
Rebecca bekerja dengan baik, teman teman kerjanya juga begitu baik kepada Rebecca meskipun Rebecca termasuk dalam kategori pegawai baru, tapi mereka menghormati Rebecca seperti pada umumnya para karyawan yang lainnya juga.
"Kamu kemaren pulang jam berapa bec?" tanya Yuri saat tidak ada pembeli.
"Emm jam berapa ya, lupa aku gak lihat jam, pokoknya udah malam banget lah," jawab Rebecca.
"Tapi ada kan grab yang menerima orderan kamu?" tanya Yuri lagi.
"A-ada kok," balas Rebecca bohong.
"Aduh sorry ya aku udah bohong, soalnya kalau aku jujur pulang bareng pak Gilang nanti kamu malah bilang sama yang lain, trus mereka pada gosipin aku," batin Rebecca yang merasa bersalah karena sudah membohongi Yuri.
"Syukur deh kalau gitu, aku sempat khawatir sama kamu, takut kalau gak ada grab yang terima orderan kamu," balas Yuri.
"Terimakasih ya sudah khawatirkan aku, aku gak nyangka kalau di tempat kerja aku yang baru aku bisa bertemu orang sebaik kamu," ucap Rebecca yang merasa terharu karena sudah mendapatkan teman sebaik dan seperhatian Yuri.
"Kamu ngomong apaan sih, kita ini kan teman satu kerjaan, jadi ya harus baik satu sama lain," balas Yuri.
"Pokoknya aku seneng banget deh bisa kenal sama kamu di sini," balas Rebecca.
"Aku juga senang bisa bertemu sama orang asik seperti kamu," balas Yuri.
__ADS_1
"Permisi mbak mau pesan...."
Saat tengah asik ngobrol mereka sampai tidak menyadari kalau ada konsumen yang datang.
"Ehh nanti lanjut lagi, ada pembeli," ucap Yuri mengakhiri pembicaraan mereka sebelum mereka kembali fokus bekerja melayani pembeli dengan baik.
...**...
Sementara itu, di tempat Stefan dia sudah sampai di perusahaan. Sedari tadi dia hanya diam saja entah kenapa, bahkan Julian yang sedari tadi ada di sana saja tidak di anggap keberadaan nya.
Entah apa yang tengah Stefan pikirkan sampai sampai dia harus mengepalkan tangannya seperti tengah bersiap untuk menonjok wajah seseorang.
"Tuan," pangil Julian tapi tak ada sahutan dari Stefan, padahal sudah jelas jelas Julian ada di depannya.
Masih diam, Stefan tak memberikan respon apapun dari ucapan Julian.
"Untung saya di gaji gede di sini, mungkin kalau tidak saya udah dari dulu resign dari nih perusahaan," gumam Julian.
Meskipun mendengarnya, tapi Stefan tidak menghiraukan satu kata pun yang Julian katakan.
"Sabar sabar, anak sabar di sayang emak," lanjut Julian.
__ADS_1
"Ehh, tapi kan saya gak ada emak," lanjut Julian setelah menyadari kalau dia tidak mempunyai kedua orang tua.
"DIAM." Stefan yang mulai merasakan terganggu menyuruh Julian agar diam dan tidak berisik karena itu mengganggu dirinya.
"Ma-maaf tuan," balas Julian.
"Keluar," usir Stefan agar Julian pergi meninggalkan ruangannya.
"Tapi tuan...."
"Saya bilang keluar itu ya keluar," gertak Stefan dan langsung membuat Julian pergi meninggalkan ruangan Stefan sebelum dia kena amukan dari Stefan.
"AAGRRRR."
Pranggg.
Pot bunga yang terbuat dari gelas itu pun hancur lebur tak berbentuk di sudut pojok sana.
Julian yang mendengar itu sebenarnya merasa panik, tapi dia juga takut kalau harus memaksakan masuk, Julian takut kalau dia yang akan menjadi santapan Stefan yang tengah mengamuk.
"Semoga saja tuan Stefan gak ngelakuin hal yang aneh aneh," doa Julian agar bos nya itu tidak melakukan hal yang lebih gila lagi.
__ADS_1
...***...