CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#62


__ADS_3

Stefan terdiam mendengar sindiran Rebecca, benar apa yang Rebecca katakan, Rebecca gak salah, dialah yang salah di sini.


Kemaren kemaren Rebecca sudah baik kepada anaknya, tapi karena ucapannya Rebecca jadi seperti ini, ini semua memang salahnya, pikir Stefan.


"Maaf saya buru buru, saya permisi dulu," ucap Rebecca pergi menjauh dari mobil Stefan.


"Mommy, mommy mau kemana?" teriak Briel memanggil Rebecca yang sudah pergi menjauh dari mereka.


"Ini semua gara gara papi, Briel malah sama papi," marah Briel.


Briel keluar dari mobilnya dan langsung kembali masuk ke dalam rumah.


"Briel, Briel sayang kamu harus sekolah nak," teriak Stefan memanggil anaknya tapi tak Briel hiraukan.


"AAGRRRR...." erang Stefan dan langsung keluar dari mobil mengejar Briel masuk kedalam rumah.


"Maafkan mommy sayang, mommy capek kalau papi kamu terus terusan memperlakukan mommy seperti itu, mommy terpaksa melakukan ini sayang," batin Rebecca yang sebenarnya tersiksa mendengar Briel teriak teriak memanggil namanya.


Rebecca pergi meninggalkan mansion, dan di luar sudah ada ojek online yang menunggu dirinya untuk pergi ke cafe.


Sementara itu, Stefan mencari keberadaan Briel, karena Briel tidak ada di dalam kamarnya.


"Bi, bibi," teriak Stefan memanggil pelayan yang bekerja di mansion nya.


"Iya tuan," balas pelayan.

__ADS_1


"Bibi lihat anak saya gak, dia tidak ada di kamar," tanya Stefan terkait keberadaan Briel.


"Bukannya tadi nona Briel sudah pergi sekolah bersama anda tuan?" balas pelayan yang melihat kalau Briel sudah pergi ke sekolah.


"Dia marah sama saya bi dan kembali masuk ke dalam rumah, tapi saya cari dia di kamarnya gak ada," jelas Stefan.


"Tolong kasih tahu yang lain suruh bantu cari anak saya," lanjut Stefan memerintah pada pelayan itu agar memberitahu teman teman nya.


"Baik tuan," balas pelayan itu.


Stefan pun langsung pergi ke kamarnya untuk memeriksa di sana apakah ada anaknya atau tidak, tapi dia tidak menemukan adanya Briel di sana.


Stefan juga mencari Briel ke ruang kerjanya tapi hasilnya nihil, Briel tidak ada di sana. Entah kemana sembunyi nya anak nya itu, bikin Stefan pusing saja.


"Briel kamu dimana sih nak, jangan buat papi khawatir seperti ini," ucap Stefan yang pusing mencari keberadaan Briel di seluruh mansionnya.


"Tuan tuan, kami sudah menemukan keberadaan nona Briel," ucap pelayan menghampiri Stefan.


"Dimana bi, dimana anak saya?" tanya Stefan.


"Nona Briel ada di belakang tuan, dia ada di dalam kamar nyonya Rebecca yang sekarang," jawab pelayan itu.


Deg.


"Apakah Briel tahu," pikir Stefan.

__ADS_1


Stefan pun langsung berlari menuju bagian belakang mansionnya yang terdapat kamar kamar pelayan, tepat di samping kamar itu ada kandang singa milik Briel yang terpisahkan oleh tembok.


"Mommy hiks maafin Bliel, Bliel sayang sama mommy, jangan jauhin Bliel, hiks hiks," tangis Briel di dalam kamar Rebecca sambil memeluk foto Rebecca yang dia ambil di atas meja samping tempat tidur Rebecca.


"Briel sayang," ucap Stefan yang melihat anaknya terduduk di lantai sambil menangis memanggil manggil Rebecca.


Stefan mendekati anaknya, dia hendak memeluk Briel tapi Briel langsung menolaknya.


Papi jahat, papi udah jahat sama mommy, Bliel benci sama papi," ucap Briel menjauh dari tubuh Stefan.


"Sayang, maafkan papi ya, ayo kita ke kamar kamu ya," ajak Stefan.


Stefan takut kalau Briel berada di sana nanti dia terkena virus virus yang menjijikan, karena di sana kamarnya sangat kecil dan dekat dengan kandang singa.


"Gak mau, Bliel mau tidur di sini sama mommy, Bliel mau temani mommy," tolak Briel.


"Papi jahat sudah usil mommy dari lumah, papi jahat," lanjut Briel.


Deg.


"Dia sudah tahu?"


...***...


...Maaf ya dikit dikit, harusnya tadi pengen up banyak tapi penyakit malesku datang 😂🙏🙏...

__ADS_1


...kasih semangat dong, lagi gada penyemangat nih🤭🤭...


__ADS_2