CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#37


__ADS_3

Stefan membawa Rebecca pulang ke rumahnya, dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, yang ada hanya keheningan yang menemani perjalanan pulang menuju rumah Stefan hingga sampai di depan rumah Stefan pun tak ada yang berbicara di antara mereka berdua.


"Tante cantik." teriak Briel yang sepertinya menunggu kedatangan Stefan.


Briel langsung berlari dan memeluk Rebecca dengan erat karena saking senangnya ada Rebecca yang datang ke rumahnya.


"Tante nginap di sini lagi kan?" tanya Briel mendongakkan kepalanya menatap Rebecca.


"Emmm...."


"Iya Tante nginap di sini, dan mulai sekarang Tante Rebecca sudah menjadi mommynya Briel, gimana Briel senang gak?" Stefan memotong ucapan Rebecca.


"Beneran Pi?" tanya Briel tak percaya.


"Iya dong, tanya aja sama mommy becca, iya kan mom?" balas Stefan menatap Rebecca membuat pipi Rebecca bersemu merah.


"I-iya." gagap Rebecca.


"Yeee Bliel punya mommy baru, horeee...." sorak Briel senang.


"Mommy Bliel boleh minta gendong gak?" tanya Briel.


"Boleh dong, sini mommy gendong." Rebecca langsung menggendong Briel dan mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah mewah Stefan.


Stefan senang kalau melihat Briel bahagia seperti ini, dia jadi membayangkan seandainya kalau maminya Briel masih ada, mungkin Briel tidak pernah merasakan kesepian.


"Daddy janji akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu sayang " gumam Stefan menatap Briel yang berada dalam gendongan Rebecca yang berjalan di depannya.


"Saya mau ke atas dulu, nanti kalau Briel sudah mau turun kamu langsung menyusul saja karena ada yang perlu saya bicarakan sama kamu." ucap Stefan saat hendak menaiki anak tangga.


"Baik tu...."


"Pangil senyaman kamu aja." potong Stefan yang mengerti kalau Rebecca pasti bingung hendak memanggil dirinya apa.


"I-iya mas."


Deg.

__ADS_1


Mendengar panggilan Rebecca kepadanya, entah kenapa membuat jantung Stefan berdetak, tidak ini tidak baik untuk kesehatannya.


"Ya sudah kalau gitu saya ke atas dulu." Stefan langsung berlalu pergi ke dalam kamarnya untuk menghindari Rebecca.


"Mom, Bliel lapar, Bliel boleh gak kalau minta di suapi mommy?" pinta Briel.


"Boleh dong sayang, ya sudah ayo kita makan." Rebecca langsung membawa Briel ke ruang makan, dan kebetulan di sana ternyata sudah tersaji lengkap makanan buat makan malam mereka.


Rebecca mendudukkan Briel di bangku makan dan setelah itu dia mengambilkan makanan untuk Briel di lanjut dengan menyuapi Briel dengan telaten hingga Briel merasa kenyang.


"Sayang mommy ke kamar dulu ya, Briel sama bibi dulu di sini." ucap Rebecca yang hendak pergi ke kamar.


"Iya mom, mommy jangan lupa mandi ya kan tadi pasti mommy belum mandi sehabis kerja." balas Briel mengizinkan.


"Iya sayang, ya sudah mommy pergi ke atas dulu ya."


Cup.


Setelah memberikan kecupan di kening Briel, Rebecca pun pergi meninggalkan Briel yang sudah dia titipkan pada baby sitter yang menjaga Briel.


Rebecca sampai di depan pintu kamar Stefan, dia ragu apakah dia harus mengetuk pintu itu atau tidak. Rebecca takut kalau nanti malah mengganggu Stefan dan berakhir terkena amukan dari Stefan.


Tok tok tok.


"Mas," ucap Rebecca setelah memberikan ketukan di pintu kamar Stefan.


"Masuk." balas Stefan dari dalam kamarnya yang membuat Rebecca langsung menarik hendle pintu dan membukanya.


"Sini." suruh Stefan saat melihat Rebecca masuk ke dalam kamarnya agar Rebecca mendekat padanya.


