CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#51


__ADS_3

"STOP MAS, CUKUP." teriak lantang Rebecca.


"Entah kesalahan apa yang aku lakukan sampai sampai kamu menilai aku serendah itu di mata kamu, aku memang butuh uang mas, tapi aku tidak sehina itu sampai harus menjual tubuh aku, aku capek mas dengan tuduhan yang sudah kamu berikan kepadaku, terserah kamu mau menilai aku seperti apa, sekarang aku sudah tidak peduli lagi," lanjut Rebecca dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Tanpa berpamitan, Rebecca pergi meninggalkan Stefan yang masih termenung setelah mendengar apa yang Rebecca katakan tadi.


"Apa aku sudah keterlaluan ya menghinanya, kenapa ada yang sakit di sini saat melihat dia menangis," gumam Stefan sambil memegang dadanya yang tiba tiba terasa nyeri saat melihat Rebecca menangis akibat perkataannya.


"Tidak Stefan tidak, apa yang kamu katakan itu benar, dia memang sudah menjual tubuhnya, jadi jangan merasa bersalah," lanjut Stefan setelah tersadar.


Otak dan hati memang beda, hati boleh merasa bersalah, tapi otaklah yang menguasai segalanya.


Terkadang memang sekali kali kita harus menggunakan otak dalam menyikapi sesuatu hal, tapi tidak ada salahnya juga kita harus memakai hati kita.


Tapi beda dengan Stefan, apapun masalahnya otaklah yang akan dia pakai.

__ADS_1


"Aku gak boleh lemah hanya karena air mata palsu nya itu, ingat Stefan dia bukan wanita yang baik," lanjut Stefan.


"Udahlah malas aku memikirkan dia, buang buang waktu saja," lanjutnya.


Stefan melirik jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, dan dia pun memilih untuk pergi ke kamarnya untuk istirahat.


"Sebaiknya aku istirahat dulu, karena besok ada meeting yang penting," ucap Stefan bangkit dari kursi kerjanya.


Stefan pergi menuju kamarnya, tapi sebelum itu dia menyempatkan diri untuk melihat Briel di kamarnya.


"Sayang maafkan papi ya, yang salah memberikan mama baru buat kamu, papi janji akan selalu mengawasi dia, dan kalau sampai dia berani menyakiti kamu, papi sendiri yang akan turun tangan untuk membunuhnya," ucap Stefan sambil membelai rambut Briel yang sudah tidur nyenyak dengan di kelilingi boneka kesayangannya.


Setelah memberikan kecupan di kening Briel, Stefan langsung pergi menuju kamarnya untuk istirahat.


...**...

__ADS_1


Sementara itu di kamar pembantu, tepatnya di kamar yang saat ini Rebecca tempati, Rebecca tengah menangis tersedu-sedu.


Jujur hatinya sangatlah sakit mendengar hinaan Stefan yang sangat merendahkan dirinya.


Beruntungnya ini sudah malam, jadi para pekerja yang lain sudah pada tidur, jadi tidak ada yang mengetahui kalau Rebecca sedang menangis.


"Hiks hiks, apa aku sehina itu di matanya, entah apa yang pernah aku lakukan sampai sampai dia harus menilai aku serendah itu, hiks hiks," tangis Rebecca.


"Ya tuhan, apakah aku tidak bisa hidup bahagia seperti yang lain, kenapa pernikahan yang aku impikan harus seperti ini," batin Rebecca dalam hati sambil menangis.


"Kalau memang ini jalan hidup yang harus hamba lalu, maka kuatkan lah hamba untuk menerima semua ini ya tuhan, hamba mohon," lanjutnya.


"Hamba percaya, kalau di balik kesedihan ini pasti akan ada kebahagiaan yang telah engkau janjikan kepada hamba, hamba percaya itu."


Lama Rebecca menangis, hingga akhirnya dia sampai tertidur dengan posisi terduduk dengan kepala yang berada di atas kasur.

__ADS_1


Entah hari esok apa lagi yang akan Rebecca temui, apapun itu Rebecca harus siap menerimanya, karena memang itu jalan Rebecca yang sudah author buat, wkwkwk.


...***...


__ADS_2