CEO Duda and Secretary

CEO Duda and Secretary
CDAS#20


__ADS_3

Rebecca terdiam melihat apa yang ada di depannya, dia sekarang jadi bingung harus bagaimana karena dia juga tidak mengingat kalau dia berjalan menuju kamar Stefan.


"Gimana hmm, masih mau mengelak juga?" tanya Stefan dengan pandangan yang meremehkan.


"Saya berani sumpah tuan, saya tidak mengingat apa apa, saya tidak menyadari kalau saya berjalan menuju kamar anda, yang saya ingat saya tidur di kamar Briel." balas Rebecca.


"Ooh masih gak mau ngaku juga, ok kalau begitu bulan ini gaji pertama kamu saya potong." ancam Stefan.


"Kita lihat saja nanti, kamu pikir saya bodoh apa tidak tahu apa yang sudah kamu rencanakan untuk bisa menjebakkku." batin Stefan.


"Jangan tuan jangan, jangan potong gaji saya saya mohon. Saya beneran tidak mengingat hal itu tuan, saya berani sumpah." mohon Rebecca agar Stefan tidak memotong gajinya.


"Kamu tinggal mengaku saja apa susahnya sih, kalau kamu ngaku hukuman kamu juga bakal saya ringankan." balas Stefan.


"Saya beneran tidak ingat apa apa tuan, saya tidak bohong." Rebecca tetap kekeh tidak mau mengakui kalau dirinya sengaja masuk ke dalam kamar Stefan untuk mengganggu Stefan. Karena memang dia tidak mengingat hal itu.


"Baiklah baiklah, gaji kamu akan tetap saya potong." balas Stefan.

__ADS_1


"Jangan tuan saya mohon, saya akan melakukan apapun asal tuan jangan memotong gaji saya tuan, saya mohon."


Bagi Rebecca gajinya itu sangatlah berharga, karena hanya dari sana dia mendapatkan penghasilan, jadi kalau sampai gajinya di potong penghasilannya akan berkurang nanti.


"Yakin mau melakukan apapun?" tanya Stefan tidak yakin dengan apa yang Rebecca ucapkan.


"Iya tuan saya yakin." balas Rebecca mantap.


"Oke, tapi nanti saya pikirkan dulu apa yang harus kamu kerjakan." balas Stefan yang akhirnya tidak akan memotong gaji Rebecca.


"Tapi ingat, kalau sampai kamu melakukan hal untuk menggoda saya ataupun ingin menjebak saya, saya tidak akan segan-segan potong gaji kamu, bahkan saya juga bisa melaporkan kamu ke polisi." ucap Stefan memperingatkan Rebecca agar tidak melakukan hal yang serupa seperti kemaren.


"Baik tuan, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." balas Rebecca.


"Oke, ya sudah ayo kita kembali ke kantor." ajak Stefan berdiri dari tempat duduknya dan di ikuti Rebecca.


Mereka kembali ke kantor menaiki mobil yang tadi, Rebecca duduk di samping Stefan karena memang Stefan tidak suka kalau harus duduk sendirian di jok belakang.

__ADS_1


Entah kenapa setiap duduk bersebelahan dengan Stefan, otak Rebecca tidak bisa di kondisikan. Mengingat bagaimana tubuh atletis Stefan yang sangat mengiurkan untuk di pandang mata.


"AAGRR... bisa gila aku lama lama kalau seperti ini, seandainya saja tuan Stef ini orangnya sangat lembut, pasti aku akan langsung menggodanya." batin Rebecca yang lagi lagi terpesona dengan Stefan.


Sementara itu untuk Stefan, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya saja, hingga sampai dia perusahaan tidak ada yang berbicara di antara mereka.


"Selamat datang tuan, bagaimana meeting nya apakah berhasil?" sambut Julian yang menyambut kedatangan Stefan dan Rebecca.


"Apakah kamu pernah mendengar seorang Stefan gagal memenangkan tender?" balas Stefan dengan sombongnya dan langsung berlalu pergi meninggalkan Julian dan juga Rebecca yang sedari tadi berjalan di belakangnya.


"Untung aku di gaji, coba kalau tidak udah aku geprek tuh kepala." omel Julian dan langsung masuk ke dalam ruangan Stefan untuk membicarakan hasil tadi dirinya pergi menemui klien.


Sedangkan Rebecca yang melihat mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Bahkan yang asisten Julian sudah lama bekerja dengan tuan Stef aja masih suka mengeluh, apalagi aku yang masih baru." gumam Rebecca dan langsung berlalu pergi menuju ruangannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2