Rebecca pun berjalan mendekati Stefan dan langsung duduk di samping Stefan sesuai dengan perintah Stefan.


"Kamu tahu kan kalau pernikahan tadi itu karena terpaksa." ucap Stefan membuat Rebecca menggangukkan kepalanya.


"Saya tidak akan melarang kamu untuk melakukan apapun, terserah kamu mau menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri atau tidak, yang pasti saya mau pernikahan ini hanya orang orang tertentu saja yang tahu, terutama orang orang di kantor jangan sampai ada yang tahu." jelas Stefan dan lagi lagi Rebecca hanya bisa menggangukkan kepalanya.


"Dan untuk masalah itu, saya tidak memaksa kamu mau tidur di kamar ini bersama saya atau kamu memilih untuk tidur di kamar lain itu terserah kamu, karena saya tidak akan melarang apapun yang kamu lakukan." lanjutnya.

__ADS_1


"Apakah kamu mengerti?" tanya Stefan.


"Iya mas, saya mengerti." balas Rebecca.


"Apakah ada yang ingin kamu tambahkan?" tanya Stefan lagi.


"Emmm... apakah boleh kalau saya berusaha untuk mengambil hati mas?" tanya Rebecca ragu.


Bagiamana pun juga, Rebecca tidak ingin pernikahan ini berakhir begitu saja. Dia yang dari awal menginginkan Stefan pun akan berusaha untuk mendapatkan hati Stefan.


"Terserah kamu kalau kamu bisa, tapi sepertinya akan sulit." balas Stefan acuh.


"Terimakasih tuan, saya akan berusaha untuk mendapatkan hati tuan, karena jujur saya tidak ingin pernikahan ini berakhir. Saya ingin pernikahan ini berjalan sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya yang ada kebahagiaan dan keharmonisan di dalamnya." ucap jujur Rebecca.


Stefan menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman yang mengejek, Stefan sudah tahu. Emang siapa sih yang bisa menolak pesona Stefan, bahkan mungkin ada orang yang baru melihatnya pun akan langsung terpesona dan terpikat olehnya.


"Maaf kalau saya lancang, tapi kalau tuan tidak mengizinkan saya akan menjaga diri saya agar tidak melewati batas." lanjut Rebecca yang melihat raut wajah Stefan.


"Terserah kamu saja, lakukan apa yang ingin kamu lakukan saya tidak akan melarangnya asal kamu bisa." balas Stefan dan berdiri dari duduknya.


"Bersihkan diri kamu dan saya tunggu untuk makan malam di bawah." ucap Stefan tanpa menatap Rebecca.


"Oh iya, pakaian kamu ada di lemari sebelah kanan, saya sudah menyiapkannya di sana." lanjut Stefan dan setelah itu dia beneran pergi dari sana.


"Hufft...." lega Rebecca setelah kepergian Stefan.


"Ayo Rebecca kamu pasti bisa, jangan sia siakan kesempatan ini. Kamu dari awal sudah mengangumi tuan Stefan maka di saat ada kesempatan emas seperti ini ayo manfaatkan dengan baik." ucap Rebecca memberikan semangat pada dirinya sendiri untuk bisa mengambil hati Stefan.


Tak ingin membuat Stefan menunggu lama, Rebecca pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara itu, Stefan yang tengah menuruni anak tangga pun memikirkan kata kata Rebecca tadi.


"Cih, ternyata sama saja dengan wanita wanita di luaran sana." decih Stefan.


Sempat mengagumi Rebecca karena dia kira Rebecca itu berbeda dari yang lain, tapi setelah mendengar perkataan Rebecca tadi membuat rasa kagum Stefan pun pudar.


"Coba saja kalau kau bisa mengambil hatiku, kalau kau bisa mengambil hatiku dalam waktu kurang dari satu bulan, akan ku pastikan aku akan menjadi orang yang paling bucin di dunia ini." ucap Stefan dengan pedenya karena dia yakin Rebecca tidak akan mampu membuat dirinya jatuh cinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2