CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#87


__ADS_3

"Nah gitu dong diam,"bisik Stefan lagi.


"Apaan sih lepasin gak," berontak Rebecca.


"Kalau aku gak mau gimana hmm?" balas Stefan semakin membuat perut Rebecca terasa di kelilingi kupu kupu.


Aku, apakah Rebecca tidak salah denger, Stefan memanggil dirinya sendiri aku, bukan saya seperti biasanya.


Rebecca diam, dia berpikir dia tidak akan mungkin bisa terlepas dari Stefan kalau dia menggunakan kekuatannya, jadi dia harus menggunakan otaknya untuk berfikir.


Tapi, bagaimana caranya dia bisa terlepas dari Stefan tanpa harus menggunakan tenaganya.


Ting.


Terlintas ide di otak Rebecca, bukan ide yang sangat cemerlang, tapi ini ide yang mungkin bisa Rebecca gunakan untuk mengelabui Stefan.


"Aduh aku kebelet buang air kecil, tolong minggir dulu aku mau ke kamar mandi," ucap Rebecca meminta untuk di lepaskan.


"Mau kemana hmm, kamu pikir aku bakalan percaya dengan akal akalan mu itu," balas Stefan yang bisa menebak kelicikan Rebecca.

__ADS_1


"Ini beneran, aku beneran kebelet, tolong lepasin nanti aku keburu kencing di sini," balas Rebecca.


"Silahkan saja baby, tidak masalah kalau kamu mau kencing di sini, nanti tinggal ganti ranjang saja," balas Stefan santai sambil terus menatap Rebecca.


"Aduh gimana ini, aku harus bisa terbebas dari mas Stefan, aku takut kalau gak bisa nahan diri untuk menyentuh tubuhnya yang sangat menggoda ini," batin Rebecca.


Rebecca terus terdiam sambil merencanakan cara agar dia bisa terlepas dari Stefan, dan tanpa Rebecca sadari ternyata Stefan tengah menatap dirinya.


"Aku minta maaf," ucap Stefan lirih.


Mendengar hal itu refleks Rebecca langsung mendongakkan kepalanya menatap ke arah Stefan.


"Aku minta maaf, aku minta maaf karena selama ini belum menjadi suami yang baik buat kamu," lanjut Stefan meminta maaf dengan tulus.


"Mas," ucap Rebecca memotong perkataan Stefan.


Stefan menatap mata Rebecca dalam, dan Rebecca pun membalas tatapan itu.


"Kamu gak mabok kan?" tanya Rebecca yang tidak percaya dengan Stefan yang saat ini tengah berada di atasnya.

__ADS_1


"Hah!"


Stefan melongo mendengar pertanyaan Rebecca, hei dia sudah memberanikan diri dan membuang rasa gengsi nya untuk mengatakan kata maaf, tapi lihatlah tanggapan Rebecca, dia tidak mempercayai dirinya.


"Ah sudahlah sana pergi ke kamar mandi, katanya mau kencing." Stefan menyingkirkan tangannya, dia tidur terlentang sambil menatap langit langit kamarnya.


Sedangkan Rebecca yang sudah mendapatkan peluang untuk kabur pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, bodo amat dengan Stefan yang penting sekarang dirinya harus bisa kabur dari jangkauan Stefan.


Rebecca segera beranjak pergi dan berlari menuju kamar mandi, sedangkan Stefan, dia langsung mengusap wajahnya kasar.


"Stefan bod*h, kau sudah terlalu banyak menyakiti hatinya, mana mungkin dia percaya hanya dengan kata kata yang kau ucapkan," ucap Stefan memaki dirinya sendiri.


"Tunggu." Stefan langsung bangun dan berjalan menuju pintu kamarnya.


"Aku harus menyembunyikan kunci ini, bisa bisa nanti dia kabur lagi dari kamar," gumam Stefan sambil menyimpan kunci kamarnya di tempat yang tidak bisa Rebecca jangkau, yaitu di atas almari yang sangat tinggi, Rebecca tidak setinggi itu untuk bisa menjangkau nya.


"Dah beres," lanjutnya dan kembali lagi berbaring di atas ranjang.


Untuk mengurangi rasa bosannya menunggu Rebecca keluar dari kamar mandi, Stefan memilih untuk memainkan handphonenya sambil memantau saham perusahaan miliknya.

__ADS_1


...***...


Maaf ya dikit dikit, yang penting update tiap hari dah🙏🙏😂😂😂


__ADS_2