
Rebecca keluar dari kamarnya, dan dia mendapati Briel tengah main di temani Stefan.
"Mommy," pangil Briel membuat Rebecca yang tadi ingin pergi ke ruang makan jadi mengubah haluan nya pergi menghampiri Briel.
"Mommy kok tumben sih balu bangun, mommy sakit?" tanya Briel menghampiri Rebecca dan langsung memeluk Rebecca.
"Mommy kecapekan, enggak kok mommy gak sakit mommy hanya perlu istirahat saja," jawab Rebecca sambil memberikan kecupan di kedua pipi Briel.
Stefan yang mendengar jawaban Rebecca menjadi salah tingkah, dia jadi bingung harus bersikap seperti apa, entah kenapa dia merasa sangat canggung saat berada di dekat Rebecca.
"Lagian mommy kenapa halus kelja sih, kan uang papi udah banyak, mommy kan bisa minta uang sama papi, iya kan Pi?" balas Briel menatap Stefan.
"Ehh, i-iya," balas Stefan gagap.
"Tuh kan, pasti mommy juga kan udah di kasih uang sama papi tiap hali sama seperti Bliel, sehalusnya mommy pakai uang itu aja, kalau masih kulang nanti minta tambahin sama papi, kayak Bliel kalau uang jajan Bliel kulang, Bliel minta tambahin sama papi," ucap Briel panjang lebar yang secara tidak langsung dia sudah menyindir Stefan, yang memang nyatanya tidak memberikan uang sepeser pun pada Rebecca selama menikah.
__ADS_1
"Nih anak siapa sih, kalau ngomong kok pedes banget," batin Stefan yang merasa tersindir dengan apa yang anaknya katakan.
"Mommy kerja karena mommy ingin mencari kesibukan sayang, gajinya juga kan lumayan bisa buat Briel jajan," balas Rebecca sambil tersenyum.
Memang kalau habis gajian Rebecca selalu mengajak Briel untuk belanja, meskipun gajinya tidak sebanyak waktu dia menjadi sekertaris Stefan, tapi Rebecca tetap membelikan Briel jajan meskipun tidak mahal.
"Kan mommy bisa temani Bliel main sehalian, itukan namanya udah sibuk," balas Briel.
"Emm... Briel udah sarapan belum, kita makan yuk," ajak Rebecca mengalihkan pembicaraannya dengan Briel.
"Udah dong, mommy bangunnya kesiangan sih jadi Bliel makan duluan deh, habisnya udah lapel," balas Briel.
"Iya mom, Bliel mau lanjut main dulu sama papi," balas Briel kembali duduk di mainannya yang sangat banyak.
"Iya sayang," balas Rebecca.
__ADS_1
Tanpa menoleh sedikitpun kepada Stefan, Rebecca berlalu pergi menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
"Aku gak akan bicara sebelum dia bicara duluan dan meminta maaf sama aku," batin Rebecca yang sudah menanamkan tekat untuk mendiamkan Stefan sebelum Stefan sendiri yang mengajaknya bicara dan meminta maaf atas perlakuannya semalam.
Rebecca memandang tidak terlalu memikirkan keperawanannya yang sudah di ambil Stefan karena Stefan adalah suaminya sendiri, tapi yang Rebecca tidak suka itu dari perlakuan Stefan yang sangat menyakiti hatinya.
Rebecca makan dengan lahap karena memang dia sudah begitu kelaparan, apalagi habis di gempur habis habisan semalam sama Stefan.
Sementara itu, sang pelaku utama yang saat ini tengah menemani anaknya bermain, Stefan memikirkan apa yang anaknya katakan tadi.
"Aku memang gak pantas di anggap suami, suami macam apa aku yang banyak uang tapi membiarkan istrinya bekerja sampai larut malam dan tak memberikannya nafkah sedikitpun," batin Stefan.
"Semua yang di katakan Briel benar, ternyata Briel lebih mengerti dari pada aku yang sudah dewasa ini," lanjut Stefan.
"Tapi bagaimana aku harus mengawali berbicara dengan dia, aku terlalu malu untuk mengakui semua kesalahan ku selama ini," lanjut Stefan lagi.
__ADS_1
Ego Stefan memang sangatlah besar, dia terlalu gengsi untuk meminta maaf kepada Rebecca, entah dengan cara apa mengajak Rebecca berbicara nanti, dia bingung.
...***...