
Malam semakin larut, Rebecca sudah berada di atas ranjang milik Stefan, sedangkan sang punya kamar entah berada di mana dia.
"Mas Stef kemana sih, kok belum masuk ke kamar juga, apa dia gak mau tidur satu kamar sama aku ya?" tanya Rebecca pada dirinya sendiri.
drrtt drrtt drrtt.
Handphone Rebecca yang dia letakkan di atas meja samping tempat tidur berbunyi, Rebecca pun segera mengambil handphonenya dan mengangkat panggilan telepon yang ternyata berasal dari Pricillia.
'Halo Pric.' sapa Rebecca setelah mengangkat panggilan telepon itu.
'Becca lo kemana sih dari tadi gue tungguin lu kok gak pulang pulang, jangan bilang lu nginap lagi di rumah si duda itu?' cerocos Pricillia.
'Aduh sorry gue lupa kasih tahu lu, sepertinya gue gak akan balik lagi ke kontrakan deh.'
'Hah kenapa, kok gitu? Jangan bilang lu sekarang sudah jadi baby sitter anaknya tuan Stefan?' tebak Pricillia.
'Bukan baby sitter, tapi sekarang gue udah jadi istrinya tuan Stefan.' jelas Rebecca membuat Pricillia semakin kaget.
' Hah kok bisa, lu jangan ngawur deh kalau ngomong, jujur sama gue kalau lu lagi mau ngeprank gue kan?' tak percaya Pricillia.
__ADS_1
'Gue gak bohong pric, besok gue bakal jelasin semuanya sama lu, sekarang udah malam gue mau tidur dulu bye.'
Tut.
Rebecca langsung mematikan sambungan telepon dan menonaktifkan handphonenya agar Pricillia tak bisa menghubungi dirinya lagi.
Bukannya menghindar tapi Rebecca mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke arah kamar Stefan, dan Rebecca yakin pasti langka kaki itu adalah milik Stefan.
Rebecca takut nanti kalau dia tetap telfonan dengan Pricillia Stefan akan mengetahui pembicaraan mereka berdua, jadi alangkah lebih baiknya kalau dia mematikan sambungan telefon.
Ceklek.
Dan benar saja dugaan Rebecca kalau langkah kaki tadi adalah punya Stefan.
"Iya mas, maaf kalau mas Stef gak suka aku bisa pindah ke kamar lain kok." Rebecca menurunkan kakinya hendak beranjak dari atas ranjang.
"Sudah tetap di sana saja, lagian saya juga membebaskan mu terserah mau tidur di mana." balas Stefan membuat Rebecca mengurungkan niatnya untuk pindah kamar.
Setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi Stefan langsung pergi ke kamar mandi, sepertinya dia hendak mencuci tangannya dan bergotong gigi.
__ADS_1
"Cih, aku tidak bakalan tergoda meskipun kau tinggal satu atap denganku setelah aku tahu sifat aslimu yang sama saja seperti wanita di luaran sana." ucap Stefan setelah sampai di kamar mandi.
Stefan menyelesaikan kegiatannya dan setelah selesai dia keluar dari kamar mandi mencari baju tidurnya di walk in closed dan berganti baju di sana.
"Tenang Rebecca tenang, dia sudah menjadi suamimu jadi tidak ada lagi yang perlu kau takutkan." gumam Rebecca agar dirinya tenang saat nanti tidur satu ranjang dengan Stefan.
Ceklek.
Pintu walk in closed terbuka dan menampilkan Stefan yang keluar dengan memakai pakaian tidurnya yang berbentuk jubah.
Glek.
Rebecca menelan ludahnya kasar saat dia melihat dada bidang Stefan yang terlihat di antara jubah tidur yang Stefan kenakan.
"Saya tidur dulu nanti kalau kau mau tidur matikan lampunya." ucap Stefan berbaring di samping Rebecca yang tengah duduk selonjoran di atas ranjang.
"Aku kira dia bakalan meminta jatahnya di malam pengantin ini." batin Rebecca.
Padahal tadi Rebecca sudah menyiapkan dirinya, ehh taunya malah Stefan cuek dan seolah tidak menganggapnya.
__ADS_1
Tak mau ambil pusing, karena dia juga sudah ngantuk juga Rebecca pun mematikan lampu kamar menggantikannya dengan lampu tidur dan setelah itu dia merebahkan tubuhnya di samping Stefan.
...***...