
Hari ini Stefan tidak jadi pergi ke perusahaan, dia tetap di rumah menemani anaknya yang tengah marah kepadanya.
Meskipun berhasil membawa Briel masuk kedalam dalam rumah, tapi tetap saja Briel masih marah kepadanya.
Briel tidak mau pergi ke sekolah, hingga berakhir berada di dalam kamar saja. Sedangkan Stefan, memilih menemani Briel main meskipun kehadirannya tidak di anggap oleh sang anak.
"Sayang ini Barbie nya gak di mandiin dulu sebelum jalan jalan?" tanya Stefan berusaha ikut masuk ke dalam cerita permainan yang anaknya ciptakan dari boneka Barbie.
"Papi diem deh, jangan ikut ikut," bentak Briel kesal karena sedari tadi Stefan terus saja mengajak dia berbicara, padahal dia tengah fokus merangkai cerita Barbie yang hendak jalan jalan dengan pangeran.
"Salah mulu perasaan," gumam Stefan yang masih bisa di dengar Briel.
"Papi jahat, makanya salah mulu," balas Briel judes.
"Pedes amat mulutnya," batin Stefan, dia tidak berani lagi mengungkapkannya takut kena skak anaknya lagi.
"Hai Balbie?"
"Halo Ken,"
Briel menirukan sound yang viral di aplikasi toktok.
Stefan yang mendengar itu pun berusaha menahan tawanya agar tidak pecah mendengar suara anaknya.
Bagaimana tidak, suara cadel Briel saat menirukan sound viral itu terasa sangat lucu buat Stefan.
"Papi gak usah tertawa," tekan Briel yang menyadari raut wajah Stefan yang seperti tengah menahan tawanya.
"Lah salah lagi aku," gumam Stefan.
__ADS_1
"Makanya papi keluar dali kamal Bliel, jangan ganggu Bliel main," balas Briel mengusir Stefan.
"Papi mau temani Briel main, emang Briel gak takut main sendirian di kamar," balas Stefan.
"Enggak tuh, kata mommy Bliel gak boleh jadi anak penakut, Bliel harus jadi anak yang pembelani, bial bisa jagain papi sama mommy,"
"Kata mommy juga Bliel gak boleh cengeng, Bliel harus jadi anak yang kuat bial bisa melindungi papi sama mommy," lanjut Briel membuat Stefan terdiam.
"Jadi selama ini dia sangat berpengaruh itu pada Briel, apakah saya salah menilai dia selama ini," batin Stefan menatap Briel yang tengah fokus bermain.
"Emm... Briel boleh papi tanya?" tanya Stefan.
"Emang papi mau tanya apa sama Bliel?" balas Briel.
"Emm... mommy selama ini ngajarin Bliel apa aja?" tanya Stefan penasaran.
"Ternyata sebanyak itu dia mengajari Briel," batin Stefan lagi.
"Papi tahu gak," ucap Briel menatap Stefan serius, beda dari saat dia cerita tadi yang tidak menatap Stefan.
"Tahu apa sayang?" balas Stefan.
"Mommy punya singa yang buwecual papi, Bliel pelnah di ajak main sama cinga nya, tapi sama mommy Bliel gak boleh celita sama papi, papi janji ya jangan kacih tahu mommy kalau Bliel cerita sama papi," cerita Briel.
"Singa besar? boneka maksud kamu?" balas Stefan.
"Iiih hewan cinga benelan papi, cinganya itu besal, seperti ini." Briel memperagakan tangannya membentuk lingkaran yang sangat besar.
"Singa hidup seperti punya kamu di belakang?" tanya Stefan lagi.
__ADS_1
"Iya papi, cinga asli," balas Briel.
Stefan merogoh sakunya mengambil handphone dan mencari foto singa dewasa untuk dia tunjukkan kepada Briel.
"Besar segini?" tanya Stefan menunjukkan foto singa di handphonenya pada Briel.
"Iya papi, becal sepelti itu," balas Briel.
"Hah, masak sih, emang mommy taruh dimana singanya?" tak percaya Stefan.
"Ada di kandang singa, kata mommy itu tempatnya Abah, di cana juga banyak anak anak latihan bela dili," jawab Briel.
"Ya sudah Briel main sendiri aja ya, papi ada kerjaan sebentar," pamit Stefan dan langsung pergi meninggalkan anaknya di dalam kamar sendiri.
"Papi aneh deh," gumam Briel dan kembali main Barbie.
Sementara itu, di posisi Stefan, dia langsung pergi ke ruang kerjanya dan langsung memikirkan apa yang Briel katakan.
"Siapa sebenarnya Rebecca, apa benar yang Briel katakan kalau dia punya singa?" ucap Stefan memikirkan apa yang anaknya katakan.
"Kalau dia benar punya singa, berarti dia bukan orang sembarangan, karena tidak mudah mendapatkan izin untuk memeliharanya, terlebih makanan untuk singa itu sangatlah mahal, dan dia taruh di mana singa itu, masak iya dia ngekos sambil memelihara singa?" banyak hal yang Stefan tanyakan, tapi entah dari siapa dia akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan nya itu.
"Sepertinya aku kurang jauh menelusuri identitas Rebecca," lanjut Stefan yang berfikir akan mencari identitas Rebecca lebih dalam lagi.
Stefan pun langsung menghubungi Alex dan Julian, dia menitipkan markas mafia dan perusahaan kepada mereka berdua untuk sementara waktu karena dia sendiri yang akan mencari identitas Rebecca yang sangat menarik perhatiannya dari cerita Briel tadi.
"Aku sangat tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari teka teki yang Briel berikan tadi," gumam Stefan sambil menghidupkan laptop miliknya untuk mulai berselancar di dunia internet.
...***...
__ADS_1