
Pagi hari pun tiba, Rebecca bangun terlebih dulu dari pada Stefan, sebelum beranjak dari tempat tidur Rebecca memanfaatkan waktu untuk memandangi wajah tampan Stefan yang masih tertidur nyenyak.
"Kamu ganteng banget sih, beruntung banget aku bisa mendapatkan kamu, tapi akan lebih beruntung lagi kalau aku bisa mendapatkan hati kamu juga." gumam Rebecca dengan suara yang lirih agar tidak mengganggu tidur Stefan.
Setelah merasa puas, Rebecca pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan setelah itu dia berlalu pergi ke dapur untuk memasak makanan buat sarapan pagi mereka.
"Selamat pagi bi." sapa Rebecca kepada pembantu yang kebetulan ada di dapur.
"Selamat pagi juga nyonya." balas pembantu itu.
"Nama bibi siapa biar nanti aku enak memanggilnya?" tanya Rebecca yang memang belum mengetahui nama nama orang orang yang ada di dalam rumah Stefan.
"Nama saya ijah nyonya." jawab pembantu itu yang ternyata bernama bi Ijah.
"Salam kenal ya bi Ijah," balas Rebecca ramah.
__ADS_1
"Iya nyonya, salam kenal juga. Saya seneng tuan Stefan bisa mendapatkan istri yang baik seperti anda." balas bi Ijah memuji Rebecca.
"Bibi bisa aja, saya orangnya biasa aja kok gak baik baik banget."
"Tidak nyonya, saya melihat anda itu orang yang berbeda, anda itu sangat baik buktinya mau menyapa pelayan seperti saya."
"Itu bukan hal yang luar biasa bi, bukannya kita sama sama manusia jadi harus saling menyapa satu sama lain." balas Rebecca merendah.
"Itu yang saya suka nona, sangat jarang nyonya besar menyapa pembantu seperti saya nyah," balas bi Ijah.
"Aku sama kok seperti kalian, aku juga bukan orang kaya, yang kaya itukah mas Stefan." balas Rebecca.
"Mungkin hanya sebagian orang saya bi, tidak semuanya begitu."
"Oh iya ini bi Ijah mau masak apa, ada yang perlu aku bantu gak bi?" lanjut Rebecca bertanya.
__ADS_1
"Ini saya mau masak makanan kesukaan tuan sama nona kecil nyah, tidak usah nyah nanti saya di marahin tuan kalau tahu nyonya ada di dapur." balas bi Ijah melarang Rebecca untuk membantunya di dapur.
"Wah benarkah ini masakan mas Stef sama Briel, kalau begitu aku mau bantuin aja bi biar nanti aku bisa masakin mereka. Udah bibi gak usah takut mas Stefan tidak akan marah kok." Rebecca mulai memegang sayuran yang ada di sana.
"Ini belum di cuci kan bi?" tanya Rebecca.
"Belum nyah, biar saya saja yang cuci nyonya yang potong potong saja, nanti baju nyonya kotor." bi Ijah melarang Rebecca untuk mencuci sayuran karena takut kalau nanti pakaian Rebecca kotor.
"Gak papa bi, lagian aku juga belum mandi." balas Rebecca dan mulai mencuci sayuran itu.
Bi ijah pun menyerah, percuma dia melarang Rebecca karena Rebecca pasti akan tetap kekeh melakukan pekerjaannya.
Tapi di sisi lain dia juga senang karena tuannya bisa mendapatkan istri sebaik Rebecca.
"Tuan Stefan emang gak pernah salah kalau pilih istri, pasti nona kecil akan sangat bahagia kalau mempunyai mama seperti nyonya Rebecca." batin bi Ijah sambil menatap Rebecca.
__ADS_1
Bi Ijah pun membuat bumbu bumbu sedangkan Rebecca selesai mencuci sayuran dia langsung memotongnya.
...***...