
Keesokan paginya, Rebecca sudah bersiap hendak pergi ke perusahaan Cassano company. Rebecca pun keluar dari dalam kontrakannya setelah memastikan penampakannya sudah siap.
"Pagi beb." sapa Pricilia kepada Rebecca yang baru keluar dari pintu kontrakannya.
"Pagi juga beb." balas Rebecca sambil mengunci pintu kontrakannya.
"Lo gak kerja?" tanya Rebecca menatap sahabatnya yang masih mengenakan pakaian tidurnya.
"Kerjalah, tapi berangkatnya nanti agak siangan." balas Pricillia.
"Oh gitu, ya udah gw duluan ya, keburu siang soalnya." pamit Rebecca.
"Oke, hati hati di jalan, semangat kerjanya." balas Pricillia memberikan semangat kepada Rebecca di balas acungan jempol oleh Rebecca yang sudah mulai berjalan keluar dari area kontrakan.
Setelah itu Pricillia pun pergi ke kontrakannya dan bersiap untuk berangkat juga, meskipun dia berangkat siang tapi Pricillia itu termasuk dalam sekte orang yang paling lama dalam menyiapkan penampilannya.
...**...
Rebecca sampai di perusahaan Cassano company dan langsung masuk menuju tempatnya bekerja. Sampai di sana dia belum melihat adanya Stefan dan juga Julian di tempatnya, tak mau ambil pusing Rebecca segera mengisi daftar hadir dan setelah selesai dia langsung menyalakan laptop miliknya untuk menyiapkan jadwal Stefan hari ini.
__ADS_1
Tak tak tak.
Tak berapa lama setelah Rebecca menyelesaikan membuat jadwal kerja Stefan, terdengar beberapa langkah kaki mendekat ke arahnya, Rebecca pun mendongakkan kepalanya dan melihat ada Stefan dan juga Julian yang baru saja tiba di sana.
"Selamat pagi tuan Stefan, asisten Julian." Rebecca menundukkan kepalanya menyapa mereka berdua.
"Pagi juga becca." balas Julian, sedangkan Stefan hanya diam saja.
"Bawa jadwalku hari ini ke ruangan ku." perintah Stefan dan setelah itu dia langsung pergi masuk ke dalam ruangannya.
"Hufft...." Rebecca menghela nafasnya, masih pagi juga sudah di perintah perintah seperti ini.
"Sabar, perjuanganmu masih panjang." setelah mengatakan itu, Julian langsung masuk ke dalam ruangannya.
Untung saja tadi Rebecca sudah selesai mengerjakannya, mungkin kalau belum dia akan langsung kelabakan.
Tok tok tok.
"Permisi tuan." ucap Rebecca setelah mengetuk pintu yang memang sudah terbuka sendiri.
__ADS_1
"Hmm, masuk." balas Stefan mempersilahkan Rebecca untuk masuk.
"Tutup pintunya kembali." perintah Stefan saat Rebecca sudah masuk ke dalam ruangannya.
Rebecca pun langsung menjalankan perintah Stefan, meskipun dalam hatinya dia bertanya tanya apakah ada sesuatu yang penting ingin Stefan katakan kepadanya, kok sampai dia di suruh menutup pintu.
"Ini jadwal anda tuan." Rebecca menyerahkan tablet yang di dalamnya ada jadwal kerja Stefan.
"Bacakan." suruh Stefan membuat tangan Rebecca kembali mengambil tablet itu dan segera membacakan jadwal Stefan hari ini.
"Pagi ini anda tidak kemana-mana, nanti jam sembilan baru ada pertemuan dengan klien yang berasal dari Amerika, dan setelah itu anda...." Rebecca membacakan jadwal kerja Stefan hingga akhir.
Stefan hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang Rebecca katakan.
"Emm... soal yang kemaren di restoran, aku sudah memikirkannya apa yang harus kau lakukan sebagai gantinya." ucap Stefan tiba tiba dan itu membuat jantung Rebecca berdetak tak beraturan karena takut apa yang akan Stefan pinta darinya.
"A-apa itu tuan?" tanya Rebecca setengah gagap.
"Cukup mudah, temani aku makan malam hari ini di rumah nenek Briel." jawab Stefan santai.
__ADS_1
Apa dia kata, mudah? Mudah dasmu itu. pikir Rebecca.
...***...