
"Nah kalau gini kan cantik." ucap Rebecca setelah membersihkan air mata Briel.
"Makasih Tante cantik." ujar Briel sambil tersenyum manis.
"Sama sama Briel cantik." balas Rebecca.
"Briel sini sama papi, kamu juga ngapain main nyelonong masuk ke ruangan saya tanpa ijin." ucap Stefan mau mengambil Briel dari gendongan Rebecca.
"Gak mau, Bliel gak mau sama papi. Bliel malah sama papi." tolak Briel mengalungkan tangannya di leher Rebecca.
"Sudah tuan kasian Brielnya nanti nangis lagi. Saya tadi mau mengantar berkas buat minta tanda tangan tuan, tapi waktu saya ketuk pintu beberapa kali tidak ada jawaban dari dalam jadi saya memutuskan untuk langsung masuk saja."
"Ya udah lah terserah kamu, sekarang mana berkasnya?" tanya Stefan.
Rebecca mengarahkan pandangannya ke lantai di mana ada berkas yang berceceran di sana. Stefan mengikuti arah pandangan Rebecca.
"Aish... merepotkan saja." decak Stefan dan mengambil berkas yang ada di lantai itu.
"Tante Tante, ayo temani Bliel main." rengek Briel setelah papinya pergi ke meja kerjanya.
"Briel..." tekan Stefan memangil anaknya.
"Mau ya Tante, nanti Bliel tlaktil es klim." ucap Briel lagi mengabaikan Stefan.
"Hufft...dasar keras kepala." gumam Stefan yang masih di dengar oleh Rebecca.
"Lah, apa bedanya dengan anda tuan." batin Rebecca, mana mungkin Rebecca berani ngomong langsung, bisa di kek dia.
"Briel sayang, nanti saja ya mainnya. Kan Tante harus kerja dulu, nanti kalau jam istirahat kita main sama sama ya." ujar Rebecca memberi pengertian pada Briel.
"Tapi Bliel maunya sekalang." rengek Briel yang matanya sudah berkaca-kaca lagi.
"Nanti ya, nanti sekalian kita cari makan siang gimana."
"Huuwaaaa..." tuh kan nangis lagi.
"Loh kok nangis lagi, cup cup cup." Rebecca menengkan Briel.
"Huuwaaaa ayo main Tante Huuwaaaa..."
"Kamu apakah anak saya, Hah." marah Stefan melihat anaknya yang nangis lagi.
Stefan menghampiri Rebecca yang tengah mengendong Briel yang tengah menangis.
"Sini sama papi." ajak Stefan, tapi Briel menolaknya.
"Gak mau papi jahat, papi gak bolehin tante main sama Bliel. Papi jahat... Huuwaaaa..."
Lah kok malah Stefan yang di salahkan, perasaan dia tadi hanya diam saja.
"Kok papi yang di marahin, kan papi diam aja."
"Udah tuan jangan di ajak bicara Brielnya." sangah Rebecca.
__ADS_1
Hiks hiks hiks...
Sesenggukan Briel dalam gendongan Rebecca.
"Hufft...ya udah sana kamu temani anak saya main, sekalian ajak dia makan siang." putus Stefan memberikan ijin pada Rebecca, dari pada tangis anaknya gak berhenti berhenti.
"Benelan papi hiks?" tanya Briel semangat.
"Iya beneran, tapi janji dulu gak boleh marah sama papi ya.."
"Iya papi, Bliel hiks sayang papi."
"Papi juga sayang Briel. Udah sana kamu ajak Briel jalan jalan pakai mobil saya, kamu bisa nyetir kan?"
"Iya tuan saya bisa."
"Ya udah ini kuncinya, dan kamu pakai ini nanti." memberikan kunci mobil sekaligus black card pada Rebecca.
"Gak usah tuan, pakai uang saya aja." tolak Rebecca, mana mungkin dia berani memegang kartu itu, itu kan kartunya para sultan.
"Kamu berani bantah saya, sekalian kalau kamu mau beli pakai itu aja, saya gak mau hutang Budi sama kamu."
"Maaf tuan."
"Papi kok malah malah sih sama Tante cantik, Bliel gak suka." marah Briel pada papinya.
