
"Stef ajak Rebecca istirahat gih, mungkin dia sudah capek." suruh mama Brigitta menyuruh agar Stefan mengajak Rebecca untuk istirahat karena hari juga sudah larut malam.
"Iya ma, ayo sayang aku antar kamu ke kamar tamu." Stefan mengajak Rebecca pergi.
"Loh kok kamar tamu sih kak, kenapa kalian gak tidur bareng aja, lagian kan sebentar lagi pasti kalian akan menikah." sela Ica heran.
"Benar itu, udah kamu ajak Rebecca tidur di kamar kamu aja, lagian kamar tamunya juga belum di bersihkan." setuju mama Brigitta.
"Ma, jangan aneh aneh deh." Stefan menatap mama mertuanya penuh harap agar tidak menuruti apa yang Ica ucapkan.
"Rebecca sayang, kamu tidur sama Stefan gak papa kan, soalnya kamar tamunya belum di bersihkan." mama Brigitta tak menghiraukan Stefan, dia malah menggajak Rebecca berbicara.
"Tapi ma, kita berdua kan belum menikah?" balas Rebecca yang memang tak ingin satu kamar dengan Stefan.
Meskipun Rebecca ingin tapi Rebecca juga masih punya otak, dia tidak boleh tidur sekamar sama laki laki lain, apalagi itu Stefan, nanti yang ada malah dirinya tidak bisa mengontrol diri.
"Udah gak papa untuk malam ini aja, lagian kalian juga akan menikahkan." paksa mama Brigitta.
__ADS_1
"Tapi ma...."
"Stefan ayo cepat bawa Rebecca ke kamar, kasian loh dia kayaknya sudah ngantuk." mama Brigitta memotong ucapan Rebecca.
"Huh, ya udah yuk kita ke atas nanti kita pikirkan di kamar." ajak Stefan dan langsungnya berlalu pergi dari sana tanpa berpamitan kepada ibu mertua dan juga adik iparnya.
"Kamu pinter banget sih, pokoknya kalau sampai mereka malam ini tidak tidur satu kamar berarti memang mereka itu hanya pasangan pura pura saja." ucap mama Brigitta memuji Ica karena tadi sudah mengusulkan agar Stefan dan Rebecca tidur satu kamar.
Ya, sebenarnya mama Brigitta dan Ica sangat curiga kalau Rebecca itu hanya pacar pura pura Stefan. Karena yang mereka tahu Stefan tidak pernah dekat dengan wanita manapun setelah kepergian Bella istrinya.
Tapi tadi saat melihat kedekatan Briel dan Rebecca mereka agak percaya sedikit, tapi untuk memastikannya lagi Ica mempunyai ide untuk menjebak mereka agar bisa tidur satu kamar seperti saat ini.
"Udah yuk kita ke kamar juga, kasian suami kamu juga pasti sudah menunggu kamu di kamar." ajak mama Brigitta.
"Mama tahu aja deh." balas Ica.
Mereka berdua pun langsung pergi ke kamar mereka masing masing yang berada di beda lantai. Ica di lantai dua satu lantai dengan kamar Stefan dan juga Briel, sedangkan kamar mama Brigitta berada di lantai satu.
__ADS_1
...**...
Sementara itu di dalam kamar Stefan, kecanggungan pun terjadi. Stefan bingung harus melakukan apa, dan begitu juga dengan Rebecca, alhasil mereka hanya saling diam satu sama lain.
Rebecca masih menggenakan gaun yang tadi dia pakai untuk makan malam, begitu pula dengan Stefan yang masih memakai kemejanya, tapi bedanya jas Stefan sudah dia lepas.
"Ehem." dehem Stefan setelah mereka berdua terdiam beberapa lama.
"Emm... apakah kamu mau ke kamar mandi?" tanya Stefan canggung.
Entah kenapa Stefan jadi deg deg degan karena satu kamar dengan Rebecca, apalagi pakaian Rebecca seperti itu. Mungkin kalau Stefan tak punya otak pasti dia langsung menerkam Rebecca saat mereka masuk ke dalam kamar tadi.
"Aku gak bawa baju ganti." balas Rebecca benar adanya.
"Emm... kamu pakai baju aku mau gak, ya walaupun mungkin kebesaran di tubuh kecilmu itu." tawar Stefan sambil matanya memperhatikan tubuh Rebecca.
"Enak aja, tubuh aku besar." tak terima Rebecca.
__ADS_1
"Iya dadanya yang besar, ups keceplosan." Stefan langsung menutup mulutnya yang sangat licin itu.
...***...