
"Aah... sa...kit...." erang Rebecca kesakitan saat Stefan memasukkan miliknya dengan paksa.
"Ka-kamu...." Stefan tak bisa berkata-kata lagi melihat kenyataan yang ada di depan matanya.
Ternyata istri yang selama ini dia hina hina wanita murahan adalah dia sendiri yang mengambil kesuciannya.
"Tolong lepaskan, ini sangat sakit," pinta Rebecca yang merasa kesakitan.
"Saya tak bisa menghentikannya, nanti kamu juga akan kenikmatan," balas Stefan.
Mana mungkin Stefan akan berhenti di saat seperti ini, sudah pasti dia akan tetap melanjutkan kegiatannya meskipun Rebecca memohon sekalipun.
"Saya mulai gerak ya," izin Stefan tapi dia tidak menunggu persetujuan Rebecca Stefan langsung tancap gas, sehingga membuat Rebecca harus menahan rasa sakitnya.
Stefan terus menggempur Rebecca sampai menjelang pagi, sudah lama dia berpuasa, jadi sekarang dia menyalurkan semua hasratnya pada Rebecca.
Bahkan Stefan selalu mengeluarkan nya di dalam, entah dia sadar atau tidak kalau dia saat ini tidak memakai pengaman.
Sedangkan Rebecca jangan di tanya lagi, tubuhnya lemas, bahkan mungkin besok dia akan kesusahan berjalan akibat dari perbuatan Stefan malam ini.
__ADS_1
Rebecca sudah tidak lagi menangis karena dia pikir percuma juga dia menangis toh tidak akan bisa mengembalikan keadaan.
Setelah menggempur Rebecca habis habisan, Stefan langsung tertidur di samping Rebecca sambil memeluk erat tubuh Rebecca saking capeknya.
"Aku harus segera keluar dari kamar ini," ucap Rebecca.
Dia melihat jam dinding yang ada di kamar Stefan sudah menunjukkan pukul tiga pagi, dengan kesusahan dia memindahkan tangan Stefan yang ada di pinggangnya dengan perlahan agar tidak membangunkan Stefan, dan setelah itu dia beranjak pergi dari sana.
"Aww, ini sakit banget," ringis Rebecca saat mulai berjalan menjauh dari ranjang.
Saking sakitnya sampai sampai Rebecca mau tumbang jika saja dia tidak berpegangan pada ujung meja yang ada di sebelah ranjang.
"Dia tampan banget," puji Rebecca tanpa sadar saat dia tak sengaja menatap wajah Stefan sebelum dia mulai berjalan perlahan lagi.
"Astaga apa yang lu katakan Becca, dia itu pria gila yang sudah membuat mu tersiksa," lanjut Rebecca saat tersadar dari apa yang dia katakan.
Tak mau memandangi Stefan lama lama lagi, Rebecca pun akhirnya keluar dari kamar Stefan dengan langkah pelan sambil menahan rasa sakit di bagian bawah.
Sampai di kamarnya Rebecca langsung membersihkan tubuhnya dan setelah itu dia langsung pergi tidur.
__ADS_1
Tak ada drama drama menangis lagi dalam kamus Rebecca, semua sudah terjadi toh Stefan juga suaminya jadi tidak ada yang salah, jadi Rebecca menerima semuanya dengan lapang dada.
Entah apa yang akan terjadi di esok hari biarlah itu menjadi urusan besok, yang pasti sekarang Rebecca harus mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.
...**...
Keesokkan paginya, karena hari ini hari Minggu jadi di dalam mansion belum ada aktivitas dari sang pemilik rumah.
Biasanya ada Rebecca yang siap siap berangkat kerja, tapi hari ini entah kenapa Rebecca belum keluar dari kamarnya, mungkin dia cuti, pikir para pelayan yang biasa melihat Rebecca siap siap berangkat kerja.
"Kenapa tuan sama nyonya belum bangun juga, padahal ini sudah siang?" tanya salah satu pelayan kepada temannya.
"Entahlah saya juga tidak tahu," balas yang lainnya.
"Oh iya, apa nona Briel belum bangun?" tanya nya lagi.
"Ah iya aku hampir lupa, biar aku cek dulu di kamarnya," balas temannya yang baru teringat kalau biasanya hari Minggu seperti ini Briel para pelayan yang membangunkannya.
Pelayan pun pergi menuju kamar Briel untuk melihat apakah Briel sudah bangun atau belum.
__ADS_1
...***...