CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#19


__ADS_3

Stefan berada dalam ruangan kerjanya di kantor, sebentar lagi waktunya dia pergi meeting bertemu klien di temani Rebecca.


"Cih, dasar wanita licik." ucap Stefan sambil tersenyum memandangi layar laptop di hadapannya.


Terlihat di dalam laptop milik Stefan ada sebuah rekaman cctv yang ada di rumahnya, tepatnya berada di depan kamar Stefan dan Briel.


Bisa dia lihat Rebecca yang berjalan keluar dari kamar Briel dan langsung membuka pintu kamar Stefan dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar Stefan.


Sedangkan di kamar Stefan sendiri, tidak ada kamera cctv yang terpasang jadi dia hanya tahu kalau Rebecca masuk ke dalam kamarnya setelah keluar dari kamar Briel.


"Kita lihat saja nanti kalau dia lihat rekaman cctv ini, apakah dia masih bisa berkilah." Stefan tersenyum smirk membayangkan nanti bagaimana wajah Rebecca saat melihat rekaman cctv itu.


Tok tok tok.


"Masuk." suruh Stefan.


"Permisi tuan, waktunya kita berangkat karena sebenar lagi klien kita akan segera sampai." ucap Rebecca setelah masuk ke dalam ruangan Stefan.


"Hmm." balas Stefan.

__ADS_1


Stefan beranjak bangun dan mengambil jas yang dia letakkan di pojok ruangan, baru setelah itu dia berjalan keluar dari ruangannya.


"Kemana Julian?" tanya Stefan saat melihat ruangan asisten Julian yang sepi.


"Tuan Julian masih belum kembali dari meninjau proyek tuan." jawab Rebecca.


Stefan hanya mengangguk saja, dia berjalan menuju lift yang khusus untuk dirinya dan di ikuti Rebecca di belakangnya.


Stefan tetap bersikap santai untuk saat ini, tapi tidak untuk nanti saat waktunya sudah tiba.


Mereka berdua pun pergi ke tempat meeting dengan Rebecca yang duduk di samping Stefan di jok belakang mobil, ada pak sopir yang mengendarai mobil Stefan.


Meeting pun berjalan dengan lancar, setelah di tentukan kesepakatan, Stefan dan Rebecca pun pergi meninggalkan tempat meeting.


"Eemm... tuan saya...."


"Makanlah dulu, nanti kita bicarakan." potong Stefan tanpa mengalihkan tatapannya dari makanan yang saat ini sudah mulai dia santap.


"Hufft...." hela nafas Rebecca agar tidak gugup.

__ADS_1


Rebecca pun menuruti Stefan untuk memakan makanan yang sudah dia pesan tadi.


Mereka makan tanpa ada yang bersuara, dan setelah selesai makan dan meja mereka juga sudah di bersihkan hanya tinggal ada minuman saja, kecanggungan pun terjadi.


Lebih tepatnya hanya Rebecca saja yang canggung, canggung bukan berarti malu melainkan karena takut dengan Stefan.


"Bisa kamu jelaskan?" ucap Stefan langsung pada intinya tidak basa basi terlebih dahulu.


"Saya tidak tahu tuan, saya berani sumpah kalau semalam saya tidak ingat apa apa, yang saya ingat saya terakhir kali tidur di kamar Briel, hanya itu saja selebihnya saya tidak ingat tuan." ucap Rebecca jujur, karena dia memang tidak ingat apa apa.


"Yakin seperti itu?" balas Stefan.


"Yakin tuan, mungkin ada yang iseng memindahkan saya ke dalam kamar tuan." balas Rebecca.


"Oh ya, kok saya tidak percaya?" balas Stefan lagi.


"Tunggu tuan, atau jangan jangan tuan sendiri yang sudah memindahkan saya ke dalam kamar tuan, dan setelah itu tuan pura pura tidak tahu agar bisa menuduh saya." curiga Rebecca kepada Stefan.


"Sembarangan kamu kalau ngomong, saya tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti itu. Kalaupun saya mau kamu tidur di kamar saya itu hanya dalam mimpi kamu saja, karena itu tidak akan pernah terjadi." balas Stefan garang.

__ADS_1


"Nih lihat, apakah setelah melihat ini kamu masih bisa berbohong dan menuduh saya." Stefan menyodorkan handphone miliknya yang saat ini sudah ada rekaman cctv yang terputar di sana.


...***...


__ADS_2