CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#86


__ADS_3

Stefan masuk ke dalam kamarnya, dan menemukan keadaan lampu kamar yang sudah padam hanya tersisa lampu tidur saja yang menerangi kamar secara remang remang.


"Apa dia sudah tidur?" batin Stefan berjalan mengendap-endap takut kalau membangunkan Rebecca jika dia sudah tidur.


"Syukurlah dia sudah tidur," lega Stefan saat melihat Rebecca sudah tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sampai leher, sehingga hanya kelihatan kepala Rebecca saja.


Stefan pun langsung mencari pakaian untuk dia tidur dan setelah itu dia langsung pergi menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan juga cuci tangan dan kakinya.


"Aduh gue deg degan banget," gumam Rebecca setelah Stefan masuk ke dalam kamar mandi.


Ya, Rebecca tadi hanya pura pura tidur saja untuk menghindari Stefan.


"Mana pakai baju kayak gini lagi," lanjut Rebecca melihat pakaiannya yang ada di balik selimut.


Rebecca memilih untuk memakai baju tidur yang berbentuk dress kemben yang sangat kekecilan di tubuhnya.


Bahkan dress itu tak cukup untuk menampung buah da da nya, Rebecca sendiri tidur tidak memakai br* karena itu sangat menganggu tidurnya.


Sedangkan bagian bawah dress nya, itu juga terlalu pendek, bahkan itu hanya mampu menutupi pahanya seperempat saja.


"Semoga saja nanti mas Stefan gak ngeh kalau aku pakai lingerie kayak gini," lanjut Rebecca lagi.


Ceklek.

__ADS_1


Terdengar pintu kamar mandi terbuka membuat Rebecca membernarkan posisi tidurnya lagi seperti semula yang menghadap ke arah pintu kamar mandi.


Glek.


Rebecca menelan ludahnya kasar, karena dia melihat Stefan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer ketat saja, tanpa menggunakan pakaian atas.


"Ya tuhan pemandangan seperti apa ini, aku mana tahan kalau liat kayak gini," batin Rebecca melihat roti sobek Stefan yang sedari dulu sangat dia idam idamkan.


Ingat kan, waktu awal awal menjadi sekertaris Stefan Rebecca punya niatan menggoda Stefan dan ingin memiliki tubuh Stefan, dan ya pemikiran itu masih ada sampai sekarang meskipun dia sangat ingin menghindari Stefan.


"Menyiksa banget tidur kayak gini," ucap Stefan duduk di ranjang sampai Rebecca.


"Kalau gada dia di kamar ini mungkin aku udah telan jang sekarang," lanjut Stefan yang merasa tidak nyaman tidur memakai boxer ketat.


"Hoamm...." Stefan menguap, dia memang sudah benar benar ngantuk, apalagi tadi dia habis mengendarai mobil sendiri dengan jarak yang lumayan jauh dan belum sempat istirahat.


"Ngantuk banget," ucap Stefan dan mulai menaiki ranjang.


"****," umpat Stefan saat dia membuka selimut dan melihat penampilan Rebecca dari belakang.


"Kenapa dia mancing mancing sih," ucap Stefan yang merasa frustasi karena adiknya mulai bangun.


Sedangkan Rebecca yang menyadari kalau Stefan sudah melihat penampilannya pun memegang selimut dengan erat agar tidak di tarik lagi oleh Stefan.

__ADS_1


"Ooh ternyata pura pura," batin Stefan yang menyadari kalau Rebecca hanya pura pura tidur saja.


Terlintas ide jahil di otak Stefan, Stefan masuk ke dalam selimut dan berbaring menghadap punggung Rebecca.


Stefan mengikis jarak antara dirinya dengan Rebecca, dan satu tangannya lagi dia beranikan diri untuk memeluk Rebecca dari belakang.


"Aaaa...." teriak Rebecca karena tangan Stefan memeluk dirinya.


"Astaga," kaget Stefan mendengar teriakkan Rebecca.


"Apa yang tuan lakukan," Rebecca menjauhkan tangan Stefan dari pinggangnya.


Tapi tidak semudah itu dia melakukannya, karena Stefan malah semakin erat memeluk Rebecca dari belakang.


"Lepas," pinta Rebecca.


"Kamu sexy banget," bisik Stefan di telinga Rebecca sambil meniup telinga Rebecca.


Rebecca mematung, dia merasa ada banyak kupu kupu yang berterbangan di dalam perutnya.


"Nah gitu dong diam,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2