CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#14


__ADS_3

"Briel." pangil Stefan menghampiri Briel dan Rebecca.


"Papa." balas Briel berlari menghampiri Stefan yang tengah berjalan ke arahnya.


Stefan pun segera menangkap Briel dan membawanya ke dalam gendongannya.


Sedangkan Amoora yang ada di sana pun jadi kikuk saat melihat kedatangan Stefan, dia jadi teringat tadi dengan roti sobek Stefan yang sangat mengiurkan untuk di pegang.


"Papa lihat deh, Tante cantik gendong baby singanya loh." Briel menunjuk ke arah Rebecca yang tengah memangku anak singa.


Rebecca yang mendengar ucapan Briel pun semakin menundukkan kepalanya dan dia melepaskan anak singa itu dari pangkuannya.


"Ehem." dehem Stefan duduk tidak terlalu jauh dari Rebecca.


"Apakah kamu tidak takut kalau anak singa ini mengigitmu?" tanya Stefan kepada Rebecca yang masih setia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Papa, papa, Tante cantik malah punya yang lebih besar loh, namanya cantik." bukan Rebecca yang membalas ucapan Stefan, melainkan Briel yang memberi tahu Stefan tentang si cantik singa.


Kening Stefan berkerut pertanda bingung dengan maksud sang anak.


"Maksud Briel siapa yang lebih besar?" tanya Stefan kepada Rebecca untuk lebih jelasnya dengan yang di maksud anaknya.


"Emmm... itu singa peliharaan Abah Ramli tuan, namanya cantik." jawab Rebecca menatap Stefan sebentar, tapi saat dia beradu tatapan dengan Stefan membuat nyalinya menciut dan akhirnya dia pun menundukkan kepalanya kembali.


"Pelihara singa maksud kamu?" tanya Stefan lagi memastikan.


Mendengar apa yang anaknya katakan, Stefan menatap semakin tajam kepada Amoora.


"Kenapa kau membiarkan anakku main dengan singa yang besar, apa kau tidak tahu bagaimana bahaya singa itu." tegas Stefan memarahi Rebecca.


"Maaf tuan, saya tadi juga tidak tahu kalau Briel bisa tahu ada kandang singa di sana." balas Rebecca benar adanya.

__ADS_1


Pasalnya dia memang tidak tahu kalau Briel mengetahui ada kandang singa di sana, apalagi sampai Briel mengeluarkan singa itu dari kandangnya pun Rebecca tidak tahu.


"Ceroboh, bukannya saya menyuruhmu untuk menjaga Briel, kenapa malah kau biarkan dia main sendirian Hah." Stefan semakin marah kepada Rebecca.


"Maaf tuan, tadi saja ada keperluan jadi sekalian saya ajak Briel juga. Kebetulan di sana juga banyak anak anak, saya pikir Briel akan merasa senang di sana." balas Rebecca ******* ***** ujung bajunya karena takut dengan Stefan.


"Papa sudah jangan di malahin tante cantiknya, ini yang salah Bliel kok bukan tante cantik." Briel yang melihat tante cantiknya di marahin pun tidak terima, karena di sana dia yang salah karena sudah main melepaskan singa saja tanpa izin terlebih dahulu.


"Tidak sayang, Tante beccanya harus tetap di marahi karena tidak becus menjaga kamu, apalagi tadi dia juga sudah pergi mengerjakan urusan pribadi di jam kerja, jadi gaji kamu juga akan saya potong." balas Stefan menatap Briel lembut berusaha untuk memberikan pengertian, tapi di bagian akhir kalimatnya dia menoleh ke arah Rebecca yang kebetulan juga tengah menatap kearah.


Stefan memberikan tatapan mautnya kepada Rebecca yang membuat Rebecca semakin menelan ludahnya kasar.


"Saya mohon tuan, saya minta maaf, jangan potong gaji saya tuan." mohon Rebecca di tengah rasa takutnya terhadap Stefan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2