
Rebecca sudah selesai membersihkan kandang singa dan memandikan singa Briel juga, di bantu Briel meskipun lebih banyak Briel bermain main dengan singa kecilnya.
"Yee singanya udah wangi," senang Briel karena anak singa miliknya sudah bersih dan wangi.
"Nah singanya kan sudah wangi, sekarang gantian Briel nya ayo mandi, nanti baru boleh main lagi sama singanya," ajak Rebecca agar Briel mandi karena pakai Briel sudah basah semua dan kotor.
"Bentar ya mom, Briel masih mau main dulu sama singa," balas Briel yang masih ingin bermain main sama singa miliknya.
"Ya sudah, tapi sebentar saja ya, nanti takutnya keburu papi pulang tapi Briel belum mandi, nanti papi bisa marah," balas Briel.
"Iya mom bentar lagi kok," balas Briel sambil bermain main dengan anak singa.
Lima menit pun berlalu, tapi Briel masih juga asik bermain dengan singa miliknya, dia belum ada tanda tanda akan beranjak mandi, sehingga membuat Rebecca harus memaksa Briel untuk segera mandi sebelum Stefan pulang.
"Briel sayang, ayo kita mandi sekarang yuk, nanti keburu papi pulang loh," ajak Rebecca lagi, tapi tak di hiraukan oleh Briel..
"Hahaha... ayo kejar aku," tawa Briel yang tengah asik main kejar kejaran sama singa.
"Haduh gimana ini, mana sudah waktunya mas Stefan pulang kerja lagi," panik Rebecca, dia takut kalau nanti Stefan pulang dan melihat Briel tengah bermain kotor kotoran sehingga membuat pakaiannya kotor.
"Briel sayang, ayo kita mandi ya nak," ajak Rebecca, kali ini dia menghampiri Briel yang tengah memangku singa.
__ADS_1
"Sebental mom, singanya lagi mau bermanja-manja sama Bliel," balas Briel yang lagi lagi menolak ajakan Rebecca.
"Hufft...." Rebecca menghela nafasnya, dia akhirnya mengalah biarlah nanti dia kena marah Stefan dari pada harus memaksa Briel yang akhirnya nanti membuat Briel menangis.
Sementara itu, di depan mansion Stefan baru saja tiba di mansion nya, dia langsung berjalan cepat menuju belakang rumah untuk melihat keadaan anaknya.
"Kenapa kalian malah membiarkan anak saya main bersama siang sendiri hah," marah Stefan pada beberapa anak buahnya yang mengikuti langkah kaki Stefan menuju belakang rumah.
"Nona Briel tidak sendiri tuan, dia di temani istri anda di sana," jawab salah satu anak buah Stefan.
Stefan menghentikan langkahnya dan menatap anak buahnya itu.
"Apa kamu pikir istri saya itu sama seperti kalian yang sudah terbiasa dengan hewan buas Hah, meskipun singa itu kecil, tapi tetap saja itu bahaya," marah Stefan karena dia merasa anak buahnya terlalu teledor.
Stefan tak menghiraukan anak buahnya lagi, dia melanjutkan langkahnya menuju belakang rumah dengan langkah yang semakin cepat, seperti orang yang tengah berlari agar segera sampai di kandang singa milik anaknya.
"Briel sayang kamu tidak apa apa kan?" tanya Stefan yang baru datang di kandang singa.
"Hahaha papi lihat, singanya jilatin pipi Briel, geli papi hahaha," tawa Briel karena anak singa itu menjilati pipinya.
"Astaga Briel,"panik Stefan, dia langsung menjauhkan Briel dari anak singa itu.
__ADS_1
Stefan mengendong Briel keluar dari kandang singa, sedangkan anak singa itu langsung di amankan oleh anak buah Stefan.
"Iiih papi kok singa nya di masukin kandang sih, Bliel kan masih mau main sama singa nya," ucap Briel meronta-ronta minta di turunkan dari gendongan Stefan.
"Itu bahaya sayang, anak singa itu bisa saja mengigit kamu," balas Stefan yang tetap memegang erat tubuh anaknya yang berada di dalam gendongannya.
"Enggak papi, anak singanya baik, dia teman Briel," balas Briel meronta ronta meminta untuk di turunkan.
Akhirnya Stefan pun mengalah, dia menurunkan Briel dari gendongannya dan Briel langsung berlari mendekati kandang singa yang sudah di kunci oleh anak buahnya.
"Singaa...." teriak Briel memanggil anak singa miliknya.
"Briel," panggil Rebecca yang baru saja datang.
"Loh kamu sudah pulang mas," lanjut Rebecca yang melihat kedatangan Stefan.
"Dari mana saja kamu Hah, kamu mau membuat anak saya celaka dengan membiarkan dia main sendiri dengan anak singa itu," marah Stefan kepada Rebecca.
"Maaf mas, tapi tadi aku mau am...."
"Halah, kamu memang tidak bisa di percaya, dasar jal*ng,"
__ADS_1
Deg.
...***...