semakin marah sama gue," gumam Rebecca membaca pesan yang Stefan kirimkan kepadanya.


Drrtt drrtt drrtt.


Tiba tiba handphone Rebecca berdering, dan tanpa menunggu lama Rebecca langsung mengangkat panggilan itu dan menyuruh Pricilla agar diam.


"Ha-halo mas," gagap Rebecca saat sambungan telfon sudah tersambung.


"Kamu kemana saja Hah, dari tadi saya telfon saya cari kamu kemana mana gak ada, apa kamu mau mencelakai anak saya, kamu mau menelantarkan anak saya Hah," marah Stefan dari sebrang telfon.


Rebecca pun menjauhkan telfon dari telinganya karena dia merasa telinganya sakit mendengar bentakan dari Stefan.


"Ma-maaf mas, aku lupa tadi," balas Rebecca meminta maaf.


"Tapi mas...."


"Saya tidak menerima penolakan Rebecca, kamu mau kamu pulang sendiri atau saya yang bakal seret kamu dari kontrakan itu dan melaporkan temen kamu juga karena sudah berani membohongi saya," potong Stefan mengancam Rebecca.


"Iya mas iya saya pulang sekarang," balas Rebecca.

__ADS_1


Tut.


Tanpa mengatakan apapun Stefan langsung mengakhiri panggilan telepon nya, dan hal itu membuat Rebecca menghela nafasnya panjang.


"Lah tuh orang enak banget ngomongnya, main laporin orang gak jelas, awas aja kalau di laporin beneran gue bejek bejek mukanya," omel Pricilla yang sedari tadi mendengarkan obrolan Stefan dan juga Rebecca.


"Udah pric, gue mau siap siap pulang dulu," ucap Rebecca bangkit hendak bersiap siap pulang.


"Lu yakin gak papa Be, gue bisa bantu lu kalau lu mau terbebas dari laki laki itu," ucap Pricilla yang tak tega melihat temannya tersiksa.


"Udah lu jangan khawatir, gue bisa kok tanganin masalah gue sendiri, gue gak selemah itu orangnya," balas Rebecca agar Pricilla tidak mencemaskan keadaannya.


"Lu yakin?" tanya Pricilla lagi dan di balas anggukan oleh Rebecca.


"Kalau lu perlu bantuan apa apa langsung kabarin gue, gue akan selalu siap membantu lu apapun itu," ucap Pricilla.


"Terimakasih, terimakasih lu sudah menjadi teman dan saudara yang baik buat gue, gue sangat bersyukur mempunyai orang seperti lu," balas Rebecca.


"Kita sama sama berjuang bersama, jadi dalam keadaan susah ataupun senang kita harus bersama," balas Pricilla.

__ADS_1


"Aaa... sayang," mereka berdua pun berpelukan dan setelah itu Rebecca langsung pamit pergi untuk kembali ke rumah Stefan lagi.


...***...


__ADS_2