
Mobil yang di kendarai Stefan sudah berhenti di depan rumah yang sangat besar, tak kalah besar dari rumah Stefan. Stefan turun dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Rebecca.
"Ayo cepat buka, kita sudah telat datang." ucap Stefan menyuruh Rebecca agar segera membuka jaket yang dia kenakan.
"Tapi tuan, saya malu." jujur Rebecca, dia sangat malu kalau nanti Stefan harus melihat tubuh bagian atasnya.
"Halah malu kenapa sih, udah cepat ayo buka." Stefan memaksa Rebecca agar segera membuka jaket yang dia kenakan.
Rebecca yang memang sudah tidak bisa lagi menolak pun segera membukanya dan....
Glek.
"**1*, gaun apaan ini." batin Stefan sambil menelan ludahnya kasar saat melihat penampilan Rebecca yang begitu sangat sexy.
"Maaf tuan, tolong jangan lihat saya seperti itu, saya jadi malu." ucap Rebecca sambil menutup dadanya dengan kedua tangan miliknya.
"Gak gak gak, kamu harus tetap sadar Stef." batin Stefan sambil menggelengkan kepalanya membuat Rebecca menatap Stefan heran.
"Tuan kenapa?" Tanya Rebecca heran.
__ADS_1
"Ah tidak, udah ayo cepat turun, pakaian kamu mungkin tidak akan seberapa dengan cewek yang mama mertua aku akan kenalkan nanti." Stefan langsung menyeret tangan Rebecca agar segera turun dari mobil.
Rebecca yang memakai high heels pun agak kesusahan mengimbangi jalan Stefan yang lumayan lebar.
"Tuan pelan pelan jalannya, saya kesusahan mengimbangi jalannya tuan." ucap Rebecca membuat Stefan menghentikan langkahnya dan langsung menatap Rebecca.
"Satu lagi, di sini kamu jangan memanggilku tuan, panggil nama ku saja, dan nanti kita di dalam juga jangan menggunakan bahasa formal." jelas Stefan dan langsung di angguki Rebecca.
"Kalau kerja kamu bagus dan bisa menghentikan acara jodoh jodohan yang mama mertuaku rencanakan, saya bakal kasih kamu hadiah yang sangat besar." lanjut Stefan.
"Baik tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin." balas Rebecca.
Deg deg deg.
Jantung Rebecca rasanya tak bisa di kondisikan lagi, Rebecca takut kalau nanti di tengah tengah acara makan malam dia malah mimisan karena perlakuan Stefan.
"Sadar Rebecca sadar, ini hanya pura pura saja, dan nikmati peran ini, anggap saja kalau kalian jadian hanya satu malam ini saja." batin Rebecca sambil mengikuti langkah kaki Stefan yang membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Papi, Tante cantik." seru Briel saat melihat kedatangan papinya dan Rebecca.
__ADS_1
"Selamat malam anak papi, gimana kamu ada di sini nakal gak sama Oma?" Stefan berjongkok menyamakan tingginya dengan Briel.
"Tidak dong kan Bliel anak baik." balas Briel.
"Pinter." Stefan memuji Briel sambil mengelus rambut Briel.
"Tante cantik apa kabal, Bliel kangen tahu sama Tante." ucap Briel menatap Rebecca.
"Tante baik sayang, Briel sendiri bagaimana kabarnya hmm?" balas Rebecca balik bertanya.
Posisi Rebecca tetap berdiri tegap, karena dia takut kalau dia jongkok nanti malah membuat tubuh bagian atasnya terlihat sangat jelas.
"Bliel baik Tante, Tante kok gak bilang sih kalau mau ikut papi ke sini, kalau Bliel tahu Tante akan ikut pasti Bliel akan memilih berangkat bersama Tante juga." balas Briel.
"Maaf ya sayang, kan ini surprise jadi harus rahasia dong." balas Rebecca agar Briel tidak semakin bertanya yang lain lainnya lagi, karena dia bingung nanti harus menjawab apa.
"Ehem."
Ah Rebecca lupa, kalau saat ini dia bukan berada di rumah Stefan, tapi ada di rumah mama mertua Stefan.
__ADS_1
...*** ...