
Setelah mengantar Briel ke sekolah, Rebecca langsung pergi ke perusahaan.
Klunting.
Terdengar ada notifikasi masuk di handphonenya, Rebecca pun langsung melihatnya, ternyata itu adalah pesan dari suaminya.
Ingat nanti saat di perusahaan bekerjalah dengan profesional, jangan sampai ada yang tahu kalau kita menikah.
Isi pesan dari Stefan memperingatkan Rebecca agar tetap menutup mulut dan menjaga sikapnya saat di perusahaan nanti agar tidak ada yang curiga dengan hubungan keduanya.
Baik mas.
Balas Rebecca meskipun hal itu berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Hati ingin memberitahu ke semua orang kalau dia adalah istri Stefan, tapi apa boleh buat kalau sudah begini dia bisa apa.
"Sudah sampai nyah." ucap sopir yang mengantarkan Rebecca pergi ke perusahaan.
"Oh iya pak terimakasih ya, kalau begitu saya masuk dulu." balas Rebecca keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam.
Rebecca langsung berjalan menuju ruangannya, banyak orang yang menyapa dirinya karena dia adalah sekertaris Stefan, tapi ada juga yang memberikan tatapan sinis kepada Rebecca.
__ADS_1
"Ayo Rebecca semangat, kau harus mencari uang yang banyak buat adik adik panti." ucap Rebecca memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Sekarang tujuan Rebecca bekerja bukan lagi untuk dirinya sendiri karena dia sudah mempunyai tempat tinggal yang tidak perlu membayar lagi, jadi sekarang gajinya sebagai besar akan dia berikan ke panti asuhan tempat dia tinggal dulu.
Saat mulai duduk di kursi kerjanya, telepon yang ada di meja Rebecca berbunyi, Rebecca pun segera mengangkatnya.
"Ke ruangan saya sekarang." perintah Stefan dari sambungan telepon.
Tut.
Belum juga Rebecca membalasnya, Stefan sudah mematikan sambungan telfonnya.
"Hufft...." Rebecca menghela nafasnya sebelum dia beranjak pergi menuju ruangan Stefan.
"Hmm, sini duduk." balas Stefan memerintahkan agar Rebecca duduk di depannya.
"Kamu sudah membaca pesan dari saya tadi kan?" tanya Stefan bodoh, jelas jelas Rebecca sudah menjawab pesannya, itu berarti tandanya dia sudah membaca isi pesannya dong.
"Sudah mas." balas Rebecca.
__ADS_1
"Ada lagi yang lupa, selama berada dalam jam kerja saya harus kamu memanggil saya tuan, karena kalau sampai ada yang dengar mereka bisa curiga." tambah Stefan.
"Tapi mas, sekarang kan kita hanya berdua saja," balas Rebecca.
"Saya tidak peduli, saya mau kamu memanggil saya seperti itu di saat berada di rumah dan berada di lingkungan keluarga saja, kalau tidak kamu tetap panggil saya tuan, mengerti kamu?" tekan Stefan tak ingin di bantah.
"Kenapa mas?"
"Kamu masih tanya kenapa, kamu tahu sendirikan kalau pernikahan ini di lakukan dengan terpaksa. Saya terpaksa menikahi kamu karena perintah dari mama." jelas Stefan.
"Apa tidak ada sedikitpun rasa di hati mas untuk aku, bukankah sebelum kita menikah dulu mas perhatian sedikit kepadaku?" tanya Rebecca.
"Itu dulu sebelum saya tahu kelakuan asli kamu, dan waktu itu juga karena saya tergoda oleh tubuh yang kamu sodorkan dengan sengaja untuk menggoda saya,"
"Sekarang saya sudah tahu sifat asli kamu, dan saya juga ragu dengan tubuh kamu yang seperti ini, mungkin saja tubuh kamu seperti itu karena sering di jamah oleh banyak laki laki di luaran saja." lanjut Stefan.
Jleb.
Ucapan Stefan bagai belati tajam yang menyayat hatinya, apa kesalahannya sampai Stefan menyimpulkan dirinya wanita seperti itu.
__ADS_1
Plak.
...***...