
"Loh loh, kok jadi begini?" mama Brigitta menatap ibu Risma serius.
"Iya kan jeng Brigitta sendiri yang bilang kalau mau menjodohkan rose sama tuan Stefan, jadi ya perjodohan ini harus tetap berlanjut." balas ibu Risma.
"Saya kan cuma bilang mau memperkenalkan Rose sama Stefan saja, saya tidak pernah mengatakan ingin menjodohkan mereka berdua." balas mama Brigitta yang sekarang nada bicara sudah berubah formal.
"Loh kok begitu sih Tan, Tante kok tega sih sama Rose, padahal Rose sudah suka loh sama tuan Stefan." sela Rose.
"Ini bukan tega, tapi mama juga tidak bisa menentukan pasangan untuk kak Stef kalau kak Stef sudah punya pasangan pilihannya." sahut Ica yang sedari tadi diam.
Ica atau Beatrice sudah muak karena sedari tadi melihat kelakuan kedua wanita beda umur itu, apalagi setelah melihat mereka berbicara seperti itu kepada mamanya.
"Kamu tidak usah ikut campur ya, kamu itu bukan apa apanya Stefan." balas Rose menatap tajam Ica.
"Oh jadi seperti ini sifat asli kalian berdua, silahkan kalian angkat kaki dari rumah saya sebelum saya panggilkan satpam untuk menyeret kalian pergi dari sini." usir mama Brigitta yang sudah muak melihat sifat asli teman arisan dan juga anaknya itu.
"Tante, Tante kok usir kita sih." ucap Rose dengan wajah sedunya berharap kalau mama Brigitta akan kasian kepadanya.
"Sudahlah kau gak usah banyak drama, kalau mama bilang pergi ya pergi." Ica kembali mengulang ucapan mama Brigitta mengusir kedua manusia rubah itu dari rumahnya.
"Jeng, saya bisa menyebarkan berita pengusiran ini di grup sosialita, saya tidak terima dengan perlakuan ini." ancam ibu Risma.
"Silahkan saya malah dengan senang hati keluar dari grup yang tak berfaedah itu." balas mama Brigitta.
"Ma gimana ini." bisik Rose yang duduk di samping ibu Risma.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, untuk sekarang kita mengalah dulu, kita akan memikirkan cara yang lain untuk bisa masuk di keluarga ini." balas ibu Risma berbisik juga.
"Apakah kalian sedang merencanakan sesuatu karena sudah merasa gagal dalam rencana kali ini." ucap Ica dengan pedasnya.
"Saya sama anak saya bakal pergi dari sini, tapi ingat ya jeng, saya tidak terima dengan perlakuan ini." ucap ibu Risma sambil membetulkan tatapan sinis kepada Ica yang sudah berani membicarakannya tadi.
"Silahkan, saya tidak suka dengan orang orang seperti kalian yang sangat tidak bermoral seperti ini." balas mama Brigitta.
"Ayo sayang kita pergi dari sini, tempat ini baru saja kedatangan kuman yang sangat menjijikkan." ajak ibu Risma kepada Rose sambil melirik sinis Rebecca.
Mereka berdua pun langsung pergi, Rebecca yang sedari tadi diam pun bernafas lega. Dia bukannya takut kepada mereka berdua, tapi dia takut kalau sampai dia keceplosan kalau dia di sini hanya pasangan pura pura Stefan.
"Kamu jangan dengerin ucapan mereka ya, mama sangat menyesal karena sudah mengenal mereka." ucap mama Brigitta mengelus lengan Rebecca.
"Iya ma." balas Rebecca.
"Loh kakak gak nginap di sini?" tanya Ica kepada Stefan.
"Tidak lain kali saja, nanti kalau Briel bangun bilang suruh tidur di sini saja, besok pagi antar dia pulang karena dia harus sekolah." balas Stefan kepada adik iparnya itu.
"Kenapa kamu gak nginap di sini saja sih, mama kan masih pengen ngobrol ngobrol sama Rebecca, iya kan sayang?" mama Brigitta menatap Rebecca.
"Iii...."
Ah Rebecca jadi bingung ini harus bagiamana, mengiyakan nanti salah di mata Stefan, tapi kalau dia menolak nanti mama Brigitta malah berfikir kalau dia tidak menyukai keluarga Stefan.
__ADS_1
"Ayolah kak, emang kakak gak mau memperkenalkan lebih dalam lagi calon kakak ipar aku?" ucap Ica memelas kepada Stefan.
Ica memang sangat dekat dengan Stefan, karena Stefan yang memang tidak mempunyai adik jadi dia menyayangi Ica seperti adiknya sendiri.
"Apakah kamu menerimanya?" balas Stefan bertanya apakah Ica bisa menerima Rebecca atau tidak.
Karena seingat Stefan tadi waktu baru sampai di sana Ica terlihat sangat acuh kepada Rebecca.
"Apakah kakak ipar lupa bagaimana sikap istri tercintaku ini." balas Nino yang sedari tadi diam.
"Ah iya aku lupa."
Stefan ingat, Ica akan menunjukkan sikap juteknya saat bertemu orang baru, itu bukan berarti dia tidak menyukai orang itu, tapi itu dia gunakan untuk mengetes sikap dan perilaku orang itu baik atau tidak.
"Sudah pokoknya mama mau kamu sama Rebecca menginap di sini titik, lagian kamu emang gak takut kalau nanti tengah malam Briel cari kamu." keputusan mama Brigitta yang tak bisa di bantah.
"Huh, baiklah." ngalah Stefan dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kamu mau kan nginap di sini, orang tua kamu gak nyariin kan?" tanya mama Brigitta kepada Rebecca.
"Iya ma, Rebecca sudah tidak punya orang tua." balas Rebecca.
"Ah maaf sayang, mama pasti sudah menyakiti perasaan kamu, kamu tenang saja kamu bisa anggap mama seperti mama kamu sendiri kok." mama Brigitta jadi merasa bersalah kepada Rebecca.
"Iya ma terimakasih." balas Rebecca senang karena akhirnya dia bisa mempunyai orang tua kembali.
__ADS_1
...***...