CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#78


__ADS_3

"Nona Briel sudah bangun," ucap pelayan saat baru memasuki kamar Briel dan melihat Briel sudah bangun.


"Mommy mana bi?" tanya Briel dengan muka bantalnya.


"Nyonya sepertinya belum bangun non, dari pagi bibi belum lihat nyonya soalnya," jawab pelayan.


"Nona Briel mau langsung mandi atau turun dulu cari nyonya Rebecca?" lanjut pelayan bertanya apa yang akan Briel lakukan setelah ini.


"Bliel mau mandi aja bi, nanti kalau sudah mandi baru cali mommy," jawab Briel.


"Saya siapkan air hangat untuk nona mandi dulu," balas pelayan dan langsung pergi menuju kamar mandi yang ada di kamar Briel untuk menyiapkan air hangat untuk Briel mandi.


"Kok tumben mommy belum bangun, apa mommy gak pelgi kelja?" gumam Briel yang merasa aneh karena biasanya Rebecca akan bangun pagi untuk pergi bekerja.


"Air hangatnya sudah siap non, apa perlu bibi bantu mandinya?" ucap pelayan yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bliel mau mandi sendili saja bi," jawab Briel dan beranjak pergi ke kamar mandi di ikuti pelayan itu yang menyiapkan handuk mandi untuk Briel.


...**...


Sementara itu, di tempat Stefan dia baru saja membuka matanya dan melihat ke sekeliling kamarnya yang sangat berantakan, pakaian yang semalam dia pakai berserakan di lantai, dan juga kondisi sprei kamarnya yang tidak berbentuk.


"AAGRRRR...." erang Stefan saat mengingat apa yang dia lakukan semalam.


"Kenapa saya tidak bisa menahannya," gumam Stefan.

__ADS_1


"Tapi dia memang begitu menggoda sehingga saya sangat tidak bisa menahannya," lanjut Stefan mengakui pesona Rebecca yang sangat menarik perhatiannya.


"Apa yang harus saya lakukan setelah ini, saya sangat malu kepadanya," bingung Stefan dengan apa yang harus dia lakukan setelah ini, karena dia merasa malu kepada Rebecca karena selama ini sudah menghina hina Rebecca, sedangkan dirinya sendirilah yang semalam mengambil keperawanan Rebecca.


Stefan bangkit dari ranjang dan mengambil celana boxer miliknya untuk dia pakai, dan setelah itu dia mulai mengambil pakaian pakaian nya yang berserakan di lantai.


Saat hendak melepaskan sprei Stefan melihat ada bercak darah di sana, Stefan tahu itu darah milik Rebecca semalam, tanpa Stefan sadari dirinya tersenyum melihat hal itu.


Stefan bangga karena dirinya lah orang pertama yang mengambil keperawanan Rebecca, Stefan janji setelah ini dia akan berubah kepada Rebecca, dia akan lebih baik lagi sikapnya kepada Rebecca, tapi dia bingung bagiamana memulainya, dia terlalu malu untuk memulai semua itu.


"Ah sudahlah biar saya pikirkan nanti," gumam Stefan.


Selesai membereskan kamarnya, Stefan langsung pergi mandi untuk membersihkan tubuhnya dan setelah selesai dia langsung keluar dari kamar untuk melihat keberadaan anaknya.


Pukul sembilan Stefan baru keluar dari kamarnya dan melihat Briel sudah bermain sendirian di depan televisi, membuat dia langsung menghampiri Briel.


"Ini sudah siang papi," balas Briel menatap Stefan sengit.


"Ah iya benar papi lupa," cengir Stefan.


"Dasar papi, masak iya papi kalah sama Bliel sih, Bliel aja yang masih kecil bangunnya pagi lho," balas Briel.


"Aduh pinternya anak papi," puji Stefan.


"Mommy kamu mana sayang?" lanjut Stefan menanyakan keberadaan Rebecca.

__ADS_1


"Dari pagi mommy belum keluar dali kamal, pintunya di kunci jadi Bliel gak bisa masuk ke kamal mommy," jawab Briel.


"Mommy belum bangun?" tanya Stefan lagi.


"Gak tahu papi, tapi kata bibi mommy dali pagi belum kelual dali kamal," jawab Briel membuat Stefan khawatir dengan keadaan Rebecca.


"Bi bibi," pangil Stefan membuat kepala pelayan datang menghampirinya.


"Iya tuan," balas kepala pelayan menghampiri Stefan.


"Apa istri saya belum bangun?" tanya Stefan.


"Mohon maaf tuan, sedari pagi saya belum melihat keberadaan nyonya, biasanya meskipun hari libur nyonya tetap bangun pagi untuk pergi kerja, tapi hari ini saya belum melihat nyonya keluar dari kamarnya," jawab kepala pelayan.


"Apa sudah di bangunkan?" tanya Stefan lagi.


"Belum tuan, kami takut mengganggu nyonya istirahat," jawab kepala pelayan.


"Bodoh," maki Stefan.


Stefan segera pergi menuju kamar Rebecca untuk melihat keadaan Rebecca.


"Ambil kunci cadangan kamar tamu," perintah Stefan.


"Baik tuan," kepala pelayan itupun segera mengambil kunci cadangan kamar tamu yang di tempati oleh Rebecca.

__ADS_1


...***...


__ADS_2