
Deg.
mereka berdua saling diam, kalau Stefan mah malah senang bisa tidur bersama Rebecca lagi, tapi beda dengan Rebecca yang ingin menghindari Stefan.
"Kenapa kalian berdua diam, kalian mau kan tidur di sini, mama masih kangen sama kalian," ucap mama Brigitta lagi.
"Emm... i-iya ma," balas Rebecca yang akhirnya mengiyakan permintaan mama Brigitta.
"Kalau bukan karena mama gue gak akan mau tidur di sini yang nantinya pasti akan satu kamar sama mas Stefan," batin Rebecca.
"Yes Rebecca menyetujuinya, aku bisa peluk dia lagi malam ini," batin Stefan senang.
"Nah gitu dong, ya sudah mama bawa Briel ke kamar dulu ya, kasian dia sepertinya udah ngantuk." mama Brigitta hendak mengajak Briel tidur bersamanya.
"Iya ma," balas mereka.
"Briel sayang ayo kita tidur, kamu tidur sama Oma ya, oma kangen banget sama Briel," ucap mama Brigitta mengajak Briel tidur.
"Oke Oma," balas Briel.
"Kalian jangan tidur malam malam, gak baik buat kesehatan," ucap mama Brigitta pada anak anaknya sebelum dia pergi ke kamarnya bersama Briel.
"Iya ma," balas mereka.
"Aku juga mau ke kamar ya mas, mbak, udah capek banget badan dari pagi kegiatan mulu," pamit Ica pada Stefan dan juga Rebecca hendak pergi ke kamar.
__ADS_1
"Loh kamu gak nungguin suami kamu pulang dulu?" tanya Rebecca yang canggung kalau harus di tinggal berdua saja dengan Stefan.
"Enggak mbak, kayaknya suami aku pulang malam deh, aku duluan ya mbak," balas Ica dan langsung beranjak pergi menuju kamarnya meninggalkan Stefan dan Rebecca.
Setelah kepergian Ica, suasana di ruang televisi terasa sangat dingin, tidak ada suara apapun di sana selain suara televisi yang menampilkan kartun kesukaan Briel.
Stefan dan Rebecca mereka saling diam tidak ada yang saling mengajak berbicara.
Plak.
"Rumah bagus kok ada nyamuk sih," ucap Stefan berpura pura menepuk nyamuk di tangannya.
Stefan melakukan itu agar dia bisa memulai pembicaraan, padahal sebenarnya tidak ada nyamuk yang hinggap di tangannya.
Bukannya peduli dengan Stefan, Rebecca malah beranjak pergi dari sana meninggal Stefan.
Stefan pun akhirnya memilih untuk berdiam diri di sana terlebih dahulu, nanti saja dia masuk ke dalam kamar agak malaman sedikit, dia masih bingung harus bersikap bagaimana kepada Rebecca.
Sementara itu, Rebecca yang sudah berada di dalam kamar pun bingung mencari baju ganti untuk dia pakai tidur.
"Gak mungkin kan aku tidur pakai dress kayak gini," ucap Rebecca menatap penampilannya yang tengah memakai dress selutut dengan tanpa lengan.
"Apa aku pinjam Ica aja ya," lanjut Rebecca.
"Iya aku pinjam dia aja." Rebecca langsung kembali keluar dari kamarnya menuju kamar Ica yang berada di sebelah kamarnya untuk meminjam baju tidur.
__ADS_1
Tok tok tok.
Rebecca mengetuk pintu kamar Ica.
Ceklek.
"Mbak Becca, silahkan masuk mbak," ucap Ica mempersilahkan Rebecca masuk ke dalam kamarnya.
"Ca aku boleh pinjam baju tidur kamu gak, aku bingung harus pakai apa, aku gak bawa baju ganti dari rumah," ucap Rebecca meminjam baju pada Ica.
"Boleh banget dong mbak, bentar ya aku ambilin," balas Ica dan langsung pergi menuju walk in closed yang ada di kamarnya.
Rebecca menunggu sebentar, dan tak lama setelah itu Ica membawa satu set baju tidur untuk di pakai Rebecca.
"Ini mbak, semoga gak kekecilan ya," ucap Ica menyerahkan baju tidur itu pada Rebecca.
"Ini gak ada yang lebih tertutup lagi ca?" tanya Rebecca karena dia tahu baju tidur yang Ica pinjamkan itu hampir mirip lingerie.
"Emang kenapa kak, aku gak ada baju tidur yang tertutup, toh mas Stefan juga kan suami mbak Becca sendiri, ngapain permasalahin baju tidur mbak," balas Ica.
"Oh enggak kok, ya udah aku pinjam ini ya," balas Rebecca menerima baju tidur itu.
"Iya kak pakai aja," balas Ica dan setelah itu Rebecca pun keluar dari kamar Ica dan kembali menuju kamarnya.
"Aduh masak iya aku harus pakai baju ini sih, ini mah bukan baju tapi kemben," gumam Rebecca setelah sampai di kamar dan melihat lebih jelas lagi baju tidur yang ica pinjamkan kepadanya.
__ADS_1
...*** ...