
Sementara itu, di perusahaan Stefan tengah kelimpungan menangani pekerjaan nya karena tidak ada sekertaris yang membantu dirinya.
Semenjak dia memecat Rebecca dari perusahaan, dia melarang Julian mencari sekertaris baru, karena Stefan pikir dirinya mampu menangani semua pekerjaan dengan hanya bantuan Julian saja.
Tapi nyatanya di saat seperti ini dia sangat banyak pekerjaan dan Julian juga tengah dia tugaskan ke luar kota untuk meninjau proyek yang tengah mereka kerjakan, sehingga saat ini Stefan tidak ada yang membantunya.
"Aah kenapa ini gak selesai selesai sih dari s
tadi," kesal Stefan karena merasa pekerjaannya bukannya berkurang tapi malah semakin bertambah.
"Coba ada Rebecca di sini, pasti pekerjaan ku gak akan sebanyak ini," lanjut Stefan tanpa sadar membutuhkan Rebecca.
"Apa cari sekertaris baru aja ya, ah tapi nanti malah berkhianat lagi," bingung Stefan.
Stefan mengambil handphonenya, dan dia segera menghubungi Julian untuk menanyakan kapan kah Julian akan pulang.
"Halo tuan," sapa Julian melalui sambungan telfon.
__ADS_1
"Kapan pulang?" tanya Stefan to the poin.
"Kenapa tuan menanyakan saya, apa tuan sangat merindukan seorang Julian yang tampa ini?" pede Julian.
"Kapan pulang?" ulang Stefan lagi, kali ini dengan nada yang lebih dingin.
"Ehh iya tuan, sepertinya saya akan kembali ke Jakarta tiga hari lagi tuan, karena di sini ada sebuah masalah yang di buat oleh para pekerja proyek," jawab Julian yang sudah berubah ke mode serius karena takut dengan Stefan.
"Cepat kembali, saya keteteran tidak ada kamu di sini," balas Stefan dan langsung mematikan sambungan telfon tanpa berpamitan dulu kepada Julian.
"Baik tuan, saya akan segera kembali ke Jakarta, apa tuan nanti ingin saya carikan sekertaris baru?" tanya Julian dari sebrang sana yang belum menyadari kalau sambungan telfon sudah Stefan matikan.
"Lah udah mati aja, dasar bos main seenak jidatnya aja matikan telfon tanpa pamit," grutu Julian yang sudah sadar kalau sambungan telfon sudah berakhir.
Julian pun kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya dan langsung kembali mengerjakan pekerjaannya.
...**...
__ADS_1
Rebecca sudah menjemput Briel dari sekolah, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mansion Stefan.
"Terimakasih mommy sudah mau menjemput Bliel sekolah," ucap Briel berterimakasih pada Rebecca.
"Itu sudah menjadi tugas mommy sayang, mommy minta maaf ya karena tidak bisa antar jemput Briel seperti dulu lagi," balas Rebecca yang merasa bersalah karena belum bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Briel.
"Mommy gak ada salah, mommy gak perlu minta maaf sama Bliel, Bliel tahu kok mommy kan sibuk bekerja cari uang untuk Bliel jajan," balas Briel yang sama sekali tidak mempermasalahkan Rebecca yang tidak bisa menjemput dirinya.
Tapi kalau boleh jujur Briel juga sangat iri dengan temen temannya yang tiap hari bisa di antar jemput oleh kedua orang tuanya.
"Anak mommy emang pinter banget sih kalau merayu mommy," gemas Rebecca sambil memeluk Briel erat.
"Iya dong kan mommy yang ngajarin," balas Briel.
"Habis ini sampai rumah Briel langsung mandi trus makan habis itu tidur ya, mommy harus kembali bekerja lagi karena tadi mommy hanya izin buat jemput kamu sekolah saja," ucap Rebecca.
"Maafkan mommy ya," lanjut Rebecca.
__ADS_1
"Iya mommy, mommy gak perlu meminta maaf, Bliel mengerti kok," balas Briel sambil memeluk Rebecca dengan sayang, seperti ibu kandungannya sendiri.
...***...