
"Bisa gila ini saya lama lama." batin Stefan yang melihat pemandangan indah di depannya.
"Tahan tahan." batin Stefan lagi.
"PAPI." teriak Briel lagi karena Stefan malah memandangi tubuh Rebecca, bukannya menjawab pertanyaan.
"Hah, iya sayang kenapa hmm?" gagap Stefan dan berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
"Iih papi kok ngeselin sih, pokoknya papi halus jelaskan semuanya." garang Briel menatap Stefan tajam.
Glek.
Anaknya ini bisa gara gara juga ternyata, meskipun dengan logat gak bisa huruf R.
"Iya sih papi jelaskan." Stefan menyuruh agar Briel mendekat kepadanya.
Briel pun menurut, dia berjalan menghampiri Stefan dan langsung naik ke atas ranjang.
Sementara itu, Rebecca yang samar samar mendengar suara berisik di sekitarnya pun merasa terusik, dia pun perlahan membuka matanya dan menyesuaikan keadaan yang ada.
__ADS_1
"Loh, aku ada di mana?" batin Rebecca melihat sekitar dan itu bukan kamarnya.
Dan saat di melihat ke arah sampingnya di mana ada orang yang tengah saling berbicara matanya langsung melotot karena dia melihat ada tuannya di sana.
"Tu-an kok saya bisa di sini?" tanya Rebecca langsung bangun dan menatap Stefan yang tengah memangku Briel.
"Kamu tanya saya, seharusnya saya yang tanya kamu, kenapa kamu malah tidur di kamarku?" balas Stefan membalas tatapan Stefan.
"Tante, Tante cantik kok bisa tidul di sini sih, kan kemaren Tante tidul di kamal Bliel?" tanya Briel ikutan menimbrung ucapan kedua orang dewasa itu.
"Ta, Tante gak tahu sayang." jujur Rebecca, karena memang dia tidak ingat apa apa.
"Astaga tuan, bener aku gak bohong, aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini." balas Rebecca karena memang dia tidak tahu apa apa.
"Halah, udah ngaku aja, ini pasti semuanya udah kamu rencanakan. Semalam kamu tidur di kamar anakku dan tidak pulang, itu pasti biar kamu bisa masuk ke dalam kamarku kalau aku sudah tidur, iya kan benar apa yang saya katakan?" tuduh Stefan lagi.
"Saya gak bohong tuan, saya emang gak tahu kenapa saya malah ada di sini." balas Rebecca tetap kekeh.
"PAPI jangan marahin Tante cantik terus, nanti Tante cantik bisa nangis." bentak Briel kepada papanya.
__ADS_1
Stefan melotot, bisa bisanya anaknya ini malah membentak dirinya bukannya malah membantunya.
"Sayang kamu kok bentak papi sih, papi nangis nih." Stefan pura pura merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Tante ayo kita keluar, Tante cuci mukanya di kamar Bliel aja, biarin papi di sini sendiri." bukannya menenangkan papinya yang tengah pura pura sedih, Briel malah ingin mengajak Rebecca keluar dari kamar Stefan.
Rebecca yang memang tidak ingin berhadapan dengan Stefan di tengah tengah rasa bingungnya karena tidak mengingat kejadian semalam pun memilih untuk mengikuti Briel saja.
Rebecca turun dari atas ranjang dan merapikan penampilannya sebentar baru setelah itu dia langsung menggendong Briel keluar dari kamar Stefan.
"Becca, ingat malah kita belum selesai." ucap Stefan yang masih di dengar oleh Rebecca.
Rebecca hanya menoleh dan menelan ludahnya kasar dan segera keluar dari kamar Stefan sebelum nanti Stefan makin marah.
"**1*, awas aja nanti," umpat Stefan menatap kepergian Rebecca dan Briel.
Stefan pun langsung beranjak pergi dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, urusan Rebecca biar dia urus nanti.
...***...
__ADS_1