
"Bliel mau di suapi mommy boleh?" pinta Briel kepada Rebecca yang tengah mengambilkan makanan sarapan untuk Briel.
"Boleh dong, tapi bentar dulu ya kita tunggu papi dulu." balas Rebecca.
"Oke mom." balas Briel.
Tak lama setelah Rebecca mengambil makanan untuk dirinya sendiri terlihat Stefan turun dari anak tangga menuju meja makan.
"Selamat pagi anak papi." sapa Stefan kepada Briel lembut penuh kasih sayang sambil mencium puncak kepala Briel.
"Selamat pagi juga papi." balas Briel.
"Kok mommy gak di sapa juga pi?" tanya Briel.
"Nanti kamu berangkat sekolah sama pak sopir ya, papi harus cepat cepat pergi ke kantor, kamu di antar sama mommy ya." Stefan mengalihkan pembicaraan Briel.
"Oke pi, tapi nanti pulang dari sekolah Bliel boleh pergi ke kantor papi kan?" balas Briel yang melupakan pertanyaannya tadi yang tidak di jawab Stefan.
"Iya boleh." balas Stefan.
"Kamu mau makan sama apa mas?" tanya Rebecca setelah Stefan dan Briel menyelesaikan pembicaraan mereka.
"Apa saja." balas Stefan acuh.
__ADS_1
Rebecca pun mengambilkan makanan kesukaan Stefan yang sudah dia ketahui dari bi Ijah tadi.
"Segini cukup mas?" tanya Rebecca lagi.
"Hmm." balas Stefan.
Rebecca pun menyerahkan makanan kepada Stefan dan langsung di santap oleh Stefan.
"Iih papi gimana sih, tadi kita udah tungguin papi lho biar bisa makan bersama, ehh malah papinya makan duluan." protes Briel dengan bibir yang sudah cemberut.
"Udah sini mommy suapi, mungkin papi lagi buru buru." sela Rebecca dan mulai menyuapkan sarapan kepada Briel.
"Iya benar kata mommy, maaf ya papi soalnya buru buru." balas Stefan.
"Huh." dengus Briel.
Rebecca senang kalau Briel bisa menerima keadaan dirinya seperti ini, meskipun suaminya sendiri acuh kepadanya.
"Udah mom Bliel udah kenyang." ucap Briel yang merasa perutnya sudah penuh.
"Satu suap lagi sayang." balas Rebecca memaksa Briel untuk makan satu suap lagi karena memang di piring Briel tinggal satu suap lagi.
"Jangan di paksa, kalau dia bilang udah kenyang yang sudah berhenti jangan di paksa seperti itu, kamu mau bikin anak saya sakit perut." Stefan menatap Rebecca.
__ADS_1
"Iya mas maaf," hanya kata maaf ya bisa Rebecca ucapkan.
Lebih baik dia mengalah dari pada nanti timbul perdebatan di meja makan, apalagi ini masih ada Briel.
"Papi kok marahin mommy sih, perut Briel masih muat kok kalau cuma satu suap aja." Briel tak terima kalau Stefan memarahi Rebecca.
"Papi gak marahin mommy kok, papi cuma kasih tahu mommy aja, iya kan mom?" balas Stefan membela dirinya dengan meminta dukungan dari Rebecca.
"I-iya sayang, papi gak marah kok sama mommy." balas Rebecca di sertai senyum.
"Ya sudah Bliel tunggu mommy di depan ya Bliel udah selesai, mommy lanjutin aja sarapannya." ucap Briel pamit.
"Iya sayang, bentar lagi mommy selesai kok." balas Rebecca.
Briel sebelum pergi tak lupa mencium tangan Stefan dan juga mencium kedua pipinya dan setelah itu dia pergi meninggalkan tempat makan.
"Saya gak suka kalau kamu memaksa Briel seperti itu, kalau kamu memang tidak bisa menjadi ibu yang baik lebih baik jangan lakuin itu, saya tidak mau anak saya kenapa kenapa gara gara perlakuan kamu." tegas Stefan memperingati Rebecca.
"Iya mas, maaf tadi saya salah." balas Rebecca menundukkan kepalanya takut menatap wajah Stefan yang sangat menyeramkan.
Tanpa berpamitan Stefan pergi meninggalkan tempat makan, setelah kepergian Stefan satu tetes air mata yang tadi Rebecca tahan pun akhirnya turun juga.
"Tenang becca, lu harus kuat ini masih permulaan, nanti kedepannya akan ada banyak lagi cobaan cobaan yang akan datang, lu harus lebih kuat." ucap Rebecca menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Karena tak nafsu makan lagi, Rebecca pun segera pergi ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan setelah itu dia segera keluar dari rumah karena Briel sudah menunggu dirinya di depan.
...***...