CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#79


__ADS_3

Stefan membuka pintu kamar Rebecca dengan kunci cadangan yang di berikan oleh kepala pelayan.


Ceklek.


Pintu terbuka dan Stefan langsung berjalan masuk ke dalam kamar Rebecca.


"Rebecca," ucap Stefan manggil Rebecca.


"****," umpat Stefan pelan.


Stefan melihat Rebecca yang tengah tidur dengan posisi menyamping membelakangi pintu dan selimut yang tidak sepenuhnya menutupi tubuh Rebecca.


Rebecca tidur memakai pakaian yang sangat mini, sehingga saat selimut itu tidak sepenuhnya menutupi tubuh Rebecca membuat Stefan jadi bisa melihat paha mulus Rebecca yang sangat Stefan ingat semalam dia mencumbui nya.


Stefan pun berbalik dan kembali keluar dari kamar Rebecca sebelum nanti dia tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Ada apa tuan?" tanya kepala pelayan saat melihat Stefan kembali keluar dari kamar Rebecca.


"Tolong kamu lihat keadaan dia, kalau perlu bangunkan dia untuk sarapan karena ini sudah siang," ucap Stefan menyuruh agar kepala pelayan perempuan itu segera membangunkan Rebecca.


"Baik tuan," balas kepala pelayan.

__ADS_1


Stefan pun kembali pergi menghampiri anaknya yang masih asik main di depan televisi bersama mainan mainannya.


"Nyonya, permisi nyonya ini sudah siang apa anda tidak ingin bangun," ucap kepala pelayan membangunkan Rebecca dengan pelan.


"Ugghh...." lengkuh Rebecca membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu dimana ada kepala pelayan yang tengah membangunkan Rebecca.


"Bibi?" serak Rebecca yang melihat adanya pelayan di kamarnya.


"Maaf saya lancang masuk ke kamar anda, tadi saya di suruh tuan untuk membangunkan anda dan menyuruh anda untuk segera makan sarapan karena hari sudah siang," ucap kepala pelayan pada Rebecca.


"Mimpi apa dia memikirkan ku," pikir Rebecca setelah mendengar penjelasan kepala pelayan itu.


"Baik nyah, kalau begitu saya pamit pergi dulu," pamit kepala pelayan dan setelah mendapatkan anggukan dari Rebecca kepala pelayan itupun pergi meninggalkan kamar Rebecca.


"Aduh rasanya tubuhku remuk banget," keluh Rebecca saat merasakan tubuhnya yang terasa remuk, terutama di bagian area bawahnya.


"Jadi bolos kerja deh," lanjutnya lagi.


Karena belum meminta izin, Rebecca pun langsung mengirimkan pesan kepada Gilang kalau dia tidak masuk kerja hari ini lantaran sakit.


Setelah itu dengan jalan tertatih Rebecca pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Rebecca berendam sebentar dengan air hangat agar tubuhnya terasa sedikit lebih relaks.


...**...


Sementara itu, di cafe Gilang yang baru saja mendapatkan pesan dari Rebecca pun khawatir dengan keadaan Rebecca.


"Bagiamana ya kepadanya, dia sakit apa ya?" pikir Gilang yang tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan keadaan Rebecca.


"Apa aku datang aja ya ke rumahnya, ehh tapikan dia ada di rumah tuannya, pasti tidak bakalan di perbolehkan aku masuk ke sana," lanjut Gilang lagi.


"Ehh dia kan sudah punya suami, jadi mungkin dia sedang di rawat sama suaminya," lanjut Gilang lagi yang baru teringat kalau Rebecca sebenarnya sudah mempunyai suami dan anak.


"Tapi jadi Rebecca tuh pasti capek banget ya, setiap hari harus kerja, dan setelah kerja dia jugalah harus merawat bayi nya,"


"Seandainya dia jadi istriku, tak akan ku biarkan dia bekerja sedikitpun, aku akan memenuhi semua kebutuhannya dan membahagiakan dia semampu aku," lanjut Gilang yang tak tega melihat Rebecca harus bekerja padahal sudah mempunyai anak.


"Pasti suami dia pengangguran dan banyak tingkah, aku yakin pasti Rebecca sering menyewa jasa temen temennya sekampung.itu," lanjut Gilang.


"Au ah pusing mikirin anak orang, hidup sendiri aja masih suka berantakan, ini kok ngurusin hidup orang lain."


...***...

__ADS_1


__ADS_2