
...Semalam sebenarnya aku update loh, tapi di tahan oleh pihak noveltoon 😂 Makanya ada tulisan 4 huruf yang hanya ada bintang bintang saja. Itu di sensor oleh pihak noveltoon 😂 Buat yang tanya itu kata apa itu adalah ****....
...~...
Sampai di ruangannya, Stefan mendudukkan putrinya di sofa yang ada di ruangannya.
"Mana coba gambarannya, papi mau lihat?" tanya Stefan yang duduk di samping Briel putrinya.
Briel pun segera mengambil sebuah buku gambar dari dalam tas punggung miliknya yang bergambar Barbie.
"Ini papi." Briel memberikan gambarannya pada papinya.
Stefan pun mengambilnya dan mengamati gambaran anaknya. Rasanya Stefan ingin menangis saat itu juga saat melihat gambaran putrinya ini. Bagaimana tidak, Briel menggambar tiga orang yang tengah menikmati sunset di pantai. Dua orang dewasa laki laki dan perempuan, dan di tengah tengahnya ada anak kecil perempuan yang mengandeng tangan orang dewasa itu.
"Ini papi, dan yang ini mami." tunjuk Briel menjelaskan pada Stefan dengan wajah cerianya.
Stefan meletakkan buku gambar Briel di atas meja dan mengangkat Briel ke pangkuannya.
"Briel kangen sama mami?" tanya Stefan sambil air matanya menetes tapi segera di hapus agar Briel tidak melihatnya yang sedang menangis.
"Iya papi, mami kemana sih kok gak pulang pulang?" tanya Briel.
"Mami Briel ada jauh di sana, kalau Briel kangen sama mami Briel berdoa buat mami ya." jawab Stefan menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.
"Jadi Bliel harus beldoa ya papi, bial mami pulang?" tanya Briel lagi yang membuat Stefan meneteskan air mata kembali.
Stefan tak kuat menjawab pertanyaan Briel dia merengkuh tubuh mungil putrinya, mendekapnya dengan erat sambil menciumi kepala putrinya.
Briel anak kecil yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya, Briel di tinggal pergi untuk selama lamanya oleh ibu yang melahirkan saat dirinya baru lahir ke dunia ini.
Stefan tau anaknya ini sangat membutuhkan kasih sayang lengkap dari orang tuanya, meskipun dirinya selalu berusaha meluangkan waktunya buat Briel tapi itu tetap kurang bagi Briel.
"Papi kok diam aja sih?" tanya Briel di hadapan dada papinya.
Stefan pun segera menghapus air matanya.
"Enggak sayang, papi cuma capek aja." bohong Stefan.
"Papi capek, kalau papi capek papi gak usah kelja. Bliel gak papa kok kalau satu hali gak jajan." ucap Briel mendongak menatap wajah papinya.
"Loh emang kenapa kok gak jajan?" tanya Stefan heran.
"Kan papi gak kelja jadi Bliel gak mau jajan, bial uang papi tetap banyak." jawab Bliel polos.
Hati Stefan bagai teriris mendengar ucapan anaknya, segitu sibukkan dirinya sampai Briel rela gak jajan agar dia tidak bekerja.
__ADS_1
"Maafin papi ya, papi gak selalu ada buat Briel. Papi janji nanti akan selalu ada waktu buat Briel." ucap Stefan menatap Briel.
"Bliel gak papa kok kalau papi kelja, asal papi jangan sampai capek. Nanti kalau papi sakit Blielnya sedih." tutur Briel.
"Aduh anak papi so sweet banget sih, siapa yang ngajarin hmm?" gemes Stefan mencubit kedua pipi anaknya.
"Iiih papi sakit tauk." mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... maaf maaf papi sengaja." ujar Stefan sambil tertawa.
"Papi..."
"Iya sayang."
"Papi nyebelin." kesal Briel
"Tapi ganteng." balas Stefan.
"Enggak, papi jelek."
"Briel yang jelek. Wlekk." ejek Stefan.
"Enggak, Bliel cantik." matanya sudah berkaca-kaca, pertanda akan ada hujan yang turun.
"Briel jelek." Stefan semakin menggoda anaknya itu.
"Loh kok nangis sih, iya iya Briel cantik. Udah ya nangisnya, papi minta maaf deh." Stefan merayu anaknya agar berhenti menangis.
