CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#33


__ADS_3

Stefan dan Rebecca tengah sama sama fokus bekerja, Stefan belum mengatakan hukuman apa yang akan dia berikan kepada Rebecca, dia pikir nanti saja kalau saat waktunya sudah tepat.


Drrtt drrtt drrtt.


Saat tengah fokus membaca sebuah berkas, telfon Stefan berbunyi tapi Stefan tak menghiraukan itu karena dia menganggap kalau telfon itu sangat tidak penting.


Drrtt drrtt drrtt.


Lagi lagi telfon Stefan berbunyi.


Tut.


"Ganggu orang aja." kesal Stefan mematikan sambungan telefon itu dan langsung menonaktifkan handphonenya.


Setelah tak ada lagi suara handphone, Stefan pun kembali fokus membaca berkas yang ada di tangannya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di ruangan Julian dia baru saja menerima telfon dari mantan adik ipar Stefan yang tak lain adalah Ica.


'Iya halo nona Ica, ada apa?' balas Julian meletakkan handphone miliknya di antara bahu dan telinganya sambil tangannya memegang berkas dan mata yang tetap fokus menatap berkas yang ada di tangannya.

__ADS_1


'Halo kak, kakak tahu kak Stefan ada di mana gak, Oma masuk rumah sakit kak, jantung oma kambuh lagi, hiks hiks.' balas Ica sambil menangis membuat Julian langsung meletakkan berkas itu di atas meja.


'Nona yang tenang ya, dan jangan panik, aku kasih tahu tuan Stefan dulu.'


'Terimakasih asisten Julian, saya tunggu kabarnya.' balas Ica sambil sesenggukan.


"Iya nona, kalau begitu saya tutup dulu, nona bisa mengirimkan alamat rumah sakit tempat nyonya Brigitta lewat pesan biar nanti saya kasih tahu tuan Stef.' balas Julian.


Tut.


Setelah itu sambungan telepon pun terputus, Julian langsung berlari menuju ruangan Stefan yang ada di sampingnya untuk memberi tahu Stefan tentang berita ini.


Ceklek.


"Permisi tuan." ucap Julian yang langsung membuka pintu ruangan Stefan tanpa mengetuknya dahulu.


"Apakah kau melupakan aturan perusahaan Julian?" tanya Stefan dengan tatapan tajamnya.


"Maaf tuan, tapi ini penting banget, nyonya Brigitta masuk rumah sakit karena jantungnya kambuh lagi, barusan nona Ica menelfon saya." ucap Julian memberitahu Stefan.

__ADS_1


"**1*." umpat Stefan dan langsung menyalakan handphonenya kembali untuk melihat siapakah yang tadi menelfonnya.


Dan benar saja dugaannya, ternyata tadi yang menelfon Stefan adalah Ica, mungkin Ica tadi ingin memberitahu dirinya tentang keadaan mama Brigitta, tapi malah dia tolak sehingga Ica memilih menghubungi Julian.


"Di rumah sakit mana, siapakah mobil sekarang." Stefan mengambil jas yang dia letakkan di sandaran kursi kerjanya.


"Di rumah sakit XXX tuan, kalau begitu saya permisi dulu untuk menyiapkan mobil anda." Julian langsung pergi meninggalkan Stefan untuk menyiapkan mobil buat Stefan.


Stefan keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa, saat melewati pintu ruangan Rebecca Stefan memundurkan langkahnya dan masuk ke dalam ruangan Rebecca.


"Ayo ikut saya pergi, mama masuk rumah sakit, kita harus segera ke sana." ajak Stefan dan langsung pergi meninggalkan Rebecca.


"Apa, mama Brigitta masuk rumah sakit " kaget Rebecca dan segera mengambil tas serta handphone miliknya, tak lupa sebelum pergi Rebecca juga mematikan laptop miliknya dan setelah itu dia langsung berlari mengejar Stefan.


Stefan tadi ingat, kalau Rebecca terlibat dalam rencananya semalam, jadi kalau dalam kondisi yang seperti ini dia harus melibatkan Rebecca kembali agar penyakit mama Brigitta tidak bertambah parah.


...***...


Wes rek sak mono ae, aku ngantuk 😂

__ADS_1


__ADS_2