CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#53


__ADS_3

Deg.


Rebecca kaku di tempat mendengar hinaan yang keluar dari bibir Stefan lagi.


"Kenapa malah diam, udah sana pergi, gak usah sok merasa tersakiti, nyatanya memang seperti itu, kamu itu JAL*NG." Stefan menekan kata jal*ng hingga membuat air mata Rebecca tak bisa di bendung lagi.


"Maaf mas," ucap Rebecca dan setelah itu dia langsung lari keluar dari kamar Stefan.


Rebecca sudah tidak kuat lagi berada di dalam sana, sampai di depan kamar dia langsung menangis tersedu-sedu merasakan hatinya yang sangat sakit.


"Kenapa aku sangat lemah, kemana Rebecca yang selalu kuat, hiks," tangis Rebecca yang merasa dirinya sangatlah lemah menghadapi Stefan.


Padahal dia sudah bertekad untuk kuat menghadapi semuanya, bahkan kalau bisa dia harus bisa melawan Stefan. Tapi apa, nyatanya dia memang lemah, hatinya tidak sekuat itu mendengar hinaan hinaan yang keluar dari bibir Stefan.


"Ya tuhan, tolong kuatkan lah hamba," batin Rebecca.


Rebecca menghapus air matanya, dia baru ingat kalau dia juga harus membangunkan Briel, dia tidak boleh lemah, Briel tidak boleh melihat kalau dirinya menangis.


Setelah tenang, Rebecca langsung pergi menuju kamar Briel, untuk membangunkan anak tirinya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


"Briel sayang, ayo bangun ini sudah siang kamu harus sekolah," ucap Rebecca membangunkan Briel dengan lembut.

__ADS_1


Cup cup cup...


"Sayang ayo bangun, nanti kamu telat loh sekolahnya," lanjut Rebecca sambil menciumi wajah Briel agar anaknya itu segera bangun.


"Mommy geli"Briel merasa geli karena Rebecca terus menciumi seluruh wajahnya.


"Makanya ayo bangun, kamu susah sih di banguninnya," balas Rebecca membantu Briel untuk bangun.


"Ini sudah jam belapa mom?" tanya Briel masih setengah ngantuk.


"Sudah jam setengah tujuh sayang, ayo cepat bangun nanti kamu bisa telat sekolahnya kalau gak bangun bangun," jawab Rebecca.


"Iya ayo cepat mommy bantu kamu mandi," balas Briel dengan senang hati dia akan memandikan Briel.


Rebecca mengendong Briel menuju kamar mandi, dan setelah itu dia mendudukkan Briel di atas kloset untuk dia menyiapkan air hangat untuk Briel mandi.


"Mom papi udah bangun belum?" tanya Briel.


"Sudah, papi sudah bangun kok, sekarang lagi mandi," jawab Rebecca tak lupa dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Ayo sini mommy bantu buka bajunya, air hangatnya udah siap." Rebecca membantu Briel melepaskan pakaian tidurnya.

__ADS_1


Dan setelah itu Rebecca pun memandikan Briel, Briel selalu nurut apa yang di katakan Rebecca, sehingga membuat Rebecca senang memandikan Briel karena tidak rewel seperti anak lain kebanyakan.


"Mom nanti bisa gak jemput Bliel sekolah?" tanya Briel sambil menikmati pijatan lembut Rebecca yang tengah menyabuni tubuhnya.


"Mommy gak bisa janji, tapi nanti pasti akan mommy usahakan agar bisa menjemput kamu ya," jawab Rebecca dan di angguki Briel.


Briel sangat mengerti kesibukan orang dewasa, sehingga dia tidak terlalu menuntut untuk ini itu, toh kalau ada waktu pasti dirinya akan di jadikan ratu oleh papi dan mommy nya.


Selesai memandikan Briel, Rebecca memakaikan seragam sekolah Briel, dan setelah itu dia mengajak Briel untuk turun ke bawah melakukan sarapan pagi sebelum pergi ke sekolah.


"Selamat pagi papi," sapa Briel pada Stefan yang sudah berada di meja makan.


"Pagi juga sayangnya papi, aduh kamu cantik banget sih, papi jadi gemes." Stefan mencubit pipi Briel karena gemas dengan anaknya.


"Papi sakit tauk," merajuk Briel.


"Aduh maafkan papi sayang,"


Rebecca hanya bisa menatap keharmonisan ayah dan anak itu, dia takut kalau dia ikutan nimbrung nanti yang ada Stefan akan marah lagi kepada dirinya, sehingga dia memilih untuk mengambilkan makanan untuk Briel dan Stefan saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2