"Enggak Briel, papi Briel bukannya marah tapi papinya Briel lagi maksa Tante agar mau pakai kartu ini." ucap Rebecca.
"Kalau gitu kami pamit pergi dulu tuan."
"Hmm, hati hati jagain anak saya, kalau sampai nanti pulang ada yang lecet habis kamu."
"Iya tuan."
"Dadaahh papi." sambil melambaikan tangannya pada Stefan.
"Dadaahh juga sayang." balas Stefan melambaikan tangannya juga.
"Hufft... punya anak satu keras kepala banget." gumam Stefan dan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan tanda tangan berkas yang Rebecca bawa tadi.
-
Rebecca membawa mobil Stefan meninggalkan perusahaan Cassano Company bersama Briel di sampingnya.
"Kita mau kemana Tante?" tanya Briel.
"Briel maunya kemana hmm?" balik tanya Rebecca.
"Eemmmm...kemana ya... Bliel bingung." jawab Briel sambil nyengir.
"Aduh Tante gemas banget sih, jadi pengen makan pipi kamu ini." mencubit salah satu pipi Briel.
"Iiiih Tante sakit tauk." memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Atututu sakit ya, maaf ya."
Mereka terus berbicara banyak hal sambil tertawa, hati Briel sangat senang saat ini karena bersama Rebecca. Begitupun Rebecca, entah mengapa dia merasa sangat dekat banget sama Briel, seperti pernah ketemu sebelumnya.
-
Karena bingung mau membawa Briel main ke mana, akhirnya Rebecca memutuskan untuk membawa Briel ke padepokan abah Ramli. Biar nanti di sana Briel main sama anak anak yang sedang latihan silat, sekaligus dia juga udah kangen pakai banget dengan abah Ramli dan si cantik.
"Kita mau kemana Tante?" tanya Briel di tengah perjalanan.
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu. Nanti pokoknya di sana Briel punya temen main yang banyak." jawab Rebecca.
"Benelan Tante?"
"Iya dong, Briel suka gak?"
"Suka banget Tante, Bliel kan selama gak punya temen main. Papa selalu lalang Bliel buat main di lual." jawab Briel yang membuat Rebecca tersenyum kecut.
Memang enak jadi anak orang kaya, mau apa apa tinggal minta langsung di belikan. Tapi mereka di larang ini itu bahkan bermain di luar sama teman pun di larang.
"Nanti Briel kalau mau main bilang aja ya sama Tante, biar Tante temani Briel main."
"Makasih Tante cantik, Bliel sayang Tante."
"Tante juga sayang Briel." balas Rebecca.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mobil Stefan yang di kendarai Rebecca sampai juga di padepokan abah Ramli. Rebecca mengendong Briel keluar dari mobil.
"Ini di mana Tante?" tanya Briel saat menatap bangunan rumah kuno jaman dulu.
"Kita masuk dulu yuk." ucap Rebecca membawa Briel masuk ke dalam rumah itu.
Saat masuk rumah itu keadaannya sepi, tapi terdengar suara seperti orang latihan dari belakang rumah itu. Rebecca pun berjalan menuju pintu belakang rumah dan keluar, di sana ada sebuah latar yang sangat luas dengan beberapa pepohonan yang rindang dan juga terdapat beberapa pondok serta rumah kecil kecil di sana.
"Hak." suara dari anak anak yang tengah latihan silat.
"Itu kakak kakaknya lagi ngapain Tante?" tanya Briel heran.
"Itu mereka lagi latihan silat." jawab Rebecca.
"Silat itu apa Tante?" tanya Briel lagi.
"Silat itu salah satu cabang bela diri, Briel mau coba?"
"Iya Bliel mau coba kayak gitu. Hak." antusias Briel dan menirukan suara anak anak yang lagi latihan silat.
"Tapi gak sekarang ya, kan Briel belum punya bajunya, nanti Tante pesanin dulu, sekalian Tante daftarin Briel."
"Makasih Tante cantik." Briel memeluk leher Rebecca.
"Sama sama sayangnya Tante." balas Rebecca.
...***...
__ADS_1