"Gak mau, papi jahat. Huuwaaaa..." tangis Briel semakin kencang dan tangannya juga memukuli dada Stefan.
"Cup cup cup kok makin kencang sih nangisnya, udah ya Briel diam nanti papi beliin es krim." bujuk Stefan menenangkan Briel.
"Gak mau, Huuwaaaa."
Stefan kalang kabut di buatnya, budaknya mereda tangis Briel malah semakin pecah.
-
Sementara dia luar, Rebecca yang tengah berperang dengan fikiran nya pun di buat pusing oleh banyak pertanyaan yang keluar dari otaknya.
Mulai dari siapa istri Stefan, gimana kehidupan Stefan selama ini, dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Agrrr." jerit Rebecca kesal dengan pemikirannya sendiri.
"Sadar Rebecca, sadar. Lo itu gak pantes buat tuan Stefan, lo itu hanya serbuk rengginang sedangkan tuan Stefan itu serbuk berlian." ucap Rebecca berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa lagi dia itu pria beristri, sadar lo gak boleh jadi pelakor." lanjut Rebecca.
"Lo harus fokus buat bekerja, cari uang yang banyak agar bisa beliin mainan adik adik panti."
"Oke, sekarang lo tenang, fokus sama berkas berkas di hadapan Lo."
Rebecca pun mulai melanjutkan mengerjakan beberapa berkas yang sempat tertunda tadi. Setelah selesai dia akan menyerahkannya kepada Stefan, karena ada beberapa berkas yang memerlukan tanda tangan Stefan.
"Semangat Rebecca, lo pasti bisa." ucap Rebecca saat berada di depan pintu ruangan Stefan.
Saat tangannya akan mengetuk pintu terdengar tangisan anak kecil dari dalam yang membuat Rebecca menghentikan ketukannya.
"Bukannya itu suara anaknya tuan Stefan, kenapa dia sampai nangis sekencang itu." gumam Rebecca.
Rebecca bingung antara masuk ke dalam atau tidak, akhirnya Rebecca pun memutuskan untuk diam sebentar di depan pintu itu menunggu tangisan anaknya Stefan berhenti. Untung aja keadaan di lantai ini sepi jadi aman kalau Rebecca berdiri di sana.
Tapi lama kelamaan bukannya berhenti, tangisan anaknya Stefan yang tak lain adalah Briel malah semakin kencang saja. Rebecca pun kasian mendengarnya, dia pun segera mengetuk pintu itu.
Tok tok tok.
"Permisi tuan." ucap Rebecca setelah mengetuk pintu.
Karena tak ada jawaban dari dalam Rebecca pun memutuskan untuk membuka pintu saja.
"Permisi tuan." ucap Rebecca lagi setelah masuk, dia melihat Stefan yang tengah berusaha untuk menenangkan anaknya yang berada di pangkuannya.
"Tan-te hiks." ucap Briel tiba tiba dan memberontak dalam pangkuan Stefan dan segera berlari menghampiri Rebecca.
Rebecca pun segera menangkap anak tuannya itu yang berlari ke arahnya.
"Cup cup cup... Udah ya nangisnya nanti cantiknya ilang loh." ucap Rebecca menengkan Briel yang sudah berada dalam gendongannya.
"Bliel hiks cantik ya hiks Tante?" tanya Briel memandang wajah Rebecca dengan air mata yang masih membanjiri pipi gembulnya.
"Iya dong, Briel kan cantik kayak Tante." jawab Rebecca yang sudah mengetahui nama anaknya Stefan.
"Tapi hiks kata papi Bliel jelek." adu Briel pada Rebecca.
"Wah papi kamu minta di cubit perutnya, nanti biar Tante hukum papi kamu." ujar Rebecca sambil menoleh ke Stefan yang tengah menatapnya tajam.
Rebecca yang mendapatkan tatapan itu pun nyengir menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Benal ya hiks Tante?"
"Iya, nanti Tante hukum. Sekarang Briel berhenti ya nangisnya biar cantiknya gak hilang." bujuk Rebecca yang mendapatkan anggukan dari Briel.
__ADS_1
Rebecca dengan telaten menghapus air mata Briel dengan penuh kasih sayang, mengabaikan berkas berkas yang dia bawa tadi yang berceceran di lantai. Dan semua itu tak luput dari perhatian Stefan.
...***...