
Rebecca sudah selesai memasak, dia segera pergi menuju ruang kerja Stefan untuk menemui Rebecca.
Tok tok tok.
"Masuk," balas Stefan dari dalam ruangannya.
Ceklek.
"Mommy...." baru juga membuka pintu, Rebecca sudah di sambut oleh suara Briel.
Briel berlari menghampiri Rebecca, dan Rebecca yang melihat itupun mempercepat langkahnya agar cepat menangkap tubuh Briel.
"Briel jangan lari lari sayang," peringat Stefan tapi tak Briel hiraukan.
"Mommy, mommy kemana saja, Bliel caliin mommy dali tadi," ucap Briel saat sudah berada di dalam pelukan Rebecca.
"Maaf ya sayang, tadi mommy ada pekerjaan yang tidak bisa mommy tinggalkan, maaf kalau mommy tadi tidak menjemput Briel ya," balas Rebecca meminta maaf, sambil matanya melirik ke arah Stefan yang tengah menatap dirinya tajam.
"Iya mommy Bliel ngerti kok, tapi lain kali kalau mommy ada pekerjaan mommy bilang ya sama Bliel, bial Bliel gak nungguin mommy lama," balas Briel melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rebecca.
"Iya sayang mommy janji," balas Rebecca membalas tatapan Briel dengan penuh cinta.
"Anak mommy udah mandi belum?" tanya Rebecca mengalihkan pembicaraan sambil mengelus rambut Briel.
__ADS_1
"Belum mommy, Bliel tadi nungguin mommy," jawab Briel.
"Ya sudah kita mandi dulu ya, sana pamit sama papi," ajak Rebecca.
"Papi Bliel mandi sama mommy dulu ya," pamit Briel pada Stefan yang tengah menatap mereka dari kursi kerjanya.
"Iya sayang," balas Stefan lembut.
"Aku mandiin Briel dulu mas," pamit Rebecca pada Stefan.
"Hmm," balas Stefan cuek.
"Yuk," mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang kerja Stefan menuju kamar Briel.
"Stefan pun segera menghubungi asistennya agar segera memasang cctv tersembunyi yang tidak di ketahui oleh Rebecca ataupun pelayan yang bekerja di mansion nya.
Setelah selesai, dia juga pergi meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar untuk membersihkan diri karena hari sudah menjelang gelap.
...**...
Malam harinya, selesai makan malam dan membantu Briel belajar, Stefan menyuruh Rebecca untuk datang ke ruangan kerjanya lagi, entah apa yang akan dia bicarakan dengan Rebecca.
"Selamat malam mas, maaf lama," ucap Rebecca saat memasuki ruangan kerja Stefan.
__ADS_1
"Hmm silahkan duduk," balas Stefan mempersilahkan Rebecca duduk di depannya.
"Kamu tahu kenapa saya menyuruh kamu ke sini lagi?" tanya Stefan dan di balas gelengan kepala oleh Rebecca karena memang Rebecca tidak tahu.
"Saya ingin kamu fokus di rumah menjaga Briel," lanjut Stefan.
"Maksud kamu saya harus selalu ada di samping Briel?" balas Rebecca bertanya.
"Ya," balas Stefan.
"Maaf tuan, tapi saya ada kesibukan yang lainnya juga kalau di jam jam kerja," balas Rebecca karena dia memang ada keinginan mencari pekerjaan baru.
"Kesibukan? Emang kamu ada kesibukan apa lagi, saya sudah memecatmu dari perusahaan, jadi kesibukan apa lagi yang kemu kerjakan?" tanya Stefan dengan tatapan meremehkan.
"Benar anda sudah memecat saya, tetapi saya akan mencari pekerjaan di tempat lain," balas Rebecca.
"Kerja apa, jual diri atau jadi jal*ng nya Om om," lagi dan lagi Stefan menghina Rebecca.
Rebecca diam, hatinya sangat sakit di saat Stefan menghina dirinya lagi, apakah di mata Stefan dirinya serendah itu, pikir Rebecca.
"Kenapa diam, benar apa yang saya bilang? Emang mereka membayarmu berapa hmm, saya bakal bayar kamu dua kali lipat dari mereka, bagaimana, kamu pasti pilih bekerja dengan saya kan mengurus Briel, saya yakin kamu butuh uang banyak untuk memoles tubuhmu itu," lanjut Stefan dengan tatapan seolah tengah menilai penampilan Rebecca.
"STOP MAS, CUKUP."
__ADS_1
